Mission Statement

What we want to achieve

Mari peduli dengan penyandang disabilitas dan lepra di Indonesia.

Learn more »

Past Event

31 Januari 2011

WORLD LEPROSY DAY 2011.

Be Our Friend

join our community

langthis!
Blog

GPDLI Mendukung Untuk Pemenuhan Janji Pak JOKO WIDODO Yang Harus Terkandung Dalam RUU Penyandang Disabilitas Yang Segera Akan Disahkan !

Sebagai salah satu saksi dalam proses Janji Pak Joko Widodo beberapa waktu yang lalu, kami sungguh merasakan hal yang tersebut diatas belum terwujud dengan baik, masih tetap menekankan isu isu yang berhubungan dengan CHARITY BASED dan belum menggapai hal-hal yang berhubungan dengan pendekatan HUMAN RIGHTS based yang sudah diakomodir bahkan hampir diseluruh dunia, hal ini belum menggapai yang lain juga yang berhubungan dengan KUSTA, dan kami siap untuk bergerak setelah ini, sudah cukup lah pemyandang disabilitas dan kusta dibuat menjadi bulan-bulanan OBJEK belaka bagi kaum intelektual dan yang mau nya yang mengalami disabilitas tetap hanya dibawah ketiak mereka yang merasa lebih beruntung dan berkuasa, Pak Presiden yang mulia, mohon di perhatikan elemen dasar ini dari sisi yang memberdayakan, kami ingin Bapak Presiden JOKO WIDODO yang memimpin GERAKAN ini sesuai dengan ESENSI REVOLUSI MENTAL yang sudah kita usung bersama sama pak, semoga Bapak meresponnya segera dan melaksanan AMANAT SUARA RAKYAT Terpinggirkan ini dengan seksama !!

SALAM KAMI

GERAKAN PEDULI DISABILITAS DAN LEPRA INDONESIA

FARHAN – Federasi ReIntegrasi Hansen Indonesia

http://print.kompas.com/baca/2016/02/04/Menagih-Janji-Presiden-Terkait-RUU-Penyandang-Disa  -

Menagih Janji Presiden Terkait RUU Penyandang Disabilitas

JAKARTA, KOMPAS — Mewakili suara penyandang disabilitas, sejumlah organisasi menagih janji Presiden Joko Widodo semasa kampanye calon presiden. Di acara bertajuk “Penyandang Disabilitas Menagih Janji Pemilu Jokowi”, Kamis (4/2/2016), di Jakarta, para aktivis menilai, Jokowi belum sepenuhnya membela hak-hak penyandang cacat dan memperjuangkan Rancangan Undang-Undang Penyandang Disabilitas untuk menjamin hak mereka.Ketua Perhimpunan Jiwa Sehat Yeni Rosa Damayanti mengatakan, RUU Penyandang Disabilitas belum memenuhi hak penyandang disabilitas. Hal itu tecermin dari hilangnya lebih dari 100 pasal yang diajukan dalam RUU. “Dari 268 pasal yang diajukan, hanya 161 pasal yang diterima pemerintah. Hilangnya sejumlah pasal dikhawatirkan membuat peraturan perlindungan menjadi lemah,” kata Yeni.
Yeni mengharapkan, pemerintah melengkapi beberapa pasal yang hilang. Pasal yang memperkuat hak-hak penyandang disabilitas antara lain tentang pembentukan Komisi Nasional Disabilitas (KND), potongan biaya untuk akses pelayanan publik, pemberian 2 persen kuota untuk pekerjaan, dan penghapusan bahasa isyarat.
Ketua Federasi Kesejahteraan Penyandang Cacat Tubuh Mahmud Fasa, mewakili sejumlah penyandang disabilitas di Indonesia, mengajukan tujuh poin dalam rangka menagih janji dan komitmen Jokowi dalam memperjuangkan hak-hak penyandang disabilitas.
Pertama, mendukung perjuangan pembentukan UU Penyandang Disabilitas dan pemenuhan hak-hak mereka. Kedua, memastikan disabilitas sebagai isu multisektoral. Ketiga, mengubah atau memperbaiki Pasal 1 Ayat 18 RUU Disabilitas. Keempat, menyetujui pembentukan Komisi Nasional Disabilitas.Kelima, menetapkan koordinasi lintas pemerintah untuk melaksanakan mandat UU Disabilitas secara efektif. Keenam, menyetujui skema keringanan biaya (konsesi) yang menyangkut kebutuhan mendasar, seperti layanan transportasi dan pendidikan. Ketujuh, mengingatkan presiden akan komitmen memperjuangkan hak-hak penyandang disabilitas.
Belum terpenuhinya hak penyandang disabilitas dialami oleh Erwin (41), penyandang disabilitas tunadaksa. Dia kerap mengalami kesulitan untuk memarkirkan kendaraan roda tiga miliknya di ruang publik.
“Penanda khusus lahan parkir untuk penyandang disabilitas di beberapa tempat belum tersedia, termasuk di sejumlah rumah sakit dan bandara. Mungkin hanya sekitar 15 persen tempat yang menyediakan fasilitas khusus tersebut,” kata Erwin.
Jokowi telah menandatangani Piagam Perjuangan Prof Suharso yang berisi komitmen untuk memastikan pengakuan, pemenuhan, dan perlindungan hak-hak para penyandang disabilitas pada Juli 2014.
(C05)
 

BANGKITKAN SEMANGAT HIDUP MEREKA YANG TERDAMPAK KUSTA DENGAN MENGHILANGKAN STIGMA DAN DISKRIMINASI PADA MEREKA SEBAGAI PRIBADI, KELUARGA DAN KOMUNITASNYA – World Leprosy Day 2016

BANGKITKAN SEMANGAT HIDUP MEREKA YANG TERDAMPAK KUSTA DENGAN MENGHILANGKAN STIGMA DAN DISKRIMINASI PADA MEREKA SEBAGAI PRIBADI, KELUARGANYA DAN KOMUNITASNYA suatu judul yang semoga bukan hanya sifatnya himbauan akan tetapi menjadi GERAKAN yang semakin membahana dalam setiap makhluk Indonesia dan semua yang memiliki nurani dan rasa serta jiwa yang hakiki, betapa naifnya kita jika kita disebut bangsa beragama namun masih sangat menstigma dan mendiskirimasi rekan rekan kita – saudara saudara kita, abang, kakak, adik kita yang tersayang dengan kata-kata dan ucapan yang tidak senonoh dan tidak tepat dan merasa kita paling benar dari semua makhluk yang paling benar dimuka bumi ini. Mari kita songsong World Leprosy Day pada hari Minggu yad ini dengan semangat kemanusiaan yang hakiki, membawa mereka yang terpinggirkan agar mereka semakin berdaya, memberikan pelayanan yang setara dengan siapapun tanpa membedakan yang mengalami kusta, disabilitas dan lain sebagainya, hidup damai di Bumi Pancasila – INDONESIA yang indah ini, AMIN.

 

HAPPY NEW YEAR 2016 – Selamat Menyambut Dunia Yang Semakin INKLUSIF

Selamat Tahun Baru 2016 kami ucapkan kepada seluruh shareholders dan stakeholders dari GPDLI, selamat masuk kedalam tahun 2016 yang penuh tantangan dan pengharapan yang baik di tahun yang baru ini, semakin dekatnya penandatanganan CRPD dalam bentu UU DISABILITAS membuat banyak kesibukan baru dalam mengantisipasi UU yang akan sangat berdaya ini, tidak ketinggalan juga banyak organisasi disabilitas dan bahkan kusta sudah bersiap siap masuk kepada arena yang semakin menjadi arus utama pelayanan di Indonesia yang kita cintai. Tidak ada satupun kelak yang terpinggirkan semuanya akan bersatu padu dalam membangun INDONESIA yang semakin inklusif, menjadi satu dalam BHINEKA TUNGGAL IKA yang merupakan ciri khas dan NILAI utama Indonesia!

Pesan kami kepada semua rekan rekan, marilah kita jaga negeri ini dengan baik, kita rawat dan bangun serta berdayakan agar negeri dapat mencapai cita citanya seperti yang telah Bapak Bangsa kita sudah impikan, Amin.

 

DI PENGHUJUNG 2015 DAN DI AWAL 2016 – WAKTU BERGERAK SANGAT CEPAT !

Dipenghujung tahun 2015 ini yaitu tanggal 31 Desember 2015 kita dapat merasakan kegembiraan yang begitu besar dalam kehidupan kita sebagai anggota masyarakat dunia dan Indonesia, dan di kota serta desa yang kita tempati, rasa rasanya kita ingin segera menginjakkan kaki ke tahun 2016 yang penuh tantangan itu. Banyak sekali sinyalemen yang muncul, namun rasa optimis yang terlalu tinggi akan membuat kekecewaan yang akan meliputi kita kedepan. Namun kita juga tidak boleh terlalu pesimis karena kita tahu bahwa Tuhan Yang Maha Esalah yang menjadi pemilik hari depan kita, GPDLI yang sudah bergerak sejak 15 Desember 2009 sampai sekarang sudah genap 6 tahun keberadaan kami. Bahkan pada tanggal 10 Desember 2015 kemarena GPDLI telah berhasil memfasilitasi pendirian FARHAN – Federasi ReIntegrasi Hansen Indonesia yang fenomenal itu, bersama rekan rekan yang mengalami kusta atau hansen atau leprosy atau lepra di Indonesia yang datang dari beberapa lembaga kusta yang ada, dan individual.

Bersyukur untuk hal ini, dan bukan hasilnya saja yang akan kita nikmati secara langsung pada tahun 2015, akan tetapi akan menjadi besar dengan berjalannya waktu guna membantu memfasilitasi pengembangan diri, keluarga dan masyarakat kusta yang selama ini dipinggirkan! Mari kita bersama sama membantu kemandirian organisasi payung HANSEN kedepan, tanpa peran serta kita semua, akan mustahil menjadi organisasi yang berdaya. Kelak beberapa waktu yang akan datang kita akan fasilitasi HANSEN mengadakan KONGRES yang besar untuk membangun organisasi yang punya daya pressure dan impact tinggi ke nasional dan internasional. Kami di GPDLI sebagai pelayannya.

Selamat untuk semua hal yang terjadi – termasuk acara besar yang sudah terselenggara bersama Bina Nusantara University yang bernama RUN FOR LEPROSY yang fenomenal itu, melibatkan paling tidak 5000 orang atau lebih dan berdampak kepada JUTAAN orang di JABODETABEK dan bahkan secara internasional! Juga pada semua event yang terjadi, GPDLI semakin besar dan berdampak, dimulai dari segelintir orang yang punya VISI bagi bangsa Indonesia !. Maju terus menuju kejayaan khusus pada komunitas dan pribadi serta keluarga yang selama ini dipinggirkan – engkau TIDAK LAGI DIPINGGIRKAN, AYO MAJU KE TENGAH dan BERGERAK MAJU bekerja sama berkolaborasi dengan ALIANSI DISABILITAS dan komunitas komunitas lainnya, SELAMAT TAHUN BARU SELAMAT SEMANGAT BARU di UFUK 2016.

 

SEMUANYA DIMULAI DARI MIMPI atau VISION – Terimakasih Bapak Presiden JOKO WIDODO

Impian Indonesia 2015 – 2085

Usai membacakan sambutan, Presiden Jokowi mendampingi dua siswa kelas 6 Sekolah Dasar Hati Kudus, yaitu Laher Fabiola Ogilin atau Febi dan Lois Ferdinand Kombombiran atau Dedi membaca Impian Indonesia 2015-2085, yang berisikan:

1. Sumber daya manusia Indonesia yang kecerdasannya mengungguli bangsa-bangsa lain di dunia;

2. Masyarakat Indonesia yang menjunjung tinggi pluralisme, berbudaya, religius, dan nilai-nilai etika;

3. Indonesia menjadi pusat pendidikan, teknologi, dan peradaban dunia;

4. Masyarakat dan aparatur pemerintah yang bebas dari perilaku korupsi;

5. Terbangunnya infrastruktur yang merata di seluruh Indonesia;

6. Indonesia menjadi negara yang mandiri dan paling berpengaruh di Asia Pasifik; dan

7. Indonesia menjadi barometer pertumbuhan ekonomi dunia. (TKP/ES)

http://setkab.go.id/resmikan-monumen-kapsul-waktu-presiden-jokowi-ayo-kita-kerja-wujudkan-mimpi-bersama/

Presiden Joko Widodo (Jokowi) meresmikan Monumen Kapsul Waktu Impian Indonesia 2015-2085, yang diselenggarakan di lapangan Hasanap Sai, Kabupaten Merauke, Papua,  Rabu (30/12) pagi.

Kapsul Waktu Impian Indonesia ini merupakan wadah sejarah berbentuk kapsul tempat menyimpan dokumen tulisan impian masyarakat dari setiap provinsi di Indonesia, yang diletakkan tahun 2015 dan dibuka tahun 2085.

Dalam sambutannya Presiden Jokowi mengatakan, kapsul waktu ini telah mengumpulkan harapan dan impian seluruh anak bangsa, dari Nol Kilometer di Kota Sabang, sampai Kabupaten Merauke, di ujung timur Indonesia ini.

“Impian setiap anak bangsa di setiap provinsi, kita jadikan satu menjadi impian kita bersama, satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa,” kata Presiden Jokowi.

Presiden berharap, agar impian yang telah terangkai satu ini bisa menjadi pemandu arah menuju masa depan yang diimpikan bersama segenap anak bangsa Indonesia.

“Menjadi tugas kita untuk memastikan impian-impian itu terwujud. Apa yang kita lakukan hari ini adalah warisan untuk generasi di depan kita,” kata Presiden seraya menyebutkan, tanah Papua adalah tempat yang tepat untuk mengawali upaya mewujudkan mutiara impian anak bangsa dalam kapsul waktu.

Namun Presiden Jokowi mengingatkan impian-impian hanya bisa diwujudkan dengan kerja keras. “Ingat, visi ke depan kita adalah visi kompetisi, visi kom..pe..ti..si…. Saya yakin dengan kerja bersama, dengan semangat gotong-royong, kita mampu memenuhi impian kita, kita mampu mewujudkan impian kita,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu Presiden Jokowi juga menyampaikan apresiasi kepada Gerakan 70 tahun Indonesia Merdeka yang telah menginisiasi  Ekspedisi Kapsul Waktu. “”Sekarang menjadi tugas kita bersama untuk mewujudkan, bukan menunggu terwujud. Mimpi tidak akan terwujud dengan sendirinya, harus diupayakan dengan segenap keyakinan,” tuturnya.

 

SELAMAT NATAL 2015 dan TAHUN BARU 2016 – Selamat Datang untuk FARHAN – Federasi ReIntegrasi Hansen Indonesia

Selamat Natal untuk semua rekan rekan yang telah merayakan Natal untuk tahun ini, juga kepada rekan rekan yang merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW pada tanggal 24 Desember 2015 yang lalu, dan ada juga perayaan dari Kaum Buddhist serta Hindu di akhir tahun 2015 yang luar biasa!!, Menunjukkan bahwa harus ada persatuan antara sesama umat beragama dalam melawan tantangan dunia yang semakin kompleks dan berbahaya, baik dari sudut Perdamaian, Sosial-Ekonomi, Budaya, Agama dan Kepercayaan, Etika dan lain sebagainya. Mari membangun INDONESIA dan DUNIA yang semakin baik kedepan untuk ANAK CUCU kita, salam kami

GPDLI dan FARHAN

Hermen Hutabarat – KETUA FARHAN

Ali Saidy – BENDAHARA FARHAN

Binti Khofifah – SEKRETARIS FARHAN

Dorhan Marbun – Anggota

Nuah P Tarigan – Facilitator

 

From The Jakarta Post : Promoting rights of people with disabilities in ASEAN Hafid Abbas , Jakarta | December 10 2015 | 4:33 PM

http://m.thejakartapost.com/news/2015/12/10/promoting-rights-people-with-disabilities-asean.html

It is a historic coincidence that the commemoration of the International Day of Persons with Disabilities, Dec. 3, marks a decade of the adoption of the UN Convention on the Rights of Persons with Disabilities (CRPD), while ASEAN will officially become a single community of nations politically, economically and socio-culturally by the end of this year, and seven days prior to the commemoration of the 67th of the Universal Declaration of Human Rights. The theme of the day for 2015 is inclusion matters: access and empowerment for people of all abilities.

ASEAN needs to be consistent as a human rights friendly community, given its vision to be “a concert of Southeast Asian nations, bonded together in partnership in dynamic development and in a community of caring societies.”

Across ASEAN, some 62 million people live with disabilities — about 10 percent of the region’s population. Just under half (45 percent) of them live in Indonesia, some 16 percent live in the Philippines, 13 percent in Vietnam, 11 percent in Thailand, and the other 15 percent in the remaining ASEAN countries.

This figure would probably double or multiply even further if the aging population is included. They belong to the poorest of the poor, and encounter a myriad of physical and social obstacles that prevent them from receiving an education; getting jobs, even when they are well qualified; accessing information, obtaining proper health care; etc.

ASEAN should prepare a regional plan of action to promote and protect the rights of persons with disabilities. As a regional plan of action, it should address the challenges facing rights in the region. Challenges include its diverse government systems, languages and religions, not to mention size and a myriad of cultures and ethnicities.

Under these circumstances, it is utopian to prepare a regional plan of action for human rights in a uniform approach. Further, a regional plan of action should be goal oriented. The Incheon Strategy provides the Asia-Pacific region, and the world, with the first set of 10 regionally agreed disability-inclusive development goals, such as expanding early intervention and education of children with disabilities. ASEAN could adopt those goals into a plan of action framework.

First, each ASEAN member state should identify and strengthen the line ministries and other related institutions with a mandate to deal with education.

For example, to increase primary education enrollment rates of children with disabilities, the education, social affairs and home ministries and teachers’ associations are the most responsible institutions for making education available, accessible, acceptable, affordable and adaptable to all disabilities.

A next step would be to prepare policy frameworks and legislation. Indonesia alone has 16 laws dealing with disabilities including Law No. 4/1997 on persons with disabilities, and Law No. 19/2011 on the ratification of the CRPD.

These laws have to be harmonized with international and regional standards as mandated by the convention.

Step three is training and campaigns. The universal principles of the CRPD should be understood by teachers, principals, law enforcers, civil society organizations and the media. A new culture is needed to respect differences and accept persons with disabilities.

Step four is the implementation of norms and standards of human rights with better comparability of disability data. To achieve the Incheon Strategy, centers of excellence could be identified in member countries as a basis for regional collaboration.

The last step is to monitor the plan of action. One of the mandates and functions of the ASEAN Intergovernmental Commission on Human Rights (AICHR) is to promote capacity building for effective implementation of international human rights treaty obligations undertaken by member states.

Hopefully ASEAN as a single community of nations could be a disability-friendly community, which is an inclusive and accessible society for all.
________________________________

The writer, a member of the National Commission on Human Rights, was director general of human rights at the Law and Human Rights Ministry, the focal point for the preparation and the implementation of Indonesia’s National Plan of Action on Human Rights. – See more at: http://m.thejakartapost.com/news/2015/12/10/promoting-rights-people-with-disabilities-asean.html#sthash.Okt7afoV.dpuf

 

Deklarasi Federasi Reintegrasi Hansen Indonesia (FARHAN)

Siaran Pers

Deklarasi

Federasi Reintegrasi Hansen Indonesia

(FARHAN)

Di seluruh penjuru dunia, Orang Yang Terdampak Kusta (OYTK) masih terus mengalami stigma dan diskriminasi sehingga mereka mengalami kesulitan dalam mengakses pendidikan, pekerjaan, perkawinan dan bentuk partisipasi sosial lainnya.

Stigma dan diskriminatif terhadap OYTK antara lain disebabkan oleh mitos dan sedikit atau kurangnya informasi tentang penyakit kusta sehingga menyebabkan masyarakat mengalami ketakutan yang berlebihan.

Sesungguhnya kusta adalah salah satu penyakit menular yang paling sedikit atau paling sulit penularannya. Lebih dari 85% kasus penyakit kusta tidak menular dan tidak menyebarkan penyakit. Bahkan 99% orang memiliki kekebalan alami atau resistensi terhadap kusta. Kusta juga tidak menurun kepada anak cucu dan dapat disembuhkan dengan terapi multidrug (MDT), pengobatan yang sangat efektif yang sudah tersedia sejak awal tahun 1980. Pengobatan kusta berlangsung mulai 6 sampai 12 bulan. Seorang pasien kusta tidak akan menularkan penyakitnya setelah menjalani pengobatan putaran pertama. Kusta juga dapat didiagnosis dan diobati di puskesmas atau pusat kesehatan terdekat karena saat ini layanan kusta sudah terintegrasi ke dalam pelayanan kesehatan umum di setiap negara.

Di Indonesia,  pengobatan kusta tersedia di semua pos kesehatan di seluruh daerah. Terdapat 10 rumah sakit kusta yang berfungsi sebagai pusat rujukan. Ada sekitar 350 ribu orang di Indonesia yang telah dirawat dan sembuh dari kusta.

Di dunia, terdapat 16 negara yang melaporkan lebih dari 1.000 kasus baru penderita kusta. Negara-negara ini menyumbang 95% dari total kasus baru yang dilaporkan di seluruh dunia. Lima besar negara tersebut adalah: 1) India 134.752; 2) Brasil 33.303; 3) Indonesia 18.994; 4) Nigeria 3.805; 5) Ethiopia 3.776. Brasil adalah satu-satunya negara yang belum mencapai eliminasi kusta sebagai masalah kesehatan masyarakat (seperti yang didefinisikan oleh World Health Organization (WHO)/Organissi Kesehatan Dunia, eliminasi kusta sebagai masalah kesehatan masyarakat terjadi ketika tingkat prevalensi penyakit turun di bawah 1 kasus per 10.000 penduduk).

Stigma dan perlakuan diskriminatif terhadap OYTK juga disebabkan oleh belum adanya sebuah organisasi tingkat nasional sebagai wadah aspirasi dan perjuangan untuk menghapus segala bentuk stigma dan tindakan diskriminatif terhadap OYTK.

Pada tahun 2010 Majelis Umum PBB mengadopsi resolusi tentang “Penghapusan diskriminasi terhadap OYTK dan anggota keluarganya.” Menurut Prinsip dan Pedoman yang menyertai resolusi menyebutkan bahwa,”Negara, bekerja sama dengan Lembaga Nasional Hak Asasi Manusia, organisasi non-pemerintah, masyarakat sipil dan media, harus merumuskan kebijakan dan rencana aksi untuk meningkatkan kesadaran seluruh masyarakat untuk mendorong penghormatan terhadap hak dan martabat OYTK dan anggota keluarganya.”

Pelaksanaan Deklarasi Federasi Reintegrasi Hansen Indonesia (FARHAN) merupakan tonggak baru terhadap pengakuan  OYTK sebagai kelompok penyandang disabilitas dan marjinal. Selain memperkenalkan keberadaan FARHAN, deklarasi dimaksudkan untuk menggalang kemitraan dengan lembaga/organisasi lain dalam rangka perwujudan penghormatan, perlindungan dan pemenuhan hak-hak asasi OYTK.

Melalui deklarasi ini diharapkan muncul komitmen bersama untuk menghapus segala stigma dan diskriminasi terhadap OYTK dan anggota keluarganya, tersampaikannya pemahaman yang benar dan cara pandang yang positif dari seluruh stakeholders dan masyarakat luas terhadap OYTK dan anggota keluarganya, dan munculnya kesadaran serta kepedulian masyarakat untuk berpartisipasi dalam menghapus stigma dan diskriminasi terhadap OYTK dan anggota keluarganya. Juga adanya komitmen yang sungguh-sungguh dari stake holder untuk melaksanakan kegiatan nyata dalam rangka pemberdayaan OTYK pasca deklarasi.

Komnas HAM sebagai lembaga HAM nasional yang mandiri diminta menjadi penyelenggara kegiatan tersebut karena Komnas HAM memiliki kepedulian tinggi terkait isu kusta, memiliki jaringan kerja yang luas, dan memiliki posisi strategis untuk menyebarluaskan nilai-nilai HAM, terutama untuk mengkampanyekan penghentian segala bentuk stigma dan diskriminasi terhadap OYTK dan anggota keluarganya. Kami mengundang kalangan media massa untuk ikut mempublikasikan kegiatan ini dalam rangka mendorong penghapusan stigma dan diskriminasi terhadap OYTK yang masih terjadi hingga saat ini.

Demikian keterangan pers ini kami sampaikan dalam rangka mendorong upaya bersama menciptakan kondisi yang kondusif bagi pemajuan, perlindungan dan penegakan hak asasi manusia di Indonesia.

Jakarta, 10 Desember 2015

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM)

Komisioner

Dr. Ansori Sinungan

 

Pencanangan FARHAN – Federasi Re-Integrasi Hansen Indonesia pada Hari Hak Azasi Manusia Dunia 10 Desember 2015

Pencanangan FARHAN ini bukan tiba-tiba terjadi, namun sudah mengalami proses yang cukup panjang, membangun sebuah organisasi payung seperti FIFA atau PSSI atau Organisasi yang anggotanya nanti adalah organisasi-organsasi yang punya perhatian pada masalah Morbus Hansen atau Kusta atau Lepra tidaklah mudah, perlu ada keberanian yang lebih karena nantinya organisasi ini akan menjadi pengawal yang paling rendah atau mengakar kebawah dan terkait tinggi dalam isu-isu yang berhubungan dengan kusta. Tidak dapat dipungkiri bahwa isu kusta saat ini semakin besar perhatian masyarakat Indonesia dimanapun!, namun sangat minim dalam konteks Visi besar yang berjangka-panjang, FARHAN terjadi bukan untuk menampung dan meraup dana-dana besar yang akan masuk kedalam organisasi, justru program ini adalah program “nombok” yang bahkan dimulai dari suatu keberanian dalam membangun organisasi yang memiliki integritas yang tinggi.

Persis yang dialami oleh Gerakan Peduli Disabilitas dan Lepra Indonesia (GPDLI) sekitar 6 tahun lalu, dan bertepatan pada tanggal 15 Desember 2015 – GPDLI sudah berusia 6 Tahun, dari keberanian dua orang sahabat dekat yang bernama Hermen dan Nuah, semua halangan dan rintangan diterjang bahkan sampai sekarang banyak sekali dinamika yang terjadi dalam konteks organisasi yang makin mandiri disemua daerah Indonesia.

Seperti kita ketahui, dana yang masuk ke organisasi kusta diseluruh dunia semakin minim, bahkan semakin menurun, disebabkan oleh krisis dan juga semakin bergemanya penyakit menular lainnya yang mewabah di dunia ini. Padahal mereka yang dalam konteks isu tersebut bahkan mendapat dukungan dana dan dunia sangat besar!. Namun kami tidak berputus asa, ada saja ide baru yang muncul pada tahun-tahun terakhir ini dengan munculnya masukan yang berhubungan dengan Social Entrepreneurship dan berhubungan dengan lembaga internasional seperti The British Council, Teach For Indonesia (TFI)/ Bina Nusantara University, dlsb.

FARHAN adalah organisasi untuk organisasi yang akan membangun kepentingan komunitas kusta- disabilitas dan lain sebagainya. FARHAN bukan underbow dari organisasi kusta yang ada namun merupakan bagian tak terpisahkan dari aliansi disabilitas dan aliansi organisasi CSO, Disable People Organisation atau NGO, dan lain sebagainya.

SELAMAT untuk FARHAN dan tetap jaya dalam membangun KEBERSAMAAN DAN EGALITER SERTA KEMAJUAN DALAM INTEGRITAS YANG SEJATI, salam

G P D L I

www.pedulidisabilitas.org

 

Matsen Sitepu – Volunteer GPDLI yang terus Membangun Pemahaman yang Benar tentang Disabilitas dan Hansen/ Kusta/ Lepra untuk Komunitasnya!

Matsen Sitepu sebelumnya berkarir sebagai Newton Running Company-Director of General Affairs, disebuah perusahaan manufacturing sepatu yang memproduksi sepatu yang berkwalitas tinggi, serta banyak dipakai para olahragawanan dunia!, sebelumnya tidak mengetahui sama sekali tentang kusta atau hansen atau lepra yang dimaksud, pemahaman terbatas karena di dalam masyarakat, informasi tentang hal disabilitas apalagi yang berhubungan dengan kusta sangat minim. Diperlukan ketelitian untuk yang tinggi untuk mencari sumber yang tepat benar tentang kusta. GPDLI bertemu dengan Bapak Matsen di Medan dalam satu kesempatan, juga dalam beberapa event di Jakarta dan sekitarnya, namun setelah berjumpa terakhir ini merasa tertarik dengan kegiatan GPDLI yang berhubungan dengn pemberdayaan masyarakat.

Dalam benak pikiran beliau, sudah terstigma bahwa orang yang mengalami kusta adalah sangat mudah menular, namun setelah kami terangkan dengan baik, bahwa sudah ada obat MDT dan sudah disediakan di Puskesms dan gratis. Pak Matsen akhirnya mengalami transformasi yang menyeluruh bahwa tidak seperti itu jalur pemikiran yang benar tentang kusta. Kami bersyukur dengan perubahan yang signifikan ini, bayangkan kalau banyak rakyat Indonesia banyak berubah maka kita akan melihat perubahan yang sangat mendasar tentang kusta di Indonesia ! semoga dengan pembentukan FARHAN dan juga peran GPDLI yang semakin meluas akan membawa perbedaan segera.

Pak Matsen sangat bersemangat tinggi, apalagi dengan sepatu olah raga Newton yang dipakainya membawa rasa optimis dan memiliki konsistensi serta persistensi, semua persoalan akan dapat diselesaikan dengan baik dan berkelanjutan. Untuk Pelayanan Gereja Pak Matsen sebagai Pendeta / Wakil Gembala / Pengkhotbah di Gereja Bethel Indonesia, Kampus Universitas Budi Luhur, Petukangan, Jaksel. Terima kasih pak. Salam kami.  Foto dibawah Pak Matsen yang berperawakan seperti seorang penyanyi Ambon Melky Goeslaw berpose dengan Pengungsi Sinabung, Tanah Karo . Luar biasa semangatnya Bapak kita ini !!