Mission Statement

What we want to achieve

Mari peduli dengan penyandang disabilitas dan lepra di Indonesia.

Learn more »

Past Event

31 Januari 2011

WORLD LEPROSY DAY 2011.

Be Our Friend

join our community

langthis!
Blog

MANUSIA SAMA DI HADAPAN TUHAN – oleh : Alfi Dinilhaq

Tulisan ini kami ambil dari INFONITAS dengan link sbb: http://m.infonitas.com/famili/manusia-sama-di-hadapan-tuhan/7416

Jum’at, 12 Juni 2015 15:17:08 WIB
Editor : Admin
Reporter : Alfi Dinilhaq

Kisah Famili – Saya harus masuk rumah sakit saat masih duduk di bangku SMP. Kala itu anggapan dokter saya hanya mengidap alergi. Ternyata saya menderita penyakit kusta. Saya sangat menyayangkan dokter tidak mengetahui penyakit yang saya idap. Pulang dari rumah sakit, saya menjadi lumpuh total. Akhirnya saya dibawa ke Rumah Sakit Sitanala, sebuah rumah sakit kusta di kawasan Tangerang. Lantaran bersikukuh merasa tidak menderita kusta, saya sempat menolak meski akhirnya tetap dirawat di Sitanala.

Kala dirawat di Sitanala, saya masih dalam keadaan lumpuh total. Tidak bisa mengerjakan apa – apa. Kegiatan sehari – hari dilakukan di atas tempat tidur dan harus dibantu perawat. Beberapa bagian tubuh saya kala itu hampir membusuk dan dihinggapi semut. Kondisi itu membuat saya sempat putus asa. Terlebih banyak pasien kusta lain yang meninggal dunia. Saya sendiri pernah dinyatakan sudah meninggal pada suatu sore. Namun di pagi harinya saya kembali sadar. Bagi saya, itu sebuah mukjizat yang luar biasa.

Buruknya kondisi kesehatan waktu itu membuat saya sempat merasa menentang Tuhan. Tuhan Maha Kasih dan Maha Baik, tapi kenapa saya dijadikan lumpuh. Saya makin terpuruk ketika ibunda dipanggil Tuhan. Saya sempat berkata “Tuhan, kalau engkau mau, maka panggillah saya ke hadapan Mu. Ambillah nyawa saya. Saya sudah tidak sanggup lagi”.

Nyatanya, Tuhan berkehendak lain. Tuhan masih mengasihi dan memberi saya kesempatan sembuh. Saya diberi kesempatan hidup meski harus menjalani 16 kali rangkaian operasi. Pada proses, saya sempat divonis meninggal karena menjalani operasi selama 16 jam tanpa obat bius. Selama dioperasi, tak seorang pun anggota keluarga yang menemani.

Akhirnya, ada hamba Tuhan yang bertobat berbaik hati kepada saya. Ia datang memberikan nasehat dan bantuan. Usai melewati rangkaian pengobatan dan terapi, saya bisa kembali berjalan, kemudian dinyatakan sembuh. Sekembalinya ke rumah, saya mencoba berbaur bersama masyarakat. Namun setiap orang yang melihat saya menjadi takut dan menghindar. Saya merasa berada di titik nadir. Sempat merasa marah, tapi saya sadar dan meminta maaf. Saya pikir, wajar mereka takut karena tidak tahu tentang kusta. Kondisi itu justru menjadi cambukan dan motivasi bagi saya.

Berprinsip, saya punya Tuhan yang hidup, bukan Tuhan yang mati, saya tetap berusaha hidup dan berbaur di tengah – tengah masyarakat. Walapun banyak dihina, saya memegang prinsip bahwa manusia sama di hadapan Tuhan. Mereka yang menghina belum tentu lebih mulia daripada saya. Saya aktif dan mendirikan Gerakan Peduli Disabilitas dan Lepra Indonesia (GPDLI). Di komunitas ini saya hanya berharap teman – teman penderita kusta dan keluarga bisa kembali diterima di masyarakat agar bisa mencari nafkah.

 

Disabilitas Sudah Bergerak! Bagaimana dengan Anda! SALAM PEMERDAYAAN

Saya juga terenyuh dengan semangat dan juga kerja keras komunitas disabilitas dan kusta tanggal 18 Agustus kemaren ditengah panas terik jakarta yang sangat luar biasa mereka mampu menembus barrier-barrier keterbatasan mereka, ayolah peduli, tidak kah ada saudara atau kenalan atau bahkan keluarga terdekat anda yang mengalami disabilitas? atau paling tidak lansia? ayo bergerak – disabilitas telah bergerak!! KAPAN ANDA BERGERAK MAJU?… INDONESIA masih memerlukan anda untuk bekerja bersama-sama menangani masalah disabilitas dan khususnya kusta, banyak tantangan tantangan yang masih mengganjal didepan rekan rekan yang mengalami disabilitas di pelosok-pelosok Nusantara bahkan di Jabotabek ini, isu ini bukan lagi domain kementerian Sosial akan tetapi sudah mencakup seluruh aspek kehidupan rakyat dan bangsa kita, diperlukan pengawasan kita terhadap DPR RI yang sedang dan akan membahas RUU DISABILITAS yang katanya sekitar awal September 2015 yang akan, kamu akan pantau dan kritisi terus, sampai disahkannya RUU ini menjadi UU nantinya. Jika anda tertarik berpartisipasi silahkan anda memberikan tanggapan di website ini atau dapat langsung ke email perkumpulanGPDLI@gmail.com  SALAM PEMBERDAYAAN

 

KARNAVAL BUDAYA DISABILITAS – 18 AGUSTUS 2015 ! #DisabilitasBergerak

Selasa 18 Agustu 2015 adalah hari bersejarah bagi kaum disabilitas karena akan diadakan Karnaval Budaya Disabilitas 18 Agustus 2015. Mari kita dukung dan ikut menghangatkan suasana. Merdeka ! Merdeka ! Disabilitas ! Bergerak !

 

”Penyandang Disabilitas” Menggantikan Istilah ”Penyandang Cacat” Posted on April 5, 2010 by Somantri Ridwan (BERITA LAMA NAMUN MASIH SANGAT PENTING !!!)

https://soema.wordpress.com/2010/04/05/%E2%80%9Dpenyandang-disabilitas%E2%80%9D-menggantikan-istilah-%E2%80%9Dpenyandang-cacat%E2%80%9D/

BERIKUT TULISAN Bapak DR DIDI TARSIDI pada acara yang di fasilitasi KEMENSOS ini, kami hadir mewakili GPDLI serta ikut menandatangani KESEPAKATAN dan bahkan satu ruangan di APARTEMEN dimana kami diundang oleh KEMENSOS RI  dengan Bapak Dr DIDI TARSIDI yang mengalami disabilitas NETRA.

Pada tanggal 29 Maret hingga 1 April 2010 Kementerian Sosial menyelenggarakan pertemuan Penyusunan Bahan Ratifikasi Konvensi Internasional Tentang Hak-Hak Penyandang Cacat. Pertemuan yang dilaksanakan di Grand Setiabudhi Hotel, Bandung, itu dihadiri 30 peserta yang mewakili berbagai lembaga/organisasi yang meliputi Kementerian Luar Negeri, Kementerian Hukum dan HAM, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kementerian Tenaga Kerja, Kementerian Sosial, Komnasham, organisasi penyandang cacat, dan LSM pemerhati kecacatan.

Para peserta pertemuan tersebut sepakat untuk mengganti istilah ”penyandang cacat” dengan ”penyandang disabilitas”. Kesepakatan itu dituangkan ke dalam naskah kesepakatan sebagai berikut.

NASKAH KESEPAKATAN

Kami yang bertanda tangan dibawah ini menyepakati :

Bahwa istilah penyandang cacat secara tentatif mempunyai arti yang bernuansa negatif sehingga mempunyai dampak yang sangat luas bagi penyandang cacat itu sendiri terutama pada subtansi kebijakan publik yang sering memposisikan penyandang cacat sebagai obyek dan tidak menjadi prioritas;
Bahwa Istilah penyandang cacat dalam perspektif bahasa indonesia mempunyai makna yang berkonotasi negatif dan tidak sejalan dengan prinsip utama hak asasi manusia sekaligus bertentangan dengan nilai-nilai luhur bangsa kita yang menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia;
Berdasarkan hal tersebut, istilah penyandang cacat harus diganti dengan istilah baru yang mengandung nilai filosofis yang lebih konstruktif dan sesuai dengan prinsip hak asasi manusia;
Berdasarkan hasil pembahasan dalam seminar dan focus group discussion yang diselenggarakan oleh Komnasham dan Kementerian Sosial di Cibinong (tanggal 8-9 Januari 2009), di Hotel Ibis Jakarta (tanggal 19-20 Maret 2010) dan di Grand Setiabudhi Hotel Bandung (tanggal 29 Maret – 1 April 2010), disepakati bahwa istilah penyandang cacat diganti menjadi : “ Penyandang Disabilitas”.
Istilah Penyandang Disabilitas mempunyai arti yang lebih luas dan mengandung nilai-nilai inklusif yang sesuai dengan jiwa dan semangat reformasi hukum di Indonesia, dan sejalan dengan substansi Convention on the Rights of Persons with Disabilities (CRPD) yang telah disepakati untuk diratifikasi.
Berdasarkan hal-hal tersebut, kami merekomendasikan:
pemerintah dan DPR agar segera meratifikasi Convention on the Rights of Persons with Disabilities (CRPD) dalam waktu yang sesingkat-singkatnya dengan menggunakan istilah ”penyandang disabilitas” untuk menerjemahkan frase “persons with disabilities”;
kalangan pemerintah, legislatif, akademisi, organisasi penyandang disabilitas, organisasi pemerhati disabilitas, dunia usaha, media masa dan masyarakat luas lainnya agar berpartisifasi aktif untuk mensosialisasikan penggunaan istilah “Penyandang Disabilitas” sebagai pengganti istilah penyandang cacat.
Demikianlah kesepakatan ini dibuat dengan penuh kesungguhan atas dasar itikat baik demi mewujudkan penghormatan, pelindungan, dan pemenuhan hak asasi penyandang Disabilitas di Indonesia.

Dibuat di Bandung pada tanggal 31 maret 2010.

Naskah ditandatangani oleh seluruh peserta sebagaimana disebutkan di atas.

Naskah diambil dari tulisan Pak Didi Tarsidi. Silahkan berkunjung ke blognya beliau! klik di sini: Didi Tarsidi

Didi Tarsidi lahir dari keluarga petani di Desa Tanjungkerta, Sumedang, Jawa Barat, 1 Juni 1951. Ia lahir dengan keadaan normal, namun menyandang tunanetra sejak usia 5 tahun. Saat itu, sejenis penyakit infeksi menyerang mata dan membuat Didi kehilangan penglihatan. Ujian hidup yang berat untuk anak seusianya. Ia berhasil menembus segala keterbatasan hingga meraih gelar doktor. Didi Tarsidi bukan hanya sosok disabilitas tunanetra yang berhasil dalam pendidikan dan kehidupan pribadi.
Ia juga sosok yang mampu berbuat banyak untuk kemajuan dunia tunanetra Indonesia. Terbukti dia terpilih menjadi Ketua Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) selama dua periode (2004 – 2009 dan 2009 – 2014).
Bagaimana Didi meniti jalan hidup dan menembus segala keterbatasan, hingga menjadi sosok tunanetra yang pantas dijadikan teladan? “Tunanetra itu karakteristik, bukan kekurangan,” ujarnya.

 

PENYANDANG DISABILITAS ADALAH POTENSI BANGSA !!! Mari Bangun Kesejahteraan Bangsa dengan Membangun terlebih dahulu Kaum Yang Terpinggirkan selama ini…

SELAMAT ULANG TAHUN REPUBLIK INDONESIA

MERDEKA !!!

Mari Bangun Kesejahteraan Bangsa dengan Membangun terlebih dahulu Kaum Yang Terpinggirkan selama ini…Ya benar, yang selam 70 tahun ini tidak kita anggap ada ditengah-tengah kita, hanya kita berikan donasi disaat hari hari besar keagamaan dan setelah itu kita lupa dan melupakan, dan pura-pura lupa, dan kita berfikir toh masih ada kan tahun depan! Yah pemikiran yang sifatnya karitatif akan hanya mentok sampai disitu saja!, Mari kita rubah PARADIGMA mulai di tahun kemerdekaan 70 TAHUN ini, agar terjadi PERUBAHAN YANG SIGNIFIKAN kedepan, untuk anak anak cucu kita di masa depan, kalau bukan sekarang, kapan lagi?

 

PENUHI HAK DISABILITAS, KAUM DISABILITAS LEPRA/ KUSTA MAMPU BERPRESTASI !

Kami berharap DPRRI segera mensahkan RUU Penyandang Disabilitas menjadi UU Penyandang Disabilitas SEGERA !! juga kaum disabilitas termasuk yang mengalami kusta diberdayakan dengan sebaik baiknya, bukan sekedar charity belaka namun sudah mengangkat harkat martabat mereka yang mengalami kusta dan disabilitas dimanapun di INDONESIA ini baik di PELOSOK PELOSOK dan KOTA KOTA BESAR, sudah cukuplah berwacana pada era masa lalu, disaat era pemerintahan saat ini yang penting BUKTI bukan WACANA lagi !!! silahkan..

 

Marilah Membuat Perbedaan di KOMUNITAS Dengan Memberdayakan Kaum Disabilitas dan Yang Mengalami Kusta! #DisabilitasBergerak

Kecantikan dan Ketampanan adalah anugerah Tuhan, namun karakter yang baik adalah kehendak bebas yang Tuhan telah berikan pada kita, apakah kita mau melakukan yang terbaik dan tulus serta penuh integritas, itu adalah pilihan, Miss Indonesia 2012 Ines Putri Tjiptadi adalah salah satunya dengan tampak luar yang sangat cantik dan sempurna, namun beliau masih tetap melakukan yang terbaik dalam hidupnya, saat ini beliau tetap bekerja dan berbisnis restoran bersama orang tuanya di Bali. Vision dan Passion yang besar dalam hatinya adalah melakukan yang terbaik, dan masih tetap mendukung kegiatan GPDLI – Gerakan Peduli Disabilitas dan Lepra Indonesia di bidang pemberdayaan komunitas disabilitas dan kusta! Memang tidak mudah melakukan kepedulian di bidang yang mungkin sangat jauh dengan bidang yang beliau tekuni. Tapi dengan tampilan wajahnya yang sangat menarik membuat kalender 2014 dan 2015 GPDLI – NLR dan KEMENKES, menjadi souvenir yang selalu diminati di daerah-daerah dimana kami berkunjung! Kiranya Ines masih terus mendukung kegiatan ini dimanapun saat ini beliau beraktifitas, kiranya sukses selalu menaungi Ines.

Selamat menjelang HARI ULANG TAHUN KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA ke 70 – INA70

Kata Bijak: Kecantikan dan Ketampanan seseorang tidak akan ada artinya jika segala tingkah lakunya tidak sejalan dengan kesempurnaan wajahnya! tidak mengapa jika seseorang tidak memiliki rupa luar yang sempurna akan tetapi memiliki kesempurnaan dalam karakternya!

 

BERSAMA KITA BERGERAK dalam acara KARNAVAL BUDAYA DISABILITAS

Rundown Acara Karnaval Budaya Disabilitas

TERIMA KASIH ATAS semua dukungan yang telah diberikan dalam acara yang diselenggarakan oleh ALIANSI DISABILITAS di KOMNAS HAM beberapa hari yang lalu, sungguh semuanya ini bukan untuk kemaslahatan kami saja dan juga rekan rekan yang mengalami disabilitas khususnya – tapi semua ini adalah untuk kemaslahatan kita semua dalam membangun bangsa kita bangsa INDONESIA!, dengan memperhatikan kaum yang terpinggirkan berarti kita juga memperhatikan anak-anak bangsa ini, yang hidup dalam keterkungkungan dan keterbatasan yang malah sering kita lakukan pada mereka yang berPOTENSI, bangunlah kesadaran kita dalam membangun bangsa ini secara utuh, 70 TAHUN kemerdekaan kita sebagai bangsa seharusnya merubah cara pandang kita melihat sesama kita manusia, saling menghargai dan saling mencintai dalam arti cinta akan hidup, cinta akan kebersamaan, cinta akan kasih sayang, dan cinta kemajuan untuk kesejahteraan kita bersama, jika tidak antara kita kepada siapa kita harus mencinta! SALAM KEMERDEKAAN bagi kita semua !!

Selasa, 18 Agustus 2015

Pk 9.00

Berkumpul pada titik start karnaval,  di patung kuda, depan Indosat  Monas.

Pk 9.00 – 10.00

Persiapan karnaval, mengatur barisan.

Diisi dengan lagu2 daerah dan lagu2 perjuangan oleh pak Alam dkk, diiringi organ tunggalPeserta juga bisa melakukan atraksi disini.

Pk 10.00

Pelepasan karnaval oleh Ibu Shinta Nuriyah Wahid.

Dimulai dengan orasi dari tokoh masyarakat perwakilan penyandang  disabilitas

Pk 10.30

Karnaval dimulai. Peserta berjalan menuju bundaran HI.

Peserta bisa melakukan atraksi yang dilakukan sambil berjalan, seperti drum band dll.

Karnaval akan diiringi oleh oleh atraksi ondel-ondel dan tanjidor, lagu-lagu daerah dan lagu perjuangan. Bagi yang tidak kuat berjalan bisa naik delman, menumpang sepeda

motor roda tiga, atau menunggu di garis finish di bundaran HI.

Pengguna kursi roda bisa dibantu oleh peserta lainnya.

Pk. 11.30

Sampai di Bundaran HI

Pk. 11.30-12.00

Beristirahat di Bundaran HI (Wilayah teduh di depan pos polisi)

Melanjutkan orasi dari perwakilan kelompok disabilitas.

Pk. 12.00-12.30

Makan siang.

Pk. 12.45

Karnaval selesai

Pk. 13.00

Peserta karnaval yang berminat melanjutkan aksi ke DPR dipersilahkan menaiki bus-bus yang disediakan panitia. Masing-masing organisasi diharapkan mengirimkan wakilnya

untuk datang ke DPR

Pk. 13.30

Sampai di DPR.

Pk. 14.00-15.00

Bertemu dengan anggota DPR terutama dari Panitia Kerja RUU Disabilitas.

Pk. 15.30

Kembali ke Monas (Indosat) menggunakan bus.

Pk. 16.00

Seluruh acara selesai.

 

Hadirilah Konferensi Pers dan Penandatanganan Bersama RUU Penyandang Disabilitas.Tanggal 13 Agustus 2015 di Komnas HAM

Bertahun-tahun penyandang disabilitas mengalami stigma dan diskriminasi disetiap area kehidupannya, undang-undang yang berlakupun seakan-akan tidak mampu merubah paradigma masyarakat yang sudah terlanjur dipengaruhi pikiran-pikiran negatif tentang disabilitas, sehingga ruang gerak rekan-rekan yang mengalami disabilitas semakin sempit dan bahkan dianggap sebagai orang yang “sakit”, padahal mereka semua dalam keadan sehat dan tetap memiliki semangat hidup yang luar biasa!, Ayo luangkan waktu anda untuk berpartisipasi dalam acara yang sangat penting ini, agar para legislator dan masyarakat pada umumnya dapat lebih peka melihat isu yang sedang sangat berkembang di global saat ini! Indonesia jangan ketinggalan dalam membangun PERADABAN DUNIA khususnya INDONESIA, percuma Bapak bangsa kita mendengungkan tentang BHINEKKA TUNGGAL IKA namun kita selalu membedakan perlakuan, pemikiran dan bahkan tindakan terhadap komunitas, pribadi dan keluarga disabilitas! AYO BERUBAH !!!!

 

PENGUNGSI SINABUNG, KEPRES DAN KAUM RENTAN TERMASUK PENYANDANG DISABILITAS – DIMANA PARA PEMIMPIN LOKAL?

PARA PEMIMPIN LOKAL DIMANA? PADA SAAT RAKYAT MEMERLUKAN MEREKA, PARA PEMIMPIN DAERAH HANYA MEMBLE DAN SEPERTI TIDAK MEMILIKI INISIATIF, JANGAN ADA DUSTA DIANTARA KITA, Amen

Pertemuan yang kami hadiri di Sekneg bersama komunitas orang Karo dan Pemerintah, yang diwakili oleh Menteri Andi dan Menteri Kehutanan, wakil-wakil dari Tanah Karo, kementerian sosial, termasuk DPP HMKI (Himpunan Masyarakat Karo Indonesia) dlsb, kami masyarakat Karo sungguh bertemima kasih dengan upaya yang telah dilakukan Pemerintah Pusat dalam hal ini Bapak Presiden Jokowi dan JK, yang telah memberikan perhatian yang besar terhadap pemgungsi bencana Sinabung, bahkan beliau khusus datang ke Tanah Karo setelah debat pertama dan untuk kedua kalinya bahkan hadir setelah beliau dilantik di Istana negara, tidak ada pemimpin Indonesia selain Soekarno yang begitu perhatiannya terhadap komunitas Karo, namun sayang semua yang dilakukan oleh Pemerintah pusat tidak ditanggapi dengan cepat dan proaktif oleh pihak Pemda Karo maupun Pemda Sumatera Utara, sejak awal kami melihat begitu lambatnya penanganan pengungsi dengan baik dan terukur, maka tidak heran pendekatan untuk pembangunan rumah-rumah atau hunian tetap dan hunian sementara juga sangat lamban, yang pada akhirnya akan memberi dampak buruk bagi pengungsi yang sudah sekian lama menderita, dapat dikatakan sudah mencapai beberapa bulan dan tahun ini.

Dampaknya adalah banyaknya anak-anak yang terlantar untuk bersekolah dan kuliah, fokus pada pelajaran juga tidak penuh karena mereka hidup dalam suasana yang begitu padat dan sesak, ruangan yang memadai juga tidak ada. Orang tua yang renta, ibu-ibu yang hamil, kaum perempuan, anak-anak sudah pasti, dan rekan rekan kita yang mengalami disabilitas. Sungguh merupakan penderitaan yang tiada henti, menurut beberapa ahli, bencana ini bisa dikatakan sebagai bencana yang terlama dan terpanjang, sehingga penanganan rehabilitasi tidak dapat menunggu sampai bencana ini selesai, disitulah tantangan yang terberat, suatu kombinasi antara menyelamatkan penduduk dari bencana, sampai ke tahap pengembangan dan rehabilitasi yang merupakan proses yang linier seharusnya, namun akhirnya seakan-akan seperti berputar-putar!. Dalam kaitan tersebiut,  dalam pertemuan hari ini di Jakarta UNFPA mengangkat salah satu topik yang berkaitan erat dengan permasalahan di Indonesia, yaitu “Melindungi Penduduk Rentan Dalam Situasi Bencana.”, kami berharap perhatian dunia internasional dan khususnya pemerintah harus dilaksanakan dilapangan segera, namun tanpa koordinasi yang jelas, maka ini tidak akan berjalan dengan baik, harus ada sinerjitas antara pemerintah dan daerah, kebiasaan orang Karo dan komunitas jika tidak ada tulisan nama dan apa saja tanggung jawab masing-masing, maka semuanya akan berjalan tanpa semestinya lagi kedepan, kami harap Bapak Jokowi segera merealisasikannya dalam bentuk Kepres sehingga memiliki kekuatan hukum agar semuanya berjalan dengan teratur dan terkoordinasi, libatkan masyarakat lokal dan suku lokal yang ada secara nasional, agar bentuk pengawasan (monitoring) dan evaluasi langsung kelapangan dapat terang benderang serta transparan!, kalau bisa sudah dimasukkan dengan pendekatan yang baik serta berbasis IT.

Bentuknya seperti apa, ya kami hanya memberikan masukan, tidak jauh-jauh dari semangat Otonomi daerah atau bukan militeristik, memang dapat saja dengan memakai beberapa term yang berhubungan dengan militer, namun harus melibatkan tokoh-tokoh agama setempat yang disegani, masyarakat sipil, organisasi yang bergerak di akar rumput, saya yakin dengan pendekatan dalam konteks lokal akan membuat pengerjaan dilapangan akan berjalan dengan mulus dan baik. Jika Kepres ini terus ditahan dan tidak dikeluarkan dalam bentuk yang nyata dan realistis, maka kami melihat gerakan ditengah-tengah masyarakat dan juga kelompok pengungsi akan melempem kembali. Momennya sekarang yang terbaik, dalam konteks kepemimpinan di kalangan Karo, sebenarnya sudah cukup baik dan sudah ada saling memberitahukan apa saja yang harus dilaksanakan, namun dengan semakin banyaknya “stakeholder” yang masuk akan terjadi chaos nantinya apabila tidak diantisipasi.

Kami harap Bapak JK juga kiranya dapat mensupport, agar terjadi sinejitas yang kuat dalam menyelesaikan masalah dengan baik. Antroplogi dan budaya orang Karo memang agak unik, jadi dengan memahami ini Bapak JOKOWI JK akan membawa suatu solusi untuk pengungsi yang rentan situasinya, seperti anak-anak, lansia, kaum perempuan, termasuk yang hamil, dan kaum disabilitas atau dulu dikatakan cacat!

Kami dari masyarakat akan mengevaluasi dari luar dan didalam, bekerja sama dengan tim-tim yang sudah terbentuk di masyarakat. Karena bagi orang Karo, aron yang artinya bekerja bersama sama untuk mencapai suatu tujuan, militer yang sudah bekerja disana, paling tidak juga membangun bangunan yang harus ada dan harus cepat pembangunannya!.  Mari kita semua BERGERAK agar kita saling bekerja dan saling memperhatikan antara satu dengan yang lain! Semoga