Mission Statement

What we want to achieve

Mari peduli dengan penyandang disabilitas dan lepra di Indonesia.

Learn more »

Past Event

31 Januari 2011

WORLD LEPROSY DAY 2011.

Be Our Friend

join our community

langthis!
Blog

DISABILITAS INDONESIA BANGKIT !!!

Tanggal 20 Mei 2017 yang lalu adalah hari bersejarah bagi kaum disabilitas Indonesia karena aliansi disabilitas bersatu kembali turun ke jalan untuk memberikan pembelajaran kewarganegaraan tentang apa yang dinamakan pemberdayaan disabilitas yang berkelanjutan.

Kali ini disabilitas fokus pada advokasi yang berhubungan dengan pembentukan KNDI Komisi Nasional Disabilitas Indonesia yang merupakan amanat dari UU Penyandang Disabilitas yang sudah ada, advokasi ini fokus pada Bapak Presiden Republik Indonesia: Joko Widodo, disabilitas berkesempatan untuk menyuarakan suaranya yang terbuka dan asertif tanpa pendekatan agresif yang sering dikumandangkan kelompok lain yang bahkan sering dengan memaksakan kehendak, seharusnya mereka bisa belajar dari aliansi disabilitas yang berdaya ini, semoga!. Terima kasih kami pada Pak Jokowi yang selalu mengikuti perkembangan yang berhubungan dengan disabilitas di Indonesia. Semoga terus berkelanjuta, salam pemberdayaan dari kami semua.

 

KUNJUNGAN ABI MARUTAMA (TIM GPDLI) KE AMERIKA SERIKAT dalam rangka YSEALI

Salah satu program yang diwariskan dari masa pemerintahan Obama ialah Young South East Asia Leaders Initiative Professional Fellowship Program (YSEALI). Program tersebut memberikan kesempatan bagi pemuda yang menginginkan perubahan lebih baik di kawasan Asia Tenggara. YSEALI memberikan kesempatan selama 6 minggu bagi sejumlah pemuda yang terpilih untuk mempalajari nilai-nilai, kebudayaan, sejarah, politik, ekonomi hukum dan kebijakan neagara Amerika sebagai percontohan negara demokrasi yang mengakui dan melindungi seluruh hak-hak warganya.

Abi Marutama salah satu delegasi dari Indonesia yang memperoleh kesempatan untuk mempelajari isu disabilitas di Amerika. Pemerintah Amerika Serikat melalui US Department of State mendelegasikan pelaksanaan teknis untuk fellowship YSEALI ini kepada American Council on Young Political Leaders (ACYPL). ACYPL adalah organisasi non-partisan dan tidak terafiliasi dengan dua kekuatan besar partai politik di Amerika. Di bawah ACYPL program selama 6 minggu bagi 16 delegasi dari 5 negara ASEAN (Indonesia, Malaysia, Thailand, Myanmar dan Filipina) yang kesemuany memiliki minat yang berbeda-beda dan penempatan fellowship di kota yang berbeda juga.

Abi mendapatkan kesempatan untuk menentap dan melaksanakan felowship di Washington DC dengan organisasi American Association of People with Disabilities (AAPD). Dalam kesmepatan fellowship tersebut Abi berfokus pada pengetahuan seputar American with Disability Act (ADA) dan peraturan lain yang menyangkut dengan kebijakan disabilitas di Amerika Serikat. Dalam masa fellowship tersebut Abi dan peserta lainnya tidak hanya mempelajari apa yang menjadi fokus mereka masing-masing. Tetapi juga Abi dan peserta lainnya melakukan bebrbagai pertemuan penting dengan berbagai tokoh penting di Amerika serta menikmati program kebudayaan Amerika.

Abi dan para peserta lainnya bertemu mantan anggota kongres dan senat, pelobi di bidang pendidikan dan lingkungan hidup, aktivis HAM, walikota hingga orang-orang di pemerintah federal dan pihak swasta yang masing-masing memiliki peran dan kontribusi dalam memajukan negara Amerika untuk menjadi lebih baik. Umumnya setiap pertemuan diisi dengan pembicaraan mengenai penegalaman para orang-orang penting dari Amerika mengenai apa yang telah mereka lakukan. Sebagai contoh beberapa mantan anggota kongres menyampaikan pengalaman mereka saat melakukan proses legislasi ADA. Untuk orang Amerika ADA adalah salah satu undang-undang yang terpenting setelah American Civil Rights Act (ACRA). Pada awalnya ACRA belum menyertakan disabilitas sebagai bagian dari hak sipil. Setelah ADA diperkenalkan oleh National Council on Disability (NCD) pada kongres di tahun 1990 dan mantan presiden Bush Senior sangat berambisi bahwa rancangan ADA harus diselesaikan karena ADA akan melindungi hak-hak disabilitas Amerika. Barulah kemudian hak-hak disabilitas dimasukan ke dalam ACRA. Sebagai hasilnya sedikit demi sedikit perbaikan perlindungan hak-hak disabilitas Amerika semakin baik dan diskriminasi terhadap disabilitas mulai menurun.

Amerika Serikat bukanlah dengan sempurna di mana kelompok disabilitas juga masih mengalami hambatan dan diskriminasi. Namun walaupun demikian Amerika berpikir bahwa di negara dan kawasan lain, masih banyak kelompok disabilitas yang mengalami masalah jauh lebih sulit dan tidak adanya kebijakan disabilitas yang menjamin perbaikan hak-hak disabilitas di kawasan dan negara tersebut. Komitmen ini ditindaklanjuti dengan membentuk Office of International Disability Rights yang memberikan bantuan kepada negara-negara untuk meningkatkan kualitas hidup penyandang disabilitas melalui perbaikan kebijakan disabilitas di sektor publik dan swasta.

Yang menarik dari disabilitas di Amerika ialah tidak ada 1 lembaga khusus yang menangani disabilitas. ADA mewajibkan setiap lembaga federal dan negara bagian untuk taat dengan  ketentuan ADA bergantung pada sektor yang ditanganinya. Dengan demikian dalam tataran implementasi, setiap lembaga federal dan negara bagian memilki kantor urusan disabilitas yang memastikan kebijakan di negara bagian dan tingkat federal memenuhi standar yang ditetapkan ADA.

Karena setiap negara bagian memiliki konstitusi dan undang-undang masing-masing, seringkali pelaksnaan ADA tidak maksimal karena kebijakan yang berbeda di tiap negara bagian. Namun demikian, masyarakat dapat menyampaikan keluhan dengan nengajukan tuntutan ke pengadilan di tingkat lokal dan tingkat negara bagian. Beberapa negara bagian mungkin akan membantah argumentasi para penyandang disabilitas Amerika. Namun pengadilan tingkat federal dengan kekuasaan mengadili pada kasus yang berhubungan dengan hukum federral dapat saja menganggap bahwa telah terjadi pelanggaran atas hak-hak disabilitas yang dilakukan oleh pemerintah negara bagian atau lokal. Pengadilan federal dapat berdalih bahwa pemerintah federal atau lokal telah membuat kebijakan yang bertentangan dengan hukum federal dan itu merupakan pelanggaran prinsip hukum dan kebijakan di mana pemerintah lokal atau federal tidak dapat membuat aturan bertentangan dengan hukum dan kebijakan pemerintah federal.

Hal yang menarik lainnya ialah penyelenggaran pemilu di AS tidak bersifat nasional. Dengan demikian setiap negara bagian memiliki kewenangan dan peraturan masing-masing terkait pemilu. Namun demikian setiap proses dan logistik pemilu harus memenuhi syarat aksesbilitas yang ditetapkan oleh Help America Vote Act. Amerika memiliki mesin elektronik pemilu yang ramah disabilitas. Mesin tersebut dapat digunakan bagi mereka yang mengalami disabilitas pendengaran dan penglihatan. Sedangkan untuk disabilitas fisik, tempat pemungutan suara selalu dipastikan akses bagi mereka.

Keunggulan dari disabilitas Amerika ialah mereka memiliki teknologi yang dapat menunjang kehidupan mereka. Mulai dari Google Glass yang dapat memberikan petunjuk jalan bagi orang dengan disabilitas penglihatan dan pendengaran, Local Motors dan IBM yang membuat Smart Watson Bus di mana bus dapat berkendara sendiri tanpa pengemudi dan bus tersebut sangat ramah disabilitas hingga fasilitas relay phone yang menghubungkan orang dengan disabilitas pendengaran dengan orang tanpa disabilitas melalui sambungan telepon.

Amerika bukanlah negara yang sempurna. Disakriminasi berdasarkan status ekonomi, sosial, jenis kelamin, etnis, agama dan disabilitas masih terjadi. Tetapi Amerika tetap berjuang mempertahankan hal-hal yang baik seperti nilai-nilai demokrasi dan toleransi dan tetap berusaha memperbaiki hal-hal yang masih menjadi masalah bagi Amerika sendiri. Sebagai negara yang menjunjung demokrasi, Amerika tidak hanya mencoba memperbaiki apa yang ada di negaranya, tetapi juga memperbaiki dunia. Melalui bantuan luar negeri dan dukungan diplomasi, Amerika ingin dunia ini lebih baik termasuk bagi penyandang disabilitas di mana pun mereka berada.

 

The 3rd AICHR Regional Dialogue on Mainstreaming of The Rights of Persons with Disabilities in the ASEAN Community (A Reflection from Ms LILY PURBA – ACWC and Advisor for GPDLI)

Session 1 General framework on access to justice for person with disabilities (PWD), relevance of SDG 16. Hari Kurniawan from LBH East Java talked about access to Justice of PWD in Indonesia.

There is still big stigma and misunderstanding on PWD. Such as stigma of police, prosecitor, judges, beside the physical barrier and gaps: disqualifying PWD for legal proffesional (lawyers, prosecutors, judges, paralegal) , lack of support for victim of PWD including for the intelectual disability in court cases (interpreter with sign language, and law knowlege). Ms. Aiko Akiyama, focal point on dissability of UN ESCAP mentioned about reviewing of access of PWD to justice, any barriers and regulatory exclussion, Integrated justice system. Thai representative of Ministry of justice, explained about justice fund, commitment to implement SDG 16 at the national and international level and address the barriers experienced by PWD, including access to technology.

Regional action plan of action should consider the research on legal system for PWD, legal assistance, educate the community on the right of PWD and University also training for all law enforcer in legal process.

Session 3, meeting discussed about the disability as entrepreneurs, the disability person should not been treated as target of charity, they are the rights holder. So the people with disability (PWD) can be entrepreneur if they have capacity, accessibility and sustainability. Access to Bank and financial institution (bank account, loan, mortgage and other form of financial credit) and enterpreneur should be the enhanced. PWD is deprived from the property because they are blind. The basic principles of PWD as enterpreneur is equal enjoyment of rights.
This meeting also shared the experiences and challenges of business, social enterprises such as Thailand, having coffee and bakery shop run by PWD.

Under ASEAN Community, PWD on entrepreneurs issue is on 3 pillars, ASEAN Economic Community should involve on this (transportation, banking etc)

 

SAYA INDONESIA SAYA PANCASILA ! #PekanPancasila – GPDLI Mendukung

GPDLI Mendukung #PekanPancasila sebagai bagian dari PERINGATAN HARI LAHIRNYA PANCASILA 1 Juni 2017 yad – YA KEANEKARAGAMAN ANAK BANGSA DAN KITA sudah tergambar sejak bertahun-tahun yang lalu, baik dari suku agama ras dan asal muasal. Termasuk dalam hal ini yang berhubungan dengan keanekaragaman situasi di anak bangsa termasuk disabilitas.

Disabilitas adalah salah satu jenis keragaman yang harus dihormati bukan dipinggirkan, semuanya harus bergerak dan bekerja sama dalam membangun bangsa termasuk komunitas disabilitas di Indonesia. Terima kasih kami kepada Presiden Joko Widodo yang telah bekerja keras membangun bangsa termasuk disabilitas sejak beliau di Solo dan Jakarta dan Indonesia. Terima kasih kami kepada seluruh kepala daerah yang peduli termasuk Bapak Ahok dan Bapak Djarot dan Bupati, Walikota dan Gubernur-gubernur di beberapa propinsi di Indonesia.

Perlu gerakan yang besar dalam membangun masyarakat apalagi yang berhubungan dengan UU No 8 Tahun 2016 yang sudah ada. Semoga.

 

DISABILITAS BERGERAK UNTUK KOMISI NASIONAL DISABILITAS INDONESIA (KNDI)

Gerakan Peduli Disabilitas dan Lepra Indonesia (GPDLI) tetap mendukung usaha-usaha yang dilakukan oleh kaum disabilitas Indonesia untuk perjuangan dalam pendirian KNDI. Sejak awal GPDLI turut bekerja sama untuk RUU DISABILITAS dan saat ini sudah mencapai titik berikutnya menuju pemberdayaan yang lebih luas lagi dalam konteks Nasional.

KNDI adalah AMANAT UU No 8 Tahun 2016, dan GPDLI siap mengawal kapan saja, salam pemberdayaan.

 

VIDEO EDUKASI PENYAKIT KUSTA DI INDONESIA – Produksi 29 Januari 2015

VIDEO INI DIPERSEMBAHKAN OLEH SALAH SATU VOLUNTEER KAMI SEJAK BEBERAPA TAHUN LALU – yang bernama YONATHAN WIDODO, sangat bagus sekali, bahkan memperoleh apresiasi dan penghargaan tinggi dari rekan rekan di NLR dan TIM. Semoga ini dapat menjadi masukan yang baik bagi semua, silahkan anda langsung buka di link berikut:

https://www.youtube.com/watch?v=sk2Wlea9VHU

Dipublikasikan tanggal 29 Jan 2015

Video Edukasi Penyakit Kusta di Indonesia
by movio-screen.net
Jakarta 2014

Produser ARIEF WICAKSANA
Sutradara YONATHAN WIDODO
Illustrator NANDA HG
Art Director PRASAJADI
Animator RIDA MOCHAMMAD
Narator REZKI JATIANING
Sound Designer RAMA KRISNA
Music by BEYONDTHEVEIL

Didukung oleh Citra, Wakil, Anto, Yudha, Omen, Waqil MOVIO

dan GPDLI (www.pedulidisabilitas.org)

 

UNTUK APA MERAYAKAN WORLD LEPROSY DAY JIKA HIDUP KAMI YANG MENGALAMI KUSTA MASIH TERUS DI STIGMA DAN DI DISKRIMINASI !!

WHAT TO CELEBRATE in WORLD LEPROSY DAY, IF OUR LIVES THAT HAVE LEPROSY STILL CONTINUES IN STIGMA AND DISCRIMINATION !!

Memperingati Hari Kusta Dunia yang ke 60 ini ceritanya untuk menghilangkan stigma dan diskriminasi kusta atau lepra atau hansen di seluruh dunia yang luas ini! termasuk INDONESIA sejak zaman Soeharto dan semoga tidak sampai sekarang, orang, keluarga dan komunitas kusta masih terus tidak dianggap, bahkan di rumah sakit yang dulu bernama rumah sakit kusta! Namanya aja yang berubah akan tetapi stigma dan diskriminasi makin membesar, kusta bukan penyakit yang diakibatkan oleh karena rakyat yang menerimanya melakukan hal yang tidak berkenan dalam kehidupannya, akan tetapi lebih banyak disebabkan karena kehidupan dan tempat tinggal mereka termasuk sanitasi dan penggunaan air yang sangat tidak hygiene dan layak untuk dipakai sehari-hari, walaupun tidak akan mencapai lebih dari 3-5% penduduk dunia namun akan sangat berarti dalam membangun masyarakat sejahtera kedepan!

Orang yang mengalami kusta dan keluarga beserta komunitasnya tidak memerlukan banyak jargon-jargon dan iklan yang aduhai serta keren, mereka hanya memerlukan suatu kesempatan untuk menunjukkan karya mereka dan tidak melihat fisik mereka atau apapun yang dari mereka sebagai suatu batasan! perlakukan kami selayaknya manusia, demikian yang selalu saya dapatkan dari rekan-rekanku yang luar biasa itu, ayo mari berlomba-lomba melakukan kebaikan secara menyeluruh menciptakan kebersamaan diantara kita sebagai anak bangsa! MARILAH KITA MELAKUKANNYA DENGAN NYATA BUKAN HANYA JARGON DAN KATA-KATA!

SALAM GPDLI

SALAM PEMBERDAYAAN YANG HOLISTIK


World Leprosy Day commemorates the 60th – this story is to eliminate the stigma and discrimination of kusta or leprosy or Hansen in this whole wide world! including INDONESIA since the Soeharto era and hopefully not until now, people, families and communities leprosy continues to be considered, even in the hospital formerly known as leprosy hospital! Its name has changed but stigma and discrimination continues to expand, leprosy is not a disease caused by because the people who receive them do things that are not pleasing in his life, but more due lives and where they live, including sanitation and water use very hygiene and feasible for everyday wear, while it will reach more than 3-5% of the world population but will be invaluable in building a prosperous society in the future!

People who are affected by leprosy and their family and the community does not need a lot of jargon and a fantastic advertisement and cool, they just need a chance to show their work and do not see their physical or any of them as a boundary! we should treat human beings, so that always I get from my colleagues that remarkable, come on let’s race to do good as a whole to promote unity among us as a nation! LET US DO IT WITH REAL AND NOT JUST WORDS jargon!

SALAM GPDLI

GREETING THE HOLISTIC EMPOWERMENT

 

GITARIS DISABILITAS HANSEN – AHMAD MUNIF dari SULTRA YANG LUAR BIASA

SALAM JUMPA KEMBALI di tahun 2017 ini dengan GPDLI – Gerakan Peduli Disabilitas dan Lepra INDONESIA yang selalu fokus dalam membangun jembatan antara yang mengalami kusta dengan masyarakat umum!

Kami tampilkan rekan kami AHMAD MUNIF berasal dari SULTRA yang memiliki kemampuan luar biasa dalam bergitar, bagi siapapun yang ingin mendukung bakat rekan kami AHMAD MUNIF silahkan kontak ke perkumpulanGPDLI@gmail.com, beliau ingin memiliki sebuah gitar yang lebih layak dan bagus untuk menyambung kehidupannya dengan bakat yang ada padanya, saya terenyuh saat beliau mengatakan bahwa AHMAD tidak mau meminta minta walaupun beliau memiliki perbedaan dengan rekannya yang lain, TIDAK MENJADI PENGHALANG, dan akan menjadi BATU LONCATAN kedepan menuju masa depan yang lebih baik, thanks rekan kami AHMAD MUNIF.

SALAM PEMBERDAYAAN GPDLI

berikut LINK nya: https://www.youtube.com/watch?v=oRoFO7jChKg – BERHARAP KEMBALI Neymo Band KENDARI

 

AKU TULIS PAMLET INI – Puisi WS RENDRA – 27 April 1978

Saat ini tidak terjadi spt ini lagi — kita sudah tinggalkan ORBA, namun masih banyak orang yang tidak mau bicara-takut dan gemetar, asal bukan menghina dan mendakwa serta menuduh yang lain, kenapa harus takut kawan…(Khusus pada rekan yang mengalami Kusta dan merasa di diskriminasikan dan di stigma serta dipinggirkan, silahkan bicara dan share, GPDLI mendukung anda semua!) SELAMAT MENYAMBUT TAHUN BARU 2017 !

AKU TULIS PAMPLET INI

Oleh : W.S. Rendra

Aku tulis pamplet ini
karena lembaga pendapat umum
ditutupi jaring labah-labah
Orang-orang bicara dalam kasak-kusuk,
dan ungkapan diri ditekan
menjadi peng – iya – an

Apa yang terpegang hari ini
bisa luput besok pagi
Ketidakpastian merajalela.
Di luar kekuasaan kehidupan menjadi teka-teki
menjadi marabahaya
menjadi isi kebon binatang

Apabila kritik hanya boleh lewat saluran resmi,
maka hidup akan menjadi sayur tanpa garam
Lembaga pendapat umum tidak mengandung pertanyaan.
Tidak mengandung perdebatan
Dan akhirnya menjadi monopoli kekuasaan

Aku tulis pamplet ini
karena pamplet bukan tabu bagi penyair
Aku inginkan merpati pos.
Aku ingin memainkan bendera-bendera semaphore di tanganku
Aku ingin membuat isyarat asap kaum Indian.

Aku tidak melihat alasan
kenapa harus diam tertekan dan termangu.
Aku ingin secara wajar kita bertukar kabar.
Duduk berdebat menyatakan setuju dan tidak setuju.

Kenapa ketakutan menjadi tabir pikiran ?
Kekhawatiran telah mencemarkan kehidupan.
Ketegangan telah mengganti pergaulan pikiran yang merdeka.

Matahari menyinari airmata yang berderai menjadi api.
Rembulan memberi mimpi pada dendam.
Gelombang angin menyingkapkan keluh kesah

yang teronggok bagai sampah
Kegamangan. Kecurigaan.
Ketakutan.
Kelesuan.

Aku tulis pamplet ini
karena kawan dan lawan adalah saudara
Di dalam alam masih ada cahaya.
Matahari yang tenggelam diganti rembulan.
Lalu besok pagi pasti terbit kembali.
Dan di dalam air lumpur kehidupan,
aku melihat bagai terkaca :
ternyata kita, toh, manusia !

Pejambon Jakarta 27 April 1978
Potret Pembangunan dalam Puisi

TULISAN PUISI WS RENDRA dimasa represif SOEHARTO (ORBA)

 

CATATAN AKHIR TAHUN 2016 MENUJU 2017 – dari GERAKAN PEDULI DISABILITAS DAN LEPRA INDONESIA (GPDLI)

Saudara-saudaraku sekalian, senang bisa berjumpa kembali dengan semua pendukung dan pemerhati masalah disabilitas dan leprosy atau kusta atau hansen di Indonesia dan global, senang masih bisa berkomunikasi dan berharap agar isu yang berhubungan dengan disabilitas dan bahkan kusta menjadi arus utama seperti isu-isu yang berhubungan dengan lingkungan, perempuan dan anak yang sudah berkembang sejak lama!

Adapun masalah disabilitas ditahun 2016 ini sudah mengalami perkembangan yang sangat luar biasa, sejak di sahkannya UU No 8 Tahun 2016 tentang penyandang disabilitas, GPDLI sangat bangga dengan keikutsertaan GPDLI ejak awal bahkan sejak 6 tahun lalu dalam membela dan memfasilitasi masyarakat umum yang masih belum tahu dengan baik situasi dan kondisi disabilitas selama ini di Indonesia, dibeberapa bagian daerah di Indonesia memang masih ada yang memberikan sebutan difabel, kami kira itu tidak menjadi masalah, karena subject yang dimaksud adalah relevan, pergantian kata “cacat” menjadi disabilitas sudah menjadi sejarah bagi kami GPDLI yang ikut dalam proses itu di Kota Bandung beberapa tahun yang lalu, sehingga menjadi nomenklatur yang diakui negara dan sudah masuk dalam proses di Bappenas yang akhirnya akan masuk dalam istilah yang diakui di seluruh propinsi di Indonesia. Banyak debat yang terjadi pada saat itu, sehingga pertemuan yang di fasilitasi kementerian sosial saat itu membawa hasil yang kita lihat sekarang ini.

Kepuasan terhadap hasil disahkannya UU Penyandang Disabilitas memang belum mencapai kepuasan yang bisa dikatakan paling tinggi, karena begitu banyaknya ayat-ayat yang masih belum diterima dengan baik, sehingga tinggal beberapa yang masih terus diperjuangkan oleh komunitas disabilitas dalam bentuk apapun, GPDLI yakin kedepan beberapa ayat-ayat dan pasal di UU tersebut harus diperbaiki dan diperbanyak juga dikurangi, namun ini adalah perjuangan politik yang tidak boleh berhenti. Diharapkan akan makin banyak para politikus yang akan menjadi calon dan bahkan bukan jadi calon tapi menjadi anggota DPR MPR dan bahkan DPD kedepan! kami didalam GPDLI sangat mengharapkan, yang akan menyuarakan terus isu yang berhubungan disabilitas tanpa henti dimana saja, kapan saja dan berkesinambungan.

Banyaknya hambatan yang terjadi saat ini bukan menjadi pelemahan pada semua yang mengalami disabilitas, perlu ada kerja sama yang baik dan masif dalam membangun kesejahteraan dan keadilan sosial di Indonesia, disabilitas adalah masa depan kita sebagai bangsa Indonesia, karena sudah pasti kita semua akan mengalaminya baik dalam konteks yang kecil dan luas, dimulai dari impairment yang terjadi dan tumbuh menjadi remaja – dewasa dan kemudian lanjut usia! yang banyak mengalami kendala dalam kehidupan dan berkehidupan, sehingga sangat layak untuk diperjuangkan sebagai bagian manusia yang berbudaya serta menjunjung tinggi keberadaban manusia Indonesia di masa depan, sungguh mengecewakan kami karena banyak politikus dan pelaku bisnis serta bahkan perguruan tinggi yang masih belum tanggap secara cepat bagaimana memperlakukan disabilitas dengan baik dan universal. Akan tiba saatnya nanti – semua yang kami sebut diatas akan sangat menyesal dengan apa yang mereka telah lakukan selama ini pada disabilitas dan pada semua orang-orang yang terpinggirkan seperti rekan -rekan kami yang mengalami kusta dan disabilitas berat lainnya.

Wujudkan keadilan sosial dimanapun kita berada, sekarang waktunya berubah, bukan karena ketakutan akan sistem yang akan semakin ketat, akan tetapi karena perubahan transformasi dan mental dalam kehidupan kita berbangsa, Dr Ir Soekarno presiden pertama Indonesia mengatakan dan bertekad “harus tidak ada kemiskinan dalam kemerdekaan Indonesia.” Bukan membangun sektarian dan diskriminasi serta stigma yang baru untuk komunitasnya, namun membangun sikap kepercayaan dalam masa kemerdekaan fisik kita. Bangunlah Indonesia yang merdeka dan bangun supaya tidak ada lagi yang tidak bekerja termasuk yang mengalami disabilitas, karena semuanya sama di hadapan Tuhan Yang Maha Esa!.

Sekian dan terima kasih atas segala perhatian yang diberikan kepada GPDLI dan komunitas disabilitas selama ini,niscaya kami akan bergerak dan bekerja dengan lebih semangat lagi di tahun 2017

SELAMAT MENYAMBUT HARI NATAL 25-26 Desember 2016 dan TAHUN BARU 1 Januari 2017.

Amin

Salam GDPLI – VIVA INDONESIA – VIVA DISABILITAS dan LEPROSY

Nuah, Hermen, Abi dkk