Mission Statement

What we want to achieve

Mari peduli dengan penyandang disabilitas dan lepra di Indonesia.

Learn more »

Past Event

31 Januari 2011

WORLD LEPROSY DAY 2011.

Be Our Friend

join our community

langthis!
Blog

TINGKAT COMPETITIVENESS Indonesia di ASEAN dan hubungannya dengan PENYAKIT MENULAR ! termasuk Leprosy

4. Indonesia has benefited from infrastructure and connectivity improvements, strengthening public and private governance, and has achieved a remarkable 36th place for government efficiency. Despite progress, corruption remains prevalent (87th) and the labor market (110th) remains the country’s weakest aspect, owing to rigidities in wage setting and hiring and firing procedures. The participation of women in the workforce remains low (112th), public health (99th) is an area of concern, and the incidence of communicable diseases and infant mortality are among the highest outside sub-Saharan Africa. On the more sophisticated drivers of competitiveness, Indonesia’s technological readiness is lagging (77th) with the use of ICTs by the population at large comparatively low (94th.)

 

PROGRAM LEGISLASI NASIONAL (PROLEGNAS) – untuk RUU tentang PENYANDANG DISABILITAS – on Progress – Semoga Dapat Efektif tahun 2015 ini

Pada saat ini Prolegnas untuk RUU tentang Penyandang Disabilitas sedang dalam tahapan progess, semoga dalam waktu ini semakin kelihatan dan nyata dan disahkan untuk dipakai diseluruh tanah air INDONESIA, mari bersatu padu untuk bekerja sama sampai garis FINISH, terima kasih untuk semuanya, yang paling aktif dari GPDLI adalah Bapak KETUA GPDLI – HERMEN HUTABARAT, salam sukses pak

SALAM GPDLI

Tentang RUU

Pengusul
  • DPR, KOMISI – Komisi VIII.
  • DPR, MASYARAKAT – KomNasHAM.
  • DPR, MASYARAKAT – Komisi Hukum Nasional.
  • DPR, MASYARAKAT – DPP- Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia.
  • DPR, MASYARAKAT – Gerakan Peduli Disabilitas dan Lepra Indonesia.
  • DPR, MASYARAKAT – Persatuan Tuna Netra Indonesia.
  • DPR, MASYARAKAT – Pusat Pemilihan Umum Akses Penyandang Cacat.
  • DPR, MASYARAKAT – Persatuan Orang Tua Anak Disabilitas Indonesia.
  • DPR, MASYARAKAT – Federasi Kesejahteraan Penyandang Cacat Tubuh Indonesia.
  • DPD, DPD – Komite III.

Lihat LINK Nya di : http://dpr.go.id/prolegnas/index/id/26

Latar Belakang dan Tujuan Penyusunan
    1. Penyandang disabilitas sebagai bagian dari umat manusia dan warga Negara Indonesia secara konstitusional mempunyai hak dan kedudukan yang sama dihadapan hukum dan pemerintahan, atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusian, dan perlu mendapat perhatian serius terutama dalam bentuk penyediaan perlindungan lebih atau perlakuan khusus (dijamin dalam Pasal 28 H dan Pasal 28 I ayat (2) UUD NRI 1945 serta dalam Pasal 5 ayat (3), Pasal 41 ayat (2), dan Pasal 42 UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia);
    2. Sebagian besar penyandang disabilitas di Indonesia hidup dalam kondisi rentan, terbelakang, dan berada di bawah garis kemiskinan yang terjadi diantaranya karena masih adanya diskriminasi, marginalisasi, isolasi, dan berbagai perlakuan destruktif lainnya yang disebabkan oleh berbagai hal seperti stigma, stereotype, rejudisme, sikap apriori, sinisme, dan lain-lain serta karena lemahnya peraturan perundang-undangan;
    3. Peraturan hukum tentang perlindungan hak penyandang disabilitas kurang tersosialisasi dengan baik, tidak ada penegasan sanksi dalam peratuan pelaksanaannya, serta sering tidak sinkron dengan peraturan hukum lainnya;  dan

    UU Nomor 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat disusun dan diterbitkan pada saat minimnya referensi tentang perlindungan hak-hak penyandang disabilitas, baik secara nasional, regional, maupun global. Sehingga secara substantif materi muatan yang terkandung dalam UU ini cenderung memiliki pemahaman tentang penyandang disabilitas yang terbatas.

Sasaran yang ingin Diwujudkan
    1. RUU ini menjadi legal standing dalam mempelopori revolusi pencerahan bagi penyandang disabilitas; dan

    RUU ini dapat menjadi a tool social control and a tool of social engineering bagi penyelenggaraan negara dan kemasyarakatan serta seluruh rakyat Indonesia dalam membangun kesadaran untuk melindungi dan memajukan pemenuhan hak penyandang disabilitas di Indonesia.

Jangkauan dan Arah Pengaturan
    Dalam RUU tentang Penyandang Disabilitas ini, jangkauan dan arah pengaturannya mencakup:

    1. Ketentuan umum;
    2. Pengaturan mengenai Hak sipil serta hak memperoleh keadilan dan perlindungan hukum, Hak dalam  bidang pendidikan, Hak dalam bidang pekerjaan, Hak dalam bidang kesehatan, Hak dalam bidang politik, Hak berekspresi, berkomunikasi, dan memperoleh informasi, Hak dalam bidang keagamaan, Hak dalam bidang kesejahteraan sosial, Hak dalam bidang perekonomian, Hak dalam bidang olahraga, Hak dalam bidang perumahan, Hak dalam bidang pelayanan publik, dan Hak dalam bidang aksesibilitas dan sistem kelembagaan disabilitas;
    3. Jenis dan derajat kedisabilitasan;
    4. Sensus statistik dan pengumpulan data;
    5. Koordinasi;
    6. Kerjasama regional dan internasional;
    7. Pembinaan dan pengawasan;
    8. Penghargaan;
    9. Pendanaan;
    10. Peran organisasi, keluarga dan masyarakat;
    11. Komisi Nasional Disabilitas Indonesia; dan

    Ketentuan sanksi.

    Dasar Pembentukan

    Pasal 28H ayat (2) dan Pasal 28J ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Posisi RUU
    1. Judul RUU ini diusulkan oleh Komisi VIII untuk masuk dalam Prolegnas 2015-2019.

    RUU tentang Penyandang Disabilitas sudah ditetapkan menjadi RUU usul DPR pada periode keanggotaan 2009-2014.

 

SIAPA BILANG DI SUMATERA UTARA TIDAK ADA LAGI STIGMA DAN DISKRIMINASI PADA DISABILITAS DAN KUSTA!

Dari beberapa kali pertemuan dengan rekan rekan yang ada di Sumatera Utara, dimana juga masih banyak limpahan rekan rekan yang mengalami kusta dari Aceh dan propinsi yang lain, ternyata stigma dan diskriminasi terjadi dengan sangat menyedihkan dan mempengaruhi kwalitas kehidupan mereka, Pak Hermen sangat menentang kejadian yang terjadi di beberapa kampung di Sumatera Utara, dan GPDLI tetap bekerja sampai sekarang untuk memperjuangkan segalanya yang berhubungan dengan situasi kondisi tersebut. Dukunglah GPDLI dalam bentuk nyata!

 

GERAKAN MASYARAKAT SIPIL DAN KOMUNITAS DISABILITAS DAN KUSTA TERUS BERGERAK DISELURUH INDONESIA

 

Writing Contest Winner – 4th Conference of The ASEAN Disability Forum di MYANMAR 16-18 Desember 2014

Writing Contest

In Order Ahead of the 4th Conference of the ASEAN Disability Forum in Myanmar 16-18 December 2014

LIVELIHOOD, REDUCING POVERTY RATE, AND SOCIAL SERVICES IN INDONESIA DISABILITIES COMMUNITY

Nuah Perdamenta Tarigan

“Every day we are constantly reminded that work for everyone, determining the existence of human beings. Work is a way to survive and meet basic needs. But the work is also an activity in which the individual recognizes their identity, both to themselves and those around them. It is very important for themselves, family welfare and stability of society. “- Juan Somavia, ILO Director General, June 2001

Demikian tulisan pendahuluan dari Paper yang memenangkan Kontes Menulis sebelum diadakannya Pertemuan ke 4 ASEAN DISABILITY FORUM di Myanmar, dimana GPDLI memenangkan lomba penulisan ini dengan tema tersebut diatas, sukses terus untuk semua komunitas disabilitas dan kusta dimanapun di Indonesia, ASEAN dan global.

 

A LEADER WITH A VISION – Good Bye Mr Lee – REST IN PEACE

In his own words, Mr Lee said: “For the young, let me tell you the sky has turned brighter. There’s a glorious rainbow that beckons those with the spirit of adventure. And there are rich findings at the end of the rainbow. To the young and to the not-so-old, I say, look at that horizon, follow that rainbow, go ride it.”

- CNA/ly

 

The JAKARTA CONSENCUS ! Untuk Pemberdayaan Penyandang DISABILITAS seluruh INDONESIA (termasuk yang mengalami KUSTA)

THE JAKARTA CONSENSUS (7th February 2015)  at Wisma PGI Jakarta (Pertemuan yang didukung oleh DISABILITY RIGHTS FUND)

A. PEMERINTAH (Eksekutif, Legislatif, Yudikatif) Nasional/ Daerah harus memperhatikan Kaum Disabilitas dan Kusta lebih baik lagi dengan memberikan akses yg terbuka, akurat , transparan dan responsif dalam segala aspek !

B. Sektor Pemerintah, sektor Swasta dan masyarakat harus bisa menciptakan Lapangan pekerjaan  dan kewirausahaan serta pelatihan kerja dan ketrampilan  bagi orang yang mengalami disabilitas/ kusta, keluarga  dan komunitasnya agar tidak menimbulkan masalah sosial dan ekonomi  yang lebih besar lagi!

C.  Harus diikutsertakan dalam setiap proses perencanaan , penyusunan dan pengawasan program pemerintah maupun swasta serta masyarakat dalam menyusun rencana strategis pembangunan serta mengawalnya dalam pengembangan masyarakat kedepan TANPA STIGMA DAN DISKRIMINASI!

In ENGLISH:

THE JAKARTA CONSENSUS

A. GOVERNMENT (Executive, Legislative, Judicial) National / Regional, should pay attention to People who have disabilities and leprosy better by giving access to an open, accurate, transparent and responsive in all aspects!

B. The government sector, private sector and the public should be able to create jobs and entrepreneurial field and job training and skills for people with disabilities / leprosy, their families and communities so as not to cause social and economic problems are even greater!

C. Must be included in any process of planning, preparation and supervision of government and private programs and community development in strategic planning as well as to guard them in the development of future society, NO STIGMA AND DISCRIMINATION!

SALAM KAMI !

1. Amir Alrafati

2. Anggih Ardiyani

3. Hermen M. Hutabarat

4. Ismail

5. Ita Siti Fatimah

6. Nuah P. Tarigan

7. Robi Darmawan

8. Yatmo

9.Sri Yatmo

10.Maulani Rotinsulu

 

RUN for LEPROSY 15 Maret 2015 telah berlangsung dengan sukses ! TERIMA KASIH KAMI PADA TEACH FOR INDONESIA dan PT ALAM SUTERA atas Dukungannya.

Acara AWARENESS ini telah berlangsung dengan sangat sukses, dimana sekitar 4000 orang bahkan mungkin lebih telah bersatu padu dalam menghilangkan STIGMA dan DISKRIMINASI pada orang yang mengalami dan sudah pernah mengalami kusta! Respon masyarakat sungguh sangat luar biasa, sampai sampai kami tidak dapat menyampaikan dengan kata-kata, kita bersyukur karena semuanya sudah berjalan dengan baik dan tanpa kurang suatu apapun, bahkan sudah ada yang meminta untuk dibuat acara khusus lagi di tahun depan !.KIRANYA SEMAKIN BERKURANG BEBAN STIGMA DAN DISKRIMINASI terhadap KUSTA beberapa tahun kedepan! SALAM PEMBERDAYAAN. Terima kasih untuk pendukung lain seperti BINA NUSANTARA UNIVERSITY pastinya, NLR dlsb (Foto – Bapak Hermen M Hutabarat – Ketua I GPDLI) diambil dari LIPUTAN 6 SCTV (gambar diatas)

 

PUISI: SEBUAH IMPIAN – oleh: Amir Alrafati

Memang semua tak akan indah apabila kita masih mempunyai bara di hati dan benak kita.

Kadang terlupa apa yang pernah kita niatkan dan apa yang pernah kita impikan “MEMPUNYA HATI YANG IKHLAS”.

Berat dan memang sangat berat memiliki hati dan benak seperti itu.

Tetapi tak ada salahnya lah jikalau kita mampu untuk sekedar mencoba dan lakukan hal yang kita niatkan dan impikan itu.

Banyak sudah halang rintang beriring berarak ikuti langkah2 kaki kita.

Namun dengan pondasi yang masih kokoh kita miliki, bukan hanya dapat menegakan kaki kita tetapi dapat juga menepis semua hentakan2 yang mau mematikan.

Sudahlah sudahi ini semua…rapatkan kembali nurani kita pada satu arah yang pasti.
<<<<JUST SILENT>>>

By AMIR ALRAFATI

 

SAMBUTAN Menteri Sosial RI Pada Acara “RUN for LEPROSY” Gerakan Peduli Disabilitas dan Lepra Indonesia (GPDLI), TFI dan Alam Sutera dan Team

SAMBUTAN

MENTERI SOSIAL RI

Pada Acara

RUN FOR LEPROSY

GERAKAN PEDULI DISABILITAS DAN LEPRA INDONESIA

di

ALAM SUTRA SERPONG TANGERANG

15 MARET 2015

Assalammu’alaikum Wr. Wb,

Salam Sejahtera bagi Kita Semua,

Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkah dan rahmatNya kita semua dapat berkumpul di tempat ini untuk bersama-sama mengikuti kegiatan “Run For Leprosy”, yang digagas oleh Organisasi Sosial Gerakan Peduli Disabilitas dan Lepra Indonesia (GPDLI), bekerjasama dengan Teach For Indonesia (TFI) Universitas Bina Nusantara (BINUS), serta dukungan dari berbagai pihak.

Para hadirin yang saya hormati,

Penyakit kusta merupakan penyakit infeksi yang sampai sekarang masih dipersepsi secara keliru oleh sebagian masyarakat, sebagai penyakit kutukan dan  sangat  ditakuti penularannya kepada orang lain. Penderita seringkali mengalami stigma dan dikucilkan dalam kehidupannya sehari-hari.  Meskipun penyakit kusta dapat disembuhkan, orang yang  mengalami maupun yang pernah mengalami kusta ini, menghadapi berbagai hambatan interaksi dengan masyarakat sekitarnya. Di dalam lingkungan keluarga misalnya, kelompok penyandang disabilitas ini bahkan masih ada yang tidak bisa menerima keberadaanya. Akibatnya pemenuhan hak-hak mereka terabaikan dalam berbagai aspek kehidupan. Banyak keluarga yang anggotanya mengidap penyakit ini tidak memiliki pemahaman, pengetahuan dan kemampuan dalam cara-cara menanganinya. Akibatnya mereka terhambat untuk memperoleh kesempatan dalam mengakses program-program rehabilitasi dan fasilitas sosial lainnya. Disamping itu lingkungan turut memperburuk dengan stigma negatif yang semakin menghambat komunikasi dengan kelompok ini, sehingga semakin menenggelamkan mereka dalam  kondisi keterpurukan baik secara fisik maupun mental psikologis.

Hadirin yang saya hormati,

Indonesia telah berhasil mengeliminasi  kusta pada tahun 2003, meskipun sampai sekarang masih ada di beberapa daerah kabupaten/kota dengan prevalensi lebih dari 1 per 10.000 penduduk. Dengan keberhasilan ini, Indonesia yang dulunya merupakan peringkat ketiga dunia dengan penderita penyakit kusta terbanyak, kini sudah tidak lagi masuk dalam peringkat tersebut. Namun demikian sisi lain dari  pencapaian target eliminasi ini belum mampu menghapus stigma yang melekat pada orang-orang yang pernah mengalami kusta, apalagi yang membawa kepada ketidakberfungsian fisik, mental atau intelektualnya.

Hadirin yang saya hormati,

Penyandang disabilitas yang pernah mengalami kusta adalah juga warga negara yang  berhak untuk dilindungi dan dimajukan serta dipenuhi haknya dalam berbagai aspek kehidupan. Kementerian Sosial  melaksanakan berbagai progam dan kegiatan baik yang langsung menyentuh penerima manfaat seperti pemberian bantuan/ asistensi pemenuhan kebutuhan dasar, Bantuan Usaha Ekonomi Produktif (UEP) maupun program kegiatan lainnya yang tidak menyentuh secara langsung. Dalam hal penanganan penyandang disabilitas yang pernah mengalami kusta,  telah dilakukan pengembangan pelayanan dengan penguatan sosial dan eknomi penyandang disabilitas kusta  yang tinggal di tengah-tengah masyarakat. Upaya peningkatan kualitas hidup penyandang disabilitas yang pernah mengalmi kusta, tidak lagi dilakukan secara segregasi pada satu pemukiman yang penghuninya melulu penyandang atau yang pernah mengalami kusta. Program pengembangan ini juga melibatkan kelompok penyandang disabilitas yang pernah mengalami kusta sendiri sebagai motivator, pendamping dan pelaksana. Hal ini didasari oleh pengalaman bahwa penguatan dengan pelibatan sesama orang yang pernah mengalami kusta akan lebih mudah diterima oleh orang yang pernah mengalami kusta itu sendiri, selain itu juga menjadi model penguat bagi sesamanya.

Hadirin yang saya hormati,

Mengubah stigma terhadap penyandang disabilitas yang pernah mengalami kusta, dan meningkatkan kualitas hidup mereka  perlu  terus dilakukan melalui upaya penyadaran masyarakat untuk dapat menerima penyandang disabilitas yang pernah mengalami kusta lingkungan masyarakat. Acara ”Run For Leprosy” merupakan salah satu wadah yang cukup penting sebagai upaya menggugah kesadaran masyarakat tentang penyandang disabilitas yang pernah mengalami kusta, sebagai bagian dari komponen masyarakat. Mereka mempunyai hak untuk berpartisipasi dalam berbagai  aspek kehidupan masyarakat tanpa adanya diskriminasi. Hak-hak tersebut telah dijamin baik oleh instrumen hukum internasional yaitu The Convention On The Rights Of Persons With Disabilities (Konvensi Tentang Hak-Hak Penyandang Disabilitas) yang telah diratifikasi oleh pemerintah melalui Undang-undang Nomor 19 Tahun 2011, maupun berbagai peraturan yang terkait penanganan disabilitas.

Hadirin yang Saya Hormati,

Pemerintah menghimbau kepada seluruh komponen masyarakat, bahwa melalui kegiatan ”Run For Leprosy” ini, marilah kita wujudkan lingkungan sosial yang inklusi bagi penyandang disabilitas, khususnya bagi orang yang pernah mengalami kusta, agar mereka memperoleh hak-haknya sebagai warga negara dan turut berpartisipasi dalam proses pembangunan atas dasar kesetaraan hak. Selamat mengikuti ”Run for Leprosy”.

Wabillahi taufik wal hidayah, Wassalammualaikum wr.wb.

Serpong,  15 Maret 2015

MENTERI SOSIAL RI

KHOFIFAH  INDAR  PARAWANSA