Mission Statement

What we want to achieve

Mari peduli dengan penyandang disabilitas dan lepra di Indonesia.

Learn more »

Past Event

31 Januari 2011

WORLD LEPROSY DAY 2011.

Be Our Friend

join our community

langthis!
Blog

APAKAH KEJUJURAN ITU MAHAL DI NEGERI INI ? – Pengalaman PENYANDANG DISABILITAS dan KUSTA di Kabupaten CIREBON

Telah terjadi tindakan yg tdk jujur disebuah UPT di Kab cirebon, pada acara Pelatihan yg seharusnya rekan yg terkena dampak dan disabilitas yg harus diundang, tapi yg datang dan diundang HAMPIR disabilitas 100 persen alias hanya 2 penyandang disabilitas.
Dengan pemberian pelatihan juga terkesan asal saja. Pelatihan service elektonik hanya di lakukan selama 3 hari.
Menurut info dari salah seorang yg pernah terlibat di kegiatan tahun lalu. Biasanya kegiatan yg seharusnya seminggu tapi nyatanya hanya 3 hari dgn biaya transport selama 3 hari itu hanya Rp 100.000,-
Coba kalau bener benar *transparan*, tentunya di spanduk kegiatan tertera berapa hari hrs dilakukan, tapi ini tdk ada.
Mohon diberikan solusi yg jelas dari Pemda daerah spt ini dan dampaknya bagi kelangsungan pemberdayaan disabilitas kedepan, kalau begini caranya bagaimana kami yg di Kab Cirebon bisa maju. Salam kami FARHAN dan GPDLI link di Cirebon.
Contact WA kami melalui GPDLI via email di perkumpulanGPDLI@gmail.com
 

KUNJUNGAN KE MEDAN dan sekitarnya di SUMATERA UTARA YANG SANGAT PENTING KALI INI

Beberapa kali kami berkunjung ke Medan dan ada saja hal yang baru kami temukan, STIGMA yang masih teramat tinggi bagi DISABILITAS dan juga KUSTA TIDAK MENYURUTKAN KAMI tetapi membuat kami tetap semangat berkunjung ke daerah yang sangat potensial ini, DENGAN TANAHNYA YANG SUBUR apalagi di sekitar LAU SIMOMO Tanah Karo sekitar 80 KM dari MEDAN. Namun stigma yang masih sangat tinggi membuat mereka sering tidak berkutik dalam membangun dirinya sendiri, keluarga dan komunitasnya. STIGMA yang sering muncul bahkan dari tenaga tenaga kesehatan yang ada disekitar mereka. Entah sampai kapan mereka bertahan, cara berfikir lama baik di petinggi pegawai pemerintah dan komunitas membuat persoalan mereka tetap begitu-begitu sejak berpuluh tahun ini. Sementara kandidat legislator bersuara dengan meraup suara mereka, tetapi hanya jadi OBJEK dan bukan SUBJEK. Saya melihat pemerintah daerah TIDAK TUNTAS menyelesaikan persoalan yang ada, khususnya lagi setelah bencana GUNUNG SINABUNG yang terus menerus bergejolak. SEMOGA TAHUN INI ADA PERBAIKAN, KALAU TIDAK KAMI TERPAKSA MENEMPUH CARA YANG LEBIH BERSUARA dari yang sebelumnya, semoga…

 

PERKAMPUNGAN Lau Simomo yang Masih menimbulkan Masalah Sosial

Kunjungan kami ke Lau Simomo beberapa waktu yang lalu masih menyisakan banyak masalah sampai dengan sekarang ini, masalah sosial stigma yang masih muncul ditengah-tengah masyarakat Karo khususnya dan Sumatera Utara pada umumnya. Warga yang tinggal disini kebanyakan adalah orang yang mengalami kusta, dan sekarang jumlah yang paling banyak adalah rekan rekan kita yang berasal dari Aceh, kampung ini sudah menjadi “safe-place” oleh banyak orang yang mengalami kusta dan disabilitas yang mengenainya, namun perhatian dari saudara-saudara kita di Sumatera Utara, hanya dilakukan kalau ada acara hari besar keagamaan, pemilu, pilkada dlsb. Sungguh tragis kehidupan mereka, hidup dalam keterbatasan walau tanah dimana mereka tinggal tergolong subur, karena lokasinya yang dekat dengan Gunung Sinabung yang meledak-ledak itu.

Pak Togar Hutabarat pemuka masyarakat disana yang juga pernah mengalami kusta berkali-kali mengadvokasi untuk memperhatikan warganya, namun tidak diperhatikan dengan sungguh, surat ke Pak Jokowi sudah dilayangkan beberapa waktu yang lalu, namun belum juga direspon, kami mengharapkan responnya. Copy surat ada bersama dengan saya, begitu juga dengan kontak beliau, semoga kita mendengarnya. Pak Togar bukan siapa siapa, dia hanya rakyat kecil yang sederhana. (Di foto no dua dari kiri gambar).

 

PEMILU DAN DISABILITAS

Pemilu kali ini boleh disebut Pemilu yang paling kompleks, diselenggarakan dengan tingkat kesulitan yang cukup tinggi, dengan situasi dan kondisi sbb, suatu media Inggris, Guardian menulis, “Dengan 192 juta lebih pemilih terdaftar, sekitar 6 juta petugas pemilihan, sekitar 810.000 TPS, dan melibatkan lebih dari 250.000 kandidat yang memperebutkan 20.538 kursi legislatif di empat level perwakilan - hanya dalam waktu 6 jam! - pemilu 17 April lalu merupakan pemilu terbesardan paling kompleks di dunia yang digelar dalam 1 hari !” (Kompas, 22/4/19).

Disabilitas masuk didalam sebagai yang memantau, dengan jumlah pemilih diperkirakan hanya 1 juta orang, dari beberapa juta lagi yang belum masuk di DPT, diperlukan pemutakhiran data menyeluruh dengan sensus khusus disabilitas, menurut SUPAS yang lalu hanya 10 juta orang, tetapi bisa berlipat-lipat kali lebih banyak dari jumlah tersebut, banyak tersembunyi karena diskriminasi dan stigma, semoga di Pemerintahan yang akan datang lebih diperhatikan.

 

Memperingati Hari BIPOLAR Sedunia

Oleh: Olivia Fabrianne, aktivis kesehatan jiwa di Bipolar Care Indonesia.
Hari Bipolar Sedunia jatuh pada tanggal 30 Maret. Untuk merayakannya, sekaligus sebagai langkah dalam memberantas stigma tentang gangguan jiwa khususnya Bipolar, Komunitas Bipolar Care Indonesia membuat acara diskusi dengan tema “Kenali Permasalahan Gangguan Bipolar dan Solusinya” di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia tanggal 30 Maret 2019. Membawa beberapa permasalahan yang dialami penyintas Bipolar, terdapat narasumber yang sesuai dengan bidang permasalahannya, yaitu Psikiater dan perwakilan dari Lembaga Bantuan Hukum Masyarakat.
Ada beberapa permasalahan yang dialami penyintas Bipolar dibahas dalam diskusi ini, yaitu permasalahan bullying, kekerasan fisik/seksual, dan diskriminasi dalam tempat kerja terkait dengan Bipolar yang dialami. Dari kesaksian teman-teman penyintas Bipolar, dapat diketahui bahwa bullying dan kekerasan sangat berpengaruh terhadap kesehatan mental. Seperti contoh pengalaman bullying dan kekerasan yang diceritakan oleh dua penyintas Bipolar, hal tersebut dapat membuat gejala Bipolar yang dialami semakin parah meskipun sekarang sudah tidak mengalami bullying dan kekerasan lagi; Pengalaman tersebut menyisakan trauma yang dapat muncul ketika sedang kambuh. Mereka berharap untuk kedepannya sekolah-sekolah memiliki pelajaran tentang kesehatan mental dan murid diajari tentang bahayanya bullying untuk meningkatkan awareness, serta para pendidik mendapat pelatihan mengenai kesehatan mental sehingga mereka lebih mengerti cara menangani murid yang memiliki masalah kejiwaan dan mencegah pendidik berlaku kasar terhadap murid.
Permasalahan lain yang dibahas dalam diskusi ini adalah diskriminasi dalam tempat kerja. Salah satu penyintas Bipolar yang berprofesi sebagai dokter bercerita bahwa dirinya dikeluarkan dari tempat kerja karena mengalami Bipolar, padahal kinerjanya cukup bagus. Alasan atasannya mengeluarkan dia karena takut akan membahayakan pasien. Perwakilan dari Lembaga Bantuan Hukum Masyarakat, Ricky Gunawan, menjelaskan bahwa orang dengan disabilitas apapun berhak untuk mendapatkan pekerjaan, termasuk menjadi dokter. Tidak ada Undang-Undang yang melarang penyandang disabilitas untuk menjadi dokter. Penyandang disabilitas memiliki hak-hak yang dilindungi oleh Negara melalui Undang-Undang nomor 8 tahun 2016 yang diantaranya adalah hak untuk tidak diskriminasi dan hak untuk bekerja. Jadi, pihak yang melarang penyandang disabilitas mental untuk bekerja termasuk melanggar hak asasi manusia dan dapat dipidanakan.
Harapan saya dengan adanya acara Hari Bipolar Sedunia yang diadakan oleh komunitas Bipolar Care Indonesia, masyarakat dapat lebih aware tentang gangguan mental, stigma mengenai gangguan mental juga dapat dihilangkan, tidak adanya lagi masalah bullying, para penyintas disabilitas mental mengetahui bahwa mereka memiliki hak untuk berkerja dan tidak diskriminasi, serta diskriminasi terhadap penyintas gangguan mental dalam pekerjaan tidak ada lagi.
 

GPDLI MEMBERI PANDANGAN TENTANG PAK JOKOWI DI TKN

Kaum Disabilitas Sampaikan Harapan kepada Jokowi
Lebih dari 50 orang disabilitas berkumpul dan berbincang di Posko Cemara 19, Selasa (5/2/2019). Mereka datang dari wilayah Jabodetabek mewakili kaum disabilitas.
Mereka ke Posko Cemara 19 untuk berdiskusi soal penerapan hak-hak disabilitas dan menyampaikan aspirasi sekaligus berkeluh-kesah tentang isu-isu terkini.
Diskusi bertajuk Suara Penyandang Disabilitas Nasional itu berlangsung selama empat jam. Ada tiga materi utama yang mereka bahas, yakni soal isu pendidikan, ketenagakerjaan, dan kesehatan bagi penyandang disabilitas.
Pembicara pada diskusi itu Sunarman Sukamto staf Kantor Staf Presiden Bidang Polhuhamkam dan Nuah P Tarigan Ketua Gerakan Peduli Disabilitas (GPD).
Diskusi berlangsung seru dan tanya jawab antarpeserta dan pemantik diskusi sampai harus diperingatkan berkali-kali lantaran waktu habis. Seru.
“Masih banyak kepala sekolah dan pendidik yang belum bisa bahasa isyarat, sehingga membuat peserta didik penyandang disabilitas kesulitan berkomunikasi,” ujar salah seorang peserta.
Keluh kesah seperti ini diamini oleh kebanyakan peserta. Tetangga dan kerabat mereka yang juga menyandang disabilitas, seperti tunarungu dan tunawicara, kerap kali terhambat pendidikannya.
Sunarman berusaha menjelaskan masalah ini. Dia tak mau memungkiri fakta tersebut banyak terjadi di lapangan. Begitu juga dengan Nuah, dia menyebut masyarakat umum masih melekatkan stigma tak berdaya kepada kaum disabilitas.
“Ini adalah masalah klasik. Sejak zaman dulu sampai sekarang masih saja terjadi, tapi beruntunglah di era Jokowi ini sudah sangat berkurang. Masyarakat harus mengubah sudut pandangnya. Dari cara pandang kasihan atau mengasihani menuju kesetaraan hak,” ungkap Nuah.
Nuah segera melanjutkan pernyataan itu. Dia menyebut, dengan perspektif baru ini tugas pemerintah dipastikan tidak akan lagi mudah. Butuh dukungan semua pihak, termasuk para penyandang disabilitas sendiri.
“Dari sekedar mengasihani menjadi penyetaraan hak ini akan mengangkat harkat hidup kita semua sebagai penyandang disabilitas. Artinya bisa dibilang tugas negara makin berat, karena negara harus mampu memberikan hak-hak kemanusiaan kepada kita semua. Mulai dari pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, dan lain sebagainya,” tuturnya.
Perspektif baru itu akan mengantarkan dunia pendidikan Indonesia ke arah yang lebih inklusif. Artinya, setiap sekolah harus bisa menjadikan dirinya ramah penyandang disabilitas.
Berdampingan dengan hal itu, artinya juga setiap guru harus bisa bahasa isyarat. “Ini akan menghapus stigma terhadap penyandang disabilitas,” kata Nuah.
Sunarman menyambut aspirasi para penyandang disabilitas ini dengan semangat. Dia menyatakan hal-hal yang diungkapkan peserta diskusi memang benar adanya. Sunarman tidak memungkiri hal tersebut.
“Ini adalah tantangan kita. Saya pikir ini adalah aspirasi yang bagus yang bisa saya sampaikan di KSP. Bagaimana mengajar anak dengan berbagai kebutuhan khusus adalah tantangan besar. Memang beberapa sekolah sudah didapuk menjadi sekolah inklusif, tetapi tenaga pendidiknya perlu di-upgrade. Agar menguasai kemampuan teknis sehingga bisa membimbing anak-anak difabel,” tuturnya.
Selain itu, dia juga mengomentari soal sarana dan prasarana pendidikan inklusif. Sunarman menyatakan, pemerintah telah memberikan anggaran untuk mendukung sekolah inklusif.
Selain itu, malah banyak sekolah yang mendapuk diri sebagai sekolah inklusif meski tak mendapat dukungan anggaran.
“Artinya kesadaran semakin meningkat. Supporting financial memang ada. Tapi faktanya, itu belum cukup. Para pendidik harus punya kapasitas yang bagus untuk mendukung kebijakan ini,” tutur pria penyandang disabilitas yang pernah menjadi  Direktur Pusat Pengembangan dan Pelatihan Rehabilitasi Bersumberdaya Masyarakat (PPRBM) Solo itu.
Nuah menekankan sekali lagi pentingnya keterlibatan para penyandang disabilitas. Sebab, untuk mendapatkan hak kesetaraan yang sudah diatur negara, mereka harus berani bersuara.
Kaum disabilitas harus mau menyampaikan permasalahan mendasar itu kepada Jokowi atau lembaga negara lainnya.
“Kita berada di era new social movement. Jangan hanya bisanya menyalahkan pemerintah. Kita harus berani bicara dan menunjukkan diri. Di sisi lain, negara sudah mengatur hak kita dan mewujudkannya dalam rekruitmen disabilitas di BUMN, CPNS atau lembaga pemerintah. Nah yang belum ini kan perusahaan-perusahaan, kita harus mendapatkan hak kita dengan berani bicara, laporkan,” tandasnya. (*)
https://jokowidodo.app/post/detail/harapan-dan-aspirasi-kaum-disabilitas

 

Penetapan Sekjen FARHAN (FEDERASI REINTEGRASI HANSEN INDONESIA) dan Perwakilan di Jawa Timur

Federasi Reintegrasi Hansen Indonesia (FARHAN) mengadakan pertemuan (8-10 Maret 2019) di Ibis Budget Hotel, Kota Surabaya guna menetapkan anggota pengurus baru. Pertemuan ini sekaligus membahas pengembangan kegiatan baik di tingkat nasional maupun secara khusus dalam regional Jawa Timur, dan rencana kedepan GPDLI didaerah dan follow up dari Pertemuan Pelatihan Pasal 21 CRPD di Malang, Jawa Timur, April 2018 tahun lalu.
“Rapat menetapkan Ken Kerta dan Ahmad Zainuddin sebagai pengurus baru Federasi Reintegrasi Hansen Indonesia atau Farhan, keduanya layak dan berpengalaman dalam organisasi,” tutur Ketua Umum Farhan,  Hermen Hutabarat didampingi Nuah Perdamenta Tarigan, badan pendiri Farhan Indonesia.
Ditetapkan dalam struktur organisasi FARHAN, terang Hermen Hutabarat, Ken Kerta menjabat sebagai Sekretaris Jenderal dan Ahmad Zainuddin sebagai Perwakilan FARHAN di Jawa Timur.
Terpilihnya Ken Kerta sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen) menggantikan pengurus sebelumnya yang mengundurkan diri yaitu Binti Khofifah. Sedangkan penetapan Ahmad Zainuddin sebagai perwakilan Farhan Indonesia di Jawa Timur untuk memenuhi kebutuhan pengembangan organisasi.
Mengenal profil pengurus.
Ken Kerta, adalah Direktur Lingkar Sosial Indonesia (LINKSOS) sejak 2014 hingga sekarang. Pria asal Malang ini sekaligus pendiri Forum Malang Inkusi (2016) dan pendiri Forum Jatim Inklusi (2019). Pemilik nama asli Kertaning Tyas ini juga seorang jurnalis yang fokus menulis isu disabilitas dan kusta sejak tahun 2010.
Ahmad Zainuddin, adalah Direktur Lembaga Advokasi KUSTA dan Disabilitas Indonesia (LAKSI), sejak tahun 2016 hingga sampai sekarang. Pria dengan latar belakang pendidik ini juga aktif di Divisi Analisa Lembaga Analisa dan Kebijakan Publik (ELKAP) dari tahun 2015 sampai sekarang. Ahmad Zainudin adalah satu inisiator berdirinya Perhimpunan Mandiri Kusta (PerMaTa) Indonesia. Sekaligus mantan Presiden PerMaTa, periode 2007-2012.
Sekilas tentang Farhan Indonesia
Federasi Reintegrasi Hansen Indonesia (FARHAN) merupakan payung organisasi pergerakan komunitas-komunitas kusta di Indonesia. Berdiri pada tahun 2015 atas inisiasi Gerakan Peduli Disabilitas dan Lepra Indonesia (GPDLI) dan diakomodir oleh Komnas HAM dan Pemerintah Republik Indonesia.
Latar belakang berdirinya payung organisasi ini adalah kebutuhan untuk menyatukan kelompok-kelompok atau organisasi kusta dalam satu garis perjuangan hapus stigma dan stop diskriminasi kusta.
Serta upaya membangun masa depan yang lebih baik sesuai dengan CRPD Pasal 28 yaitu memiliki akses pelayanan dasar untuk meghidupi dirinya sendiri, keluarga dan komunitasnya- membangun masyarakat yang memiliki keseimbangan antara hak dan kewajiban.
Komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Dr. Ansori Sinungan, dalam siaran pers, 10 Desember 2015, menyatakan pelaksanaan deklarasi Federasi Reintegrasi Hansen Indonesia (FARHAN) merupakan tonggak baru terhadap pengakuan OYTK sebagai kelompok penyandang disabilitas dan marjinal. (Ken)
FOTO dibawah ini : Ken Kerta yang memakai baju putih.
 

BUKU TERBARU DARI GPDLI dan PPDI SULSEL – NUAH TARIGAN dan BAMBANG PERMADI

Silahkan kontak kami, untuk informasi lebih lanjut

KATA PENGANTAR

Kabar gembira tentang UU No 8 tahun 2016 Tentang Penyandang Disabilitas:

Kami hanya ingin mengupdate dari apa yang sudah terjadi selama beberapa waktu ini tentang CRPD dan aplikasinya dalam UU No 8 tahun 2016 Tentang Penyandang Disabilitas sudah disahkan oleh pemerintah baik dari lembaga legislative, eksekutif dan yudikatif pastinya, walaupun jumlah ayat dan pasal belum memberikan harapan yang baik bagi penyandang disabilitas, baik yang berhubungan dengan bahasa dan alat komunikasi penyandang rungu dan bisu serta disabilitas yang berhubungan dengan penyandang disabilitas motorik dan sensorik bagi yang mengalami kusta/ lepra atau morbus Hansen beserta isu yang berhubungan dengan penyandang disabilitas mental dan lain sebagainya, informasi laporan bayangan atau shadow report sedang kami perjuangkan untuk segera di kirim ke lembaga internasional disamping laporan pemerintah yang pasti akan berbeda dengan laporan dari organisasi penyandang disabilitas baik itu dari semacam HWDI (Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia), PPDI (Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia), GPDLI (Gerakan Peduli Disabilitas dan Lepra Indonesia), Jiwa Sehat dlsb. Komite Nasional untuk Penyandang Disabilitas Indonesia (KNDI) pun terus diperjuangkan agar dapat terwujud dan bahkan munculnya para pejuang dan para penggiat disabilitas Indonesia yang bekerja dengan tulus dapat bergabung nantinya menjadi penjaga hati nurani yang tahu suka dukanya menjadi penyandang disabilitas di tengah tengah bangsa yang sedang bergerak maju menjadi masyarakat yang lebih beradab dan membangun peradaban serta pemberdayaannya.

Terima kasih kami kepada Disability Rights Fund (DRF) yang terus memberikan dukungan moril dan materil dalam membangun pemberdayaan manusia khususnya untuk penyandang disabilitas menjadi pemimpin yang berkwalitas dan mampu menjadi teladan didalam komunitasnya agar terus berkembang membangun dan melahirkan para pemimpin baru yang akan datang secara berkesinambungan, buku ini memegang peranan besar untuk visi dan goal yang nyata tersebut. Salam pemberdayaan. Selamat membaca.

Jakarta dan Bekasi, 1 April 2017

Ketua Umum GPDLI (Gerakan Peduli Disabilitas dan Lepra Indonesia) atau di www.pedulidisabilitas.org

Dr. Ir. Nuah P. Tarigan., MA

 

STAKEHOLDER GROUP OF PERSONS WITH DISABILITES for HLPF 2017

The following organisations have endorsed the HLPF 2017 submission paper on behalf of the stakeholder group of persons with disabilities:

  1. A1 Hr Consultancy
  2. Aaina
  3. Ability Society Of Kenya
  4. Ablechildafrica
  5. Accessibility Organization For Afghan Disabled, Skateistan, Afghanistan Paralympic Committee
  6. Action Handicap
  7. Action On Disability Rights And Development-Nepal (ADRAD)
  8. Activists Network For Disabled People (ANDP)
  9. Ademo – Delegacao De Sofala
  10. Afghan Landmine Survivors Organization (ALSO)
  11. Africa Disability Alliance
  12. African Disability Forum
  13. African Federation Of The Deafblind
  14. African Union Of The Blind
  15. African Youth With Disabilities Network – Sierra Leone
  16. African Youth With Disabilities Network (AYWDN)
  17. Agate Center For Women With Special Needs Ngo
  18. Aid Children With Disability Association (ACDA) Laos Pdr.
  19. AIFO
  20. Al Saeeda Society For The Care And Rehabilitation Of Deaf Girls In Yemen
  21. Al-Amal Asso. For The Deaf
  22. Albanian  National Association Of The Deaf
  23. Anwesha Kolkata
  24. Apadea, Asociacion Argentina De Padres De Autistas
  25. Arab Organization Of Persons With Disability
  26. Artist With Disability And Prosperity Adp
  27. Asdown Colombia
  28. ASEAN Disability Forum
  29. Asia Blind Union
  30. Asociacion Azul
  31. Asociacion Polio-Postpolio Argentina
  32. Aspane Nueva Era A. C.
  33. Associacao Miracles In Mozambique
  34. Associasao Dos Deficiente De Sao Tome E Principe
  35. Association D’aide A  L’education De L’enfant Handicap (AAEEH)
  36. Association Des Paralysis De France
  37. Association Des Personnes Handicapes Motivates De Tane (Aphmoto)
  38. Association For Disability And Development “Add” Maldives.
  39. Association Of Disable People In Mozambique (ADEMO), Zambezia Province
  40. Association Of Youth With Disabilities In Mozambique (Ajodemo)
  41. Athabasca University
  42. Austrian Red Cross
  43. Bapda Belize
  44. Basic Needs India
  45. Bethlehem Arab Society For Rehabilitation
  46. Blind And Visual Impaired Society Of Maldives, Bvism
  47. Caribbean CBM Network
  48. CBM
  49. CBM Vietnam
  50. CBR Global Network
  51. Centre For Community Initiative
  52. Centre For Integrated Development
  53. Charles Sturt University, Australia
  54. Chicome Yolo Pa Se Ima A.C
  55. Cochabamba’s Hard Of Hearing Association – Ashico
  56. Collectif Pour La Promotion Des Droits Des Personnes En Situation De Handicap – Morocco
  57. Comisian De Damas Invidentes Del Pera – CODIP
  58. Consumer Action Network Mental Health Lanka (Can Mh Lanka)
  59. Corporacian Programa Poblacional De Servicios La Caleta, Chile
  60. Cultural Forum For People With Special Needs In Syria
  61. Culture Centre For The Deaf Mongolia
  62. Dahw Deutsche Lepra- Und Tuberkulosehilfe
  63. Deaf Hope
  64. Deafblind Ontario Services
  65. Development And Ability Organization (DAO)
  66. Direction De Developpement Associatif Et Politique D’inclusion
  67. Director Liliane Foundation
  68. Disability Equality Society
  69. Disability Organisations Joint Front (DOJF) Sri Lanka
  70. Disability Partnership Finland
  71. Disability Rights Fund, Inc. & Disability Rights Advocacy Fund, Inc.
  72. Disabled People’s International, Arab Region
  73. Disabled People’s International – Europe
  74. Disabled People’s International North America And The Caribbean Region
  75. Disabled People’s Organisations Australia
  76. Disabled Persons’ Association Of Bhutan (DPAB)
  77. Disabled Women In Africa (Diwa)
  78. Divine Foundation For Disabled Persons
  79. Down Syndrome International
  80. DPO Latinoamerica
  81. DPI Maldives Mna
  82. DPI Pakistan
  83. Dutch Coalition On Disability And Development
  84. East Africa Disability Aid
  85. East Eagle Foundation
  86. Ecumenical Disability Advocates Network
  87. Eden Centre Fro Disabled Children, Yangon, Myanmar
  88. Edraak Organization For Persons With Disabilities
  89. EJEVH
  90. Enlightening And Empowering People With Disabilities In Africa (EEPD Africa)
  91. Escuela De Vecinos De Venezuela
  92. Estanara Group
  93. EU-Cord
  94. European Disability Forum
  95. European Network Of (Ex-)Users And Survivors Of Psychiatry (ENUSP)
  96. European Union Of The Deaf Youth
  97. Family Centered Initiative For Challenged Persons
  98. Federaccion Costarricense de organizaciones de personas con discapacidad
  99. Federation Burkina Des Association Pour La Promotion Des Personnes Handicap (Febah)
  100. Federation Das Associations De Defesa E Promotion Dos Direitos Das Pessoas Com
    Deficiencia Na Guine-Bissau (FADPD-GB)
  101. Federation Nationale Des Sourds D’haiti Fnash
  102. Federation Nigerienne Des Personnes Handicapees
  103. Federation Of Disability Organisations In Malawi (FEDOMA)
  104. Federation Of Ethiopian National Associations Of Persons With Disabilities (FENAPD)
  105. Federation Of The Deaf Madagascar
  106. Federation Togolaise Des Associations De Personnes Handicap (FETAPH)
  107. Fiji Disable Peoples Federation
  108. Florida Atlantic University
  109. Fontilles
  110. Forum for th Rights of Persons with Disabilities
  111. Friend For Disability Co.,Ltd
  112. Friends Of Paraplegics
  113. Fundacion Paso A Paso.A.C
  114. Fundacion Sendas
  115. Fundacion Todo Tuyo Maria De Personas Con Discapacidad Fisica Anams
  116. G3ict – Global Initiative For Inclusive Icts
  117. Gambia Federation Of The Disabled
  118. Gaucha Association Of Parents And Friends Of Deafblin People And People With Multiple Disabilities
  119. Gerakan Peduli Disabilitas Dan Lepra Indonesia (GPDLI)
  120. Great Palestinian Union For People With Disabilities
  121. Grupo Art-Culo 24
  122. Grupo Brasil De Apoio Ao Surdocego E Ao Multiplo Deficiente Sensosrial
  123. Gudc Ecuador
  124. Guinean Association Of The Deaf
  125. Guinean Association Of The Deazf Women
  126. Guyana Community Based Rehabilitation Programme
  127. Handicap Et Developpement Inclusif
  128. Handicap International
  129. Handicap-Dev
  130. Harvard Law School Project On Disability
  131. Horizon Academy. Addu City. Maldives
  132. Humancare Centre
  133. Ibanda District Association Of The Deaf (IDAD)
  134. Inclusion International
  135. Inclussion Panama
  136. International Agency For Rehabilitation India (R.)
  137. International Agency For The Prevention Of Blindness (IAPD)
  138. International Deaf Emergency
  139. International Disability Alliance (IDA)
  140. International Disability And Development Consortium (IDDC)
  141. International Federation For Spina Bifida And Hydrocephalus
  142. International Federation Of Hard Of Hearing People (IFHOH)
  143. Jean De Dieu Goma
  144. Jeunes Entrepreneurs Vivants Avec Handicap
  145. Joint National Association For Persons With Disabilities (JONAPWD) Yobe State Nigeria
  146. Kalyani Life Institute
  147. Kentalis International Foundation
  148. La Federacion Nacional De Sordos De Colombia -Fenascol
  149. Lachana Society To Uplift Intellectual Disability (LID-Nepal)
  150. Lao-Aid Children With Disability Association
  151. Latin America Blind Union
  152. Lebanese Physical Handicapped Union
  153. Leonard Cheshire Disability
  154. Leprosy Mission Nepal
  155. Leprosy Relief Canada
  156. Libyan Organization For The Rights Of People With Disabilities
  157. Light For The World
  158. Liliane Foundation The Netherlands
  159. Little People Association In Baghdad
  160. Los Nia’os Iluminan Un Sue‘O A. C.
  161. Malawi Union Of The Blind
  162. Maldives Association Of Physical Disables (MAPD)
  163. Mentaid
  164. Mna -Dpi Maldives
  165. Modelci
  166. Modelci Cadus
  167. Morocco Forum “Disabilities And Rights”
  168. Motivation
  169. Motivation Charitable Trust
  170. Motivation Charitable Trust
  171. Muenselling Institute, Khaling (School For The Blind)
  172. Mussa Chico Abacar
  173. The National Association for the rights of persons with disabilities in Lebanon (NARD)
  174. National Association Of Intellectual Disabled And Parents (NAIDP-Nepal)
  175. National Association Of The Deaf R.O.C (Taiwan)
  176. National Association Of The Deaf, India
  177. National Federation Of People With Disabilities In Namibia (NFPDN)
  178. National Federation Of The Disabled Nepal
  179. National Union Of People With Disabilities Of Tajikistan
  180. NFD Pakistan
  181. Nepal Disabled Human Rights Center
  182. Neslyšící S Nadějí
  183. Netherlands Leprosy Relief
  184. Nkhotakota Association Of The Visually Impaired  Persons(Navip)
  185. Nlr Nepal
  186. Nuanua O Le Alofa National Advocacy Organisation Of Persons With Disabilities Samoa
  187. Open Habitat Ac
  188. ORD
  189. Organisation Tunisienne De Defense Des Droits De Personnes Handicapees
  190. Pacific Disability Forum
  191. Pak Ever Bright Development Organization
  192. Pakistan Down Syndrome Association (PDSA) Karachi
  193. Palestinian General Union Of Persons With Disabilities
  194. Parent Federation Of Persons With Intellectual Disabilities (PFPID-Nepal)
  195. Parivaar Bengal
  196. Partners In Creative Solutions
  197. People With Disabilities Solomon Islands (PWDSI)
  198. People With Disability Australia
  199. Philippine Chamber Of Massage For The Visually Impaired
  200. Plateau State Disability Rights Commission, Nigeria
  201. Presbyterian Community Based Rehabilitation
  202. Presidente Nacional Unpade Chile – Uniã³N Nacional De Personas Con Discapacidad Intelectual
  203. Protibondhi Nagorik Shagathaner Parishad (PNSP)
  204. Pusat Ehsan
  205. RDDS
  206. Red Latinoamericana De Organizaciones No Gubernamentales De Personas Con Discapacidad
    Y Sus Familias – RIADIS
  207. Red Regional Por La Educacion Inclusiva
  208. Representing The Women With Disability India Network
  209. Rosa Chajvez
  210. Rumphi Self Help Initiative For The Visually Impaired
  211. Rural Development Trust
  212. School Of Law And Centre For Disability Studies, University Of Leeds
  213. Scoop Access
  214. Self Help Initaitive For The Visually Impaired
  215. Seven Million Disabled (FAPH)
  216. Shanta Memorial Rehabilitation Centre
  217. Sightsavers
  218. Slpinfiji
  219. Society “For International Cooperation Of Disabled People” (FäCDP)
  220. Society For Action In Disability And Health Awareness (Sadhana), India
  221. Society Of Professionals  With Visual Disability
  222. Somali Disability Empowerment Network
  223. South African Human Rights Commission
  224. Southern Africa Federation Of The Disabled (SAFOD)
  225. Special Talent Exchange Program
  226. Spina Bifida And Hydrocephalus Awareness Network-Uganda
  227. Sri Lanka Foundation For The Rehabilitation Of The Disabled
  228. St. John’s Medical College, Bangalore,India
  229. Swedish Association Of The Visually Impaired
  230. Swedish National Youth Association Of The Deaf
  231. Swotantrata Abhiyan Nepal
  232. The Christian Institute On Disability
  233. The Evangelical Lutheran Church In Tanzania (ELCT)
  234. The Hong Kong Society For Rehabilitation Centre On Research And Advocacy
  235. The Leprosy Mission
  236. The Mauritanian Association For The Coalition Of Women With Disabilities
  237. The Nippon Foundation
  238. The Swedish Disability Federation
  239. The Uganda  Down’s Syndrome Associattion
  240. Tourism For All The Gambia Charter And Gambia Association Of The Physically Disabled
  241. Tusaidiane Disabilities Resources And Charity Organization Of Tanzania (TDRTC)
  242. Uganda National Association Of The Deaf (UNAD)
  243. Uganda National Association Of The Hard Of Hearing
  244. Umuryango Nyarwanda W’abagore Bafite Ubumuga (UNABU)
  245. Un Special Rapporteur On The Rights Of Persons With Disabilities
  246. Union Des Personnes Handicapees Du Burundi (UPHB)
  247. Union Des Personnes Handicapes Du Burundi
  248. Union Nationale Des Associations Des Personnes Handicapades Du Tchad
  249. Union Palestinian Of The Deaf
  250. United Disabled Persons Of Kenya
  251. United Nations Department Of Economics And Social Affairs
  252. University Of Massachusetts Boston
  253. Unmas Afghanistan
  254. Uwezo Youth Empowerment (UWEZ Owezo)
  255. Vipya Disability Association (VDA)
  256. Vision Pacific Charitable Trust
  257. Visually Hearing Impairment Membership Association (Deafblind Malawi)
  258. Voice Of Disabled People International Mauritius
  259. West Africa Federation Of The Disabled (WAFOD)
  260. West African Federation Of Disabled
  261. Wheels In Motion
  262. World Network Of Users And Survivors Of Psychiatry
  263. Women With Disabilities Australia (WWDA)
  264. Women With Disabilities India Network
  265. World Blind Union (WBU)
  266. World Blind Union Asia Pacific
  267. World Enabled
  268. World Federation Of The Deaf (WFD)
  269. World Federation Of The Deafblind (WFDB)
  270. Zambia Federation Of Disability Organisations
  271. Zimbabwe Albino Association
  272. Zimbabwe National League Of The Blind

 

HANYA BUNGA YANG DAPAT KAMI BERIKAN KEPADA SAHABAT GPDLI sejak lama. BYE LILY D. PURBA