Mission Statement

What we want to achieve

Mari peduli dengan penyandang disabilitas dan lepra di Indonesia.

Learn more »

Past Event

31 Januari 2011

WORLD LEPROSY DAY 2011.

Be Our Friend

join our community

langthis!
Blog

MOHON DUKUNGAN DOA DAN SUPPORT ANDA SEMUA utk KETUA GPDLI – HERMEN M. HUTABARAT yang sedang sakit !

Saat ini Bapak Hermen Hutabarat sedang dalam keadaan sakit dan dirawat di Rumah Sakit Sitanala – Ruang Kenanga, Tangerang, keadaannya stabil saat ini dan sedang di infus, sakit yang dideritanya cukup berat, namun kami berdoa agar kiranya Bapak Hermen dapat kembali bekerja dan melayani rekan-rekan yang mengalami kusta di Sitanala dan dimanapun orang yang mengalami disabilitas dan kusta berada, mohon dukungan doa dan support Bapak Ibu – dan jika berkenan dapat memberikan kontribusi sesuai dengan ketulusan dan kebaikan Bapak Ibu ke rekening pribadinya di No REK: 0120-01-006238-53-8 BANK RAKYAT INDONESIA (BRI) Cabang Tangerang, Propinsi Banten, Atas Nama: H.M.HUTABARAT atau HERMEN MANGARADAS HUTABARAT atau dapat ke rekening GPDLI dengan catatan untuk perawatan Bapak Hermen di No Rekening GPDLI : ACCOUNT kami di PANIN BANK KCU BEKASI SQUARE, Pekayon, BEKASI – JAWA BARAT dengan nama PERKUMPULAN GERAKAN PEDULI DISABILITAS DAN LEPRA INDONESIA (GPDLI) No ACCOUNT 0165002269, kemudian sms ke 081280669164  atau email perkumpulanGPDLI@gmail.com dengan mengatakan DANA ini untuk apa, dan tentunya nama dan alamat anda! SALAM PEMBERDAYAAN !!!!

 

PRESS RELEASE : RUMAH BELAJAR ANAK ANAK dari KELUARGA YANG MENGALAMI KUSTA dilecehkan !

PRESS RELEASE: Rumah Belajar kami saat ini mengalami tantangan yang cukup besar dari individu yang tidak mengerti akan kebutuhan anak-anak akan pendidikan yang mencerahkan bagi kehidupannya, dengan “gagah berani” mereka menantang rekan rekan kami di komunitas untuk menghentikan kegiatan belajar mengajar disana, dan akan segera memanggil polisi jika melanggarnya – TIDAK KAH mereka mengerti bahwa mereka telah melakukan tindakan KEKERASAN terhadap ANAK ANAK yang kami fasilitasi, dan itu sudah melanggar UNDANG UNDANG silahkan cek!

 

Breaking News – LAUNCHING BUKU: KU TAK INGIN, TAPI HARUS – Potret kehidupan inspirasi semangat hidup teman-teman di SITANALA

 

Komunitas KUSTA/ LEPRA/ HANSEN dukung Pernyataan Sikap Cabut Persyaratan Diskriminatif SNMPTN-2014

PERNYATAAN SIKAP:

CABUT PERSYARATAN DISKRIMINATIF SNMPTN 2014!

“Setiap warga Negara berhak mendapatkan pendidikan”, demikian bunyi Pasal 31 ayat(1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Petikan konstitusi tersebut menegaskan bahwa pendidikan adalah hak, dan pemerintah memikul tanggung jawab untuk memenuhinya bagi setiap warganegara. Sebagai pemegang tanggung jawab utama, pemerintah tidak diperkenankan bertindak diskriminatif terhadap pemenuhan hak atas pendidikan. Perlakuan diskriminatif adalah satu tindakan terlarang, sebagaimana ditegaskan pada Pasal 28I ayat 2 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Di tengah jaminan konstitusional atas hak pendidikan, ternyata masih terdapat potret buram pemenuhan hak pendidikan di Indonesia. Salah satu potret itu ialah persyaratan Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) tahun 2014 ini. Dalam website resmi yang dikelola Panitia Pelaksana SNMPTN 2014 dan Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (https://web.snmptn.ac.id/ptn/36) dinyatakan bahwa seorang calon peserta SNMPTN 2014 disyaratkan tidak tuna netra, tidak tuna rungu, tidak tuna wicara, tidak tuna daksa, tidak buta warna keseluruhan, dan tidak buta warna keseluruhan mapun sebagian. Sontak persyaratan yang dikeluarkan oleh Panitia Pelaksana SNMPTN 2014 dan Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia itu menuai kecaman dari banyak aktifis hak asasi manusia. Gugatan pertama dating dari pihak korban, yaitu kaum difabel dan keluarganya.

Bagi kaum difabel, persyaratan SNMPTN 2014 jelas akan membunuh harapan mereka untuk menjadi peserta SNMPTN. Hak mereka untuk mengembangkan minat, bakat dan kecerdasannya di perguruan tinggi negeri tertutup. Ketiadaan akses terhadap hak atas pendidikan juga akan berdampak terhadap hak hidup anak-anak difabel kedepannya. Bagaimanapun, pendidikan adalah pangkal dari penikmatan hak di semua sector kehidupan. Peniadaan terhadap hak atas pendidikan seorang ialah sumber dari malapetaka masa depan. Dengan konteks demikian, sangat terpahami apabila keluarga difabel sangat marah dan sedih ketika perguruan tinggi negeri yang notabenedikelola oleh Negara menutup hak atas pendidikan difabel.

Munculnya persyaratan SNMPTN 2014 yang menghalangi difabel sebagai salah satu peserta,  sebenarnya adalah satu langkah yang sangat mundur,mengingat negara Indonesia pasca reformasi telah memiliki begitu banyak landasan hokum hak asasi manusia yang menjamin dengan tegas terhadap tanggung jawab pemenuhan hak atas pendidikan. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sudah sangat jelas menjamin bahwa pendidikan adalah hak setiap warga negara. Pasal 12 Undang-Undang No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia tegas menyatakan bahwa setiap orang berhak atas perlindungan bagi pengembangan pribadinya, untuk memperoleh pendidikan. Bahkan, Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional juga tegas menyatakan bahwa Pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa.

Apalagi, Negara Indonesia telah meratifikasi Convention on the Rights of Persons with Disabilities (CRPD) melalui UU No. 11 Tahun 2011. Ratifikasi CRPD adalah salah satu bukti dan janji nyata bahwa negara Indonesia tidak akan memperlakukan kaum difabel sebagai manusia yang tidak setara dengan manusia pada umumnya, termasuk keniscayaan untuk tidak diskriminatif terhadap pemenuhan hak atas pendidikan kaum difabel. Pada Pasal 24 ayat (1) CRPD, ditegaskan bahwa Negara-negara Pihak mengakui hak orang-orang difabel atas pendidikan. Dalam rangka memenuhi hak ini tanpa diskriminasi dan berdasarkan kesempatan yang sama, Negara-negara Pihak wajib menjamin system pendidikan yang bersifat inklusif pada setiap tingkatan dan pembelajaran jangka panjang.

Dengan begitu banyaknya landasan hukum  yang menjamin hak atas pendidikan yang berprinsip pada non diskriminasi, maka sebuah ironi yang sangat besar jika masih muncul kebijakan persyaratan  SNMPTN 2014 yang diskriminatif kepada difabel. Sekali lagi, kebijakan itu adalah langkah mundur dan melanggar terhadap begitu banyak prinsip hukum yang telah disepakati, serta Melanggar terhadap prinsip hak asasi manusia yang telah dijunjung tinggi dunia. Dalam konteks keindonesiaan, kebijakan persyaraatan SNMPTN  2014 ini jelas telah menghianati cita-cita pendirian negara Indonesia, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.

Berangkat dari kegelisahan tersebut, kami Sasana Integrasi dan Advokasi Difabel (SIGAB), atas nama anak bangsa Difabel yang masih terlanggar hak-hak Mereka, Kami dengan tegas menyatakan sikap :

  1. Kami menolak terhadap kebijakan persyaratan yang tidak memperbolehkan difabel menjadi peserta SNMPTN 2014, sebab persyaratan itu jelas inkonstitusional, melanggar hak asasi manusia dan melanggar prinsip hukum;
  2. Persyaratan yang menghalangi difabel menjadi peserta SNMPTN 2014, dan mengumumkannya di media massa;
  3. Kami mendesak Komnas HAM dan Ombudsman Republik Indonesia untuk menindaktegas lembaga-lembaga yang terkait dengan penyelenggaraan kebijakan pendidikan dan implementasinya yang melakukan praktik diskriminatif terhadap Difabel dan menegaskan untuk tidak mengulangi praktek diskriminatif terhadap difabel;
  4. Kami mendesak Menteri Pendidikan Negeri Indonesia dan pemangku kebijakan di sector pendidikan untuk segera menerapkan pendidikan inklusi di Indonesia pada setiap jenjang dan tingkat pendidikan, dalam rangka memastikan terpenuhinya hak Difabel atas pendidikan.

Yogyakarta, 6 Maret 2014

M. Joni Yulianto, S.Pd. MA. M.P.A

(Direktur SIGAB)

Selain itu kita juga bisa mendukung protes ini melalui petisi. Silahkan klik Tanda Tangan Petisi ini jika Anda mendukung.

Sedikit pengakuan dari Wuri Handayani seorang difabel yang kuliah di Inggris

 

KESAMAAN HAK DAN KESETARAAN PERLAKUAN -Pemenuhan Hak DALAM KESEHATAN DAN SOSIAL

KESAMAAN HAK DAN KESETARAAN PERLAKUAN -Pemenuhan Hak DALAM KESEHATAN DAN SOSIAL

GERAKAN PEDULI DISABILITAS DAN LEPRA INDONESIA (GPDLI) merupakan organisasi yang berfokus pada advokasi dan pemberdayaan orang yang mengalami disabilitas dan kusta, sebagai individu maupun keluarga bahkan komunitasnya, memperjuangkan pemenuhan hak yang sama dengan sesama anak bangsa yang lain, hal ini sangat dibutuhkan baik dari segi kesehatan dan sosial mereka, bahkan seluruh aspek kehidupan bermasyarakat. Perlakuan yang berbeda dan dialami oleh mereka yang menyandang disabilitas dan kusta sungguh merupakan perbuatan yang melanggar hak asasi manusia, dan akhirnya menimbulkan stigma dan diskriminasi yang besar di masyarakat, yang ujung-ujungnya dapat mengakibatkan kwalitas kehidupan mereka semakin memburuk dan kemiskinan absolut akan terus menerpa pada mereka yang terpinggirkan. Kegiatan kami bersuara dengan asertif, kreatif serta inovatif baik dari forum lokal dan nasional bahkan internasional dengan tanpa henti sampai keadilan itu terwujud.

Penyandang Disabilitas dan non disabilitas mempunyai hak yang sama didalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat, perlakuan semua manusia terhadap penyandang disabilitas harus sama dengan yang tidak mengalami disabilitas, hak dan kewajiban sebagai anggota masyarakat adalah sama disemua aspek. Jika memerlukan komponen yang dapat membantu dapat disediakan sesuai dengan konteks dan keperluannya. Namun perlakuan para petugas medis dan paramedis serta pekerja sosial harus adil dan memberikan tempat yang sama bagi penyandang disabilitas seluruhnya tanpa melihat jenisnya, baik perempuan, anak-anak dan orang-tua.

 

HADIRILAH Presentasi Yang Berjudul: THE TRUTH ABOUT LEPROSY di @america

Kami mengundang anda untuk menghadiri acara THE TRUTH ABOUT LEPROSY dalam rangka HARI KUSTA DUNIA yang diselenggarakan awal tahun 2014 ini, salah satu kata-kata yang sangat kuat membicarakan STIGMA dan DISKIRIMINASI yang masih menimpa orang yang mengalami kusta adalah sbb (salah seorang rekan saya di NIGERIA): LEPROSY IS CURABLE DISEASE, LEPROSY IS NOT HEREDITARY DISEASE LEPROSY IS LIKE ANY OTHER DISEASE IT CAN BE CURED BUT THE DEFORMITIES CAN STILL REMAIN TREAT US AS YOU TREAT OTHER PEOPLE, GIVE US LOVE, GIVE US RESPECT RESTORE OUR DIGNITY WE ARE HUMAN BEING LIKE YOU. Shehu Abdullahi S Fada IDEA Nigeria.

Untuk itu mari kita bersama-sama membantu untuk mengurangi dan mengakhirinya dalam acara yang sangat penting ini, link acara kami ini dapat dilihat di : http://www.atamerica.or.id/events/1349/Presentation-The-Truth-About-Leprosy- dan www.pedulidisabilitas.org

Jadwal dan lokasi acara sbb:

WORLD LEPROSY DAY @AMERICA-PACIFIC PLACE MALL Tanggal 28 Februari 2014 (Jumat) Jam 14.00 – 16.00 WIB

Pacific Place Mall 3rd floor #325
Jl. Jendral Sudirman Kav.52-53
Kebayoran Baru, Central Jakarta, 12190 INDONESIA

GPDLI and US EMBASSY Indonesia, Jakarta


 

KISAH MARIETTE yang PEDULI kepada KOMUNITAS KUSTA SITANALA Jakarta

KISAH Tentang Mariette yang peduli kepada KOMUNITAS KUSTA SITANALA dpat dilihat didalam tulisan blognya: http://networkedblogs.com/S8mqg dan beliau akan terus memberikan dukungan untuk KOMUNITAS KUSTA via organisasi yang beliau ikuti dan suami sejak dahulu, SALAM HORMAT kami.

 

LEPROSY IS CURABLE DISEASE, LEPROSY IS NOT HEREDITARY DISEASE LEPROSY IS LIKE ANY OTHER DISEASE IT CAN BE CURED BUT THE DEFORMITIES CAN STILL REMAIN !

SAHABAT GPDLI dimanapun anda berada, kemaren hari RABU tanggal 26 Februari adalah merupakan hari bersejarah bagi kami di GPDLI, karena dalam satu hari tersebut kami menerima dua surat yang sangat luar biasa, dan semuanya berhubungan dengan MORBUS HANSEN, atau kusta atau lepra atau dalam bahasa internasionalnya leprosy, pernyataan ini sangat berhubungan dengan pernyataan seorang sahabat lama saya dari IDEA Nigeria, demikian yang dikatakannya: LEPROSY IS CURABLE DISEASE, LEPROSY IS NOT HEREDITARY DISEASE LEPROSY IS LIKE ANY OTHER DISEASE IT CAN BE CURED BUT THE DEFORMITIES CAN STILL REMAIN TREAT US AS YOU TREAT OTHER PEOPLE, GIVE US LOVE, GIVE US RESPECT RESTORE OUR DIGNITY WE ARE HUMAN BEING LIKE YOU. Shehu Abdullahi S Fada.

Mari kita perhatikan lebih lanjut mereka yang terpinggirkan, mari kita bersama membangun bangsa ini, menjadi bangsa yang besar, yang memperhatikan pahlawan bangsanya namun juga orang -orang yang terpinggirkan yang mengalami disabilitas, yang mengalami kusta dan membangun karakter bangsa yang baru untuk Indonesia yang lebih maju di masa depan, Salam hormat kami – GPDLI

 

NIEKE MONIKA KULSUM – Ambassador GPDLI yang FOKUS pada SOCIAL MARKETING

Nieke Monika adalah seorang Ibu yang terus menerus ingin meningkatkan kemampuannya dalam bidang pendidikan, beliau lulus dari Jurusan Manajemen Universitas Trisakti, kemudian melanjutkan studinya di UI dalam bidang Komunikasi, dan akhirnya saat ini malang melintang dalam bidang komunikasi dan menjadi dosen di beberapa universitas swasta di Jakarta, Nieke banyak memberikan masukan dalam isu-isu yang berhubungan social marketing di beberapa organisasi, termasuk Indonesia Democracy Watch, dan juga Gerakan Peduli Disabilitas dan Lepra Indonesia, dan banyak yang lain.

Komunikasi adalah bagian penting dalam pengembangan leadership dan organisasi, dan ini merupakan bagian penting dalam SOCIAL MARKETING khususnya dalam konteks GPDLI pada masa kini dan masa depan, Passionnya dalam membangun organisasi bisa dikatakan sangat luar biasa, GPDLI sangat senang memiliki SDM seperti Nieke. Semoga kedepan Nieke akan semakin aktif dalam memfasilitasi kelompok-kelompok masyarakat yang terpinggirkan dalam komunitas kusta dan hansen atau kusta atau lepra.

Keterlibatannya dalam bidang pendidikan, tidak menyurutkan dirinya untuk tetap menjaga anak-anaknya, juga berwiraswasta. Beliau pernah mengikuti pendidikan di Negev University, Beer Sheeba Israel, pada bidang Education Peace (Short Course), dan beberapa pelatihan Leadership di Taiwan dan Yogyakarta beberapa waktu yang lalu.Aktivitas yang lain adalah sbb:

ISKI – Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia – Ketua Umum Jakarta Barat

MB-Gen- Melangkah Bagi Generasi – Ketua Umum

YLDA – Youth Leadership Democration Asia – Member

IDW – Indonesian Democration Watch – Wakil Sekjend

PP IPPNU – Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama – Bendahara

Garda Bangsa – Gerakan Pemuda Partai Kebangkitan Bangsa – Divisi kerjasama pemuda, Mapancas – Mahasiswa Pancasila – Bendahara

 

THE TRUTH ABOUT LEPROSY – Kolaborasi GPDLI dan US EMBASSY Jakarta!

Kami mengundang anda untuk menghadiri acara THE TRUTH ABOUT LEPROSY dalam rangka HARI KUSTA DUNIA yang diselenggarakan awal tahun 2014 ini, salah satu kata-kata yang sangat kuat membicarakan STIGMA dan DISKIRIMINASI yang masih menimpa orang yang mengalami kusta adalah sbb (salah seorang rekan kami dari NIGERIA): LEPROSY IS CURABLE DISEASE, LEPROSY IS NOT HEREDITARY DISEASE LEPROSY IS LIKE ANY OTHER DISEASE IT CAN BE CURED BUT THE DEFORMITIES CAN STILL REMAIN TREAT US AS YOU TREAT OTHER PEOPLE, GIVE US LOVE, GIVE US RESPECT RESTORE OUR DIGNITY WE ARE HUMAN BEING LIKE YOU. Shehu Abdullahi S Fada IDEA Nigeria.

Untuk itu mari kita bersama-sama membantu untuk mengurangi dan mengakhirinya dalam acara yang sangat penting ini, link acara kami ini dapat dilihat di : http://www.atamerica.or.id/events/1349/Presentation-The-Truth-About-Leprosy- dan www.pedulidisabilitas.org

Jadwal dan lokasi acara sbb:

WORLD LEPROSY DAY @AMERICA-PACIFIC PLACE MALL Tanggal 28 Februari 2014 (Jumat) Jam 14.00 WIB

Pacific Place Mall 3rd floor #325
Jl. Jendral Sudirman Kav.52-53
Kebayoran Baru, Central Jakarta, 12190 INDONESIA

GPDLI and US EMBASSY Indonesia, Jakarta

Demikian undangan kami, terima Kasih atas segala dukungan yang diberikan, bersama sama kita mengurangi dan bahkan menghilangkan STIGMA dan DISKRIMINASI thd orang yang mengalami disabilitas dan kusta di INDONESIA dan bahkan seluruh DUNIA.

SALAM HANGAT KAMI, GPDLI

PS: In commemoration of World Leprosy Day, come join Gerakan Peduli Disabilitas & Lepra Indonesia to learn more about this disease. Find out how you can help combat the social stigma associated with this condition. Speakers will also discuss how they support treatment and recovery.