Mission Statement

What we want to achieve

Mari peduli dengan penyandang disabilitas dan lepra di Indonesia.

Learn more »

Past Event

31 Januari 2011

WORLD LEPROSY DAY 2011.

Be Our Friend

join our community

langthis!
Blog

ASIAN PARAGAMES INDONESIA INSIGHT By Lily Purba

How do you feel after you have seen Asian Para Games 2018.
What kind of things you have been exposed from  this Asian event?
Many of us, their eyes suddenly is with tears and felt how fortunate they are phisically but they can not do what people disability do to overcome their limitation through sport competition/para games.
The media still tends to use medical model of disability, focus is on the impairment more than individuals.
Although the motivator keep saying the disability is a mind set.  God creates us to have Able and to be meaningful.
Through Asian Para Games, actually we should have potrayed dignity, respect, empowerment and accesibility
How we potray people with disability?
I do not think that people with disability are well represented in the  steering committee or decision making of para games, this can be seen with the accesibility need for people with disability. Access to watch the games is not met with the need of disability. Those with phisical disability are not provided with friendly and safe path. Some.of volunteer only served people with chair. The transportation is very limited to them also. You can imagine how old people.and disability to walk from.parking areas to the venues from the nearest bus station at GBK. And the seat for them is also limited,  this is also being experienced by the blind people.
Some of transport volunteers are disability but they are few with bentor (motorcycle). At the closing ceremony, how many disability group can access this and i heard they got invitation in the festival side (without seats). During the competition, the places for high officials are almost empty, while the people with chair, blind  and other intelectual disability are squezed here and there.
So after fulfill the expectation by reaching 37 gold medal and at the 5th ranking, are we satisfied by this achievement? Asian para games for us should be more than these achievement. People got back home  with thinking that disability is giving them inspiration they should or could do more than disability?  are the para gamer for entertaining people?
Is that all, how about the stigma of disability in the daily life. Are people with disability have access to different aspect of life? they being treated with respect, have dignity nd being empowered?
There is plenty of  home works after  Asian Para Games.
(Lily Purba)
 

Siaran Pers Pokja Implementas UU Penyandang Disabilitas terkait Penutupan Penyelenggaraan Asian Paragames 2018: *ASIAN PARAGAMES 2018 UNTUK SIAPA?*

Siaran Pers Pokja Implementas UU Penyandang Disabilitas terkait Penutupan Penyelenggaraan Asian Paragames 2018
Satu minggu penyelenggaraan Asian Para Games 2018 berakhir sudah. Atlit-atlit Indonesia berhasil mengharumkan nama negara dan mengibarkan bendera merah putih dengan bangga. Perolehan 135 medali, 37 diantaranya medali emas, telah membuktikan bahwa seorang penyandang disabilitas sudah seharusnya dipandang dari kemampuannya dengan perspektif Hak Asasi Manusia. Kesuksesan para atlit tidak lepas dari dukungan masyarakat Indonesia yang menyaksikan langsung maupun dari layar kaca perjuangan mereka, dan juga para relawan yang dengan setia dan tekun memastikan penyelenggaraan berjalan dengan lancar.
Namun dibalik hingar bingar prestasi tersebut, perhelatan Asian Paragames 2018 masih menyisakan banyak pekerjaan rumah dalam upaya penghormatan, perlindungan, dan pemenuhan hak penyandang disabilitas. Bahkan event internasional itu justru membuka mata lebih lebar bahwa dalam aspek aksesibilitas dan pelayanan, pemenuhan kebutuhan penyandang disabilitas masih tertinggal jauh.
Dengan mudah di lokasi pertandingan ditemukan bagaimana para disabilitas netra tidak mendapat informasi tentang jalannya suatu pertandingan karena ketiadaan narator yang menjelaskan jalannya pertandingan. Bagaimana dalam upacara pembukaan seorang pengguna tongkat kelelahan karena harus berjalan jauh sampai terpaksa singgah di ruang kesehatan. Bahkan sampai kejadian terbaru ketika dalam upacara penutupan tempat bagi penyandang disabilitas diletakan pada lokasi tanpa kursi. Padahal diberbagai transportasi publik sudah diterapkan kebijakan kursi prioritas bagi penyandang disabilitas. Seluruh kejadian tersebut menggambarkan bagaimana petinggi atau pembuat kebijakan dalam penyelenggaraan Asian Paragames 2018 tidak mengenal kebutuhan penyandang disabilitas. Dalam hal inilah terbukti peribahasa yang mengatakan “tak kenal maka tak sayang”.
Kealpaan terbesar dari Pemerintah maupun Panitia penyelenggara Asian Paragames 2018 adalah pelibatan penyandang disabilitas. Pelibatan disini bukanlah bersifat simbolis, seperti anak-anak yang dimobilisasi untuk mengikuti suatu kegiatan. Namun secara substantif, yaitu melibatkan mulai dari penyusunan desain sampai kepada perincian kebutuhan, dan yang lebih penting adalah terlibat dalam pengambilan keputusan.
Kondisi disabilitas bukanlah suatu hal yang dapat dipelajari dengan singkat. Mereka yang memahami adalah mereka yang mengalami sendiri bagaimana mengatasi hambatan dan apa saja yang dibutuhkan sebagai suatu bentuk aksesibilitas atau akomodasi yang layak. Pengetahuan terbesar mengenai disabilitas ada pada penyandang disabilitas itu sendiri. Inilah yang menjadi dasar dari semangat “Nothing about us, without us” yang selalu digaungkan dalam upaya pemenuhan hak penyandang disabilitas.
Berdasarkan dari penjelasan tersebut pantas bagi kita semua untuk mempertanyakan Bersama, khususnya kepada Pemerintah dibawah pimpinan Presiden Joko Widodo, bahwa penyelenggaraan Asian Paragames 2018 ini untuk siapa?
Kejuaraan ini hadir untuk merayakan keberagaman manusia, khususnya disabilitas. Dengan adanya kejuaraan Paragames maka diharapkan adanya kesadaran dari setiap negara untuk senantiasa melaksanakan penghormatan, perlindungan, dan pemenuhan hak penyandang disabilitas. Khususnya hal itu terwujud dalam bentuk fasilitas aksesibilitas, pelayanan yang memahami kebutuhan disabilitas, sampai kepada kebijakan-kebijakan yang mengikis pemikiran negatif atau defisit terhadap penyandang disabilitas.
Tentu kita Bersama tidak ingin menjadikan Asian Paragames 2018 menjadi kegiatan yang seremonial, dan berakhir dengan cerita manis prestasi para atlet. Oleh karena itu, harus ada pelaksanaan evaluasi yang menyeluruh dari penyelenggaraan kejuaraan asia ini, yang menyasar pemenuhan kebutuhan penyandang disabilitas. Untuk itu, Kami Pokja Implementasi UU Penyandang Disabilitas mendesak Presiden Joko Widodo untuk :
1. *melibatkan penyandang disabilitas dalam penyusunan berbagai kebijakan;
2. memperhitungkan kebutuhan penyandang disabilitas dalam pembangunan berbagai infrastruktur dan transportasi;
3. menghadirkan penyandang disabilitas dalam berbagai kegiatan kenegaraan; dan
4. melakukan edukasi dan sosialisasi disabilitas sebagai bagian keragaman manusia di Indonesia dan dunia.*
*Jakarta, 13 Oktober 2018*
Koalisi Disabilitas

 

BERSAMA BAPAK JOKOWI – MA’RUF DISABILITAS MAJU BERSAMA.

Rekan-rekan kita sesama disabilitas merasakan selama ini diberikan kesempatan bergerak lebih maju lagi disegala bidang, apalagi setelah ada UU No 8 Tahun 2016, yang berdasarkan pada CRPD yang diperjuangkan secara kolektif oleh komunitas disabilitas termasuk didalamnya GPDLI dan lembaga lembaga utama seperti PPDI dan HWDI dll. Peran Bapak Presiden sangat besar, beliau juga sudah memperhatikan disabilitas selama dia menjadi walikota Solo, Jawa Tengah. Semoga beliau masih terus berperan sampai periode kedua yang akan 2019-2024, terima kasih pak Jokowi atas segala dukungannya, Amin. SELAMAT JUGA UNTUK PENYELENGARAAN ASIAN PARAGAMES yang akan datang, kami siap mendukung.

 

MENJADI ‘DISABILITAS’ -suatu pengalaman pribadi

Rekan rekan semua apa kabar, selama empat bulan ini Bapak Nuah Tarigan mengalami suatu saki penyakit yang membuat beliau menjadi orang yang selalu di posisi dimana harus bergantung dengan orang lain, merasakan kursi roda dan memakai tongkat akibat penyakit yang dialaminya, semoga dalam waktu yang cepat beliau dapat kembali pulih dan bekerja lebih giat kembali. Walaupun sampai sekarang beliau terus bekerja tan pa henti, semoga ‘disabilitas’ yang dialaminya dapat kembali pulih kembali seperti sediakala. AminFoto; pak nuah di kursi roda dan perawat

 

Kunjungan ke MEDAN Februari 2018

Rapat bersama team di Medan dan sekitarnya berlangsung berhasil dan memberikan masukan unutuk isu pasal 21 CRPD. Salam pemberdayaan.

 

PERTEMUAN MALANG menjadi BATU LONCATAN

Foto ini menunjukkan suatu semangat yang tidak pernah kunjung melemah, walaupun sakit tetap semangat melaksanakan tanggung jawab yang sudah diberikan ke GPDLI didalam mengemban tugas advokasi disabilitas dan kusta didalam setiap arena kehidupan, salam semangat.

 

Pertemuan DISABILITAS DI MALANG 27 APRIL 2018

Pertemuan disabilitas di Malang telah berlangsung dengan baik, dan dihadiri oleh beberapa lembaga disabilitas dan kusta di Jabar, Banten dan Jatim dan juga dihardiri facilitator dari Jateng dan DKI Jakarta, berlangsung dengan baik dan berakhir pada tanggal 29 April 2018 di Malang, namun memang ada kejadian yang cukup signifikan terjadi karena bersatunya beberapa organisasi guna menggolkan CRPD dan UU NO 8 Tahun 2016, khususnya CRPD Pasal 21 yang sangat penting itu.

 

ADVOKASI – ANTI STIGMA DAN ANTI DISKRIMINASI TERHADAP DISABILITAS DAN KUSTA

Foto ini diambiloleh SASAKAWA India, kami tim INDONESIA – GPDLI Bapak Hermen dan Bapak Nuah Tarigan berkesempatan berdiskusi dengan rekan rekan dari India dan Nepal sehubungan dengan undangan dari DPI India beberapa waktu yang lalu, dan diundang langsung oleh Alm Bapak Javed Abidi yang wafat dua minggu lalu, terima kasih kami pada beliau yang telah bersusah payah membangun advokasi disabilitas di India dan bahkan beberapa negara lainnya, namun Tuhan lebih sayang pada beliau – namun semangatnya tidak akan pernah hilang dalam kami dan organisasi kami GPDLI dan FARHAN.

This photo was taken by SASAKAWA India, our Team INDONESIA – GPDLI Mr. Hermen and Mr. Nuah Tarigan had the opportunity to discuss with the counterparts from India and Nepal in connection with the invitation from DPI India some time ago, and invited directly by late Mr. Javed Abidi who died two weeks ago , our gratitude to him for working hard to build disability advocacy in India and even some other countries, but God is more fond of him – but his spirit will never be lost in us and our organization GPDLI and FARHAN.

 

GPDLI ADALAH REKAN KERJA ABADI “JAVED ABIDI”

GPDLI sejak awal didirikan untuk menjadi SUARA untuk DISABILITAS termasuk disabilitas kusta yang banyak sekali terjadi di seluruh dunia, dunia memang mencatat terjadi pengurangan endemik kusta dimana mana, obat obatannya juga relatif mudah didapat dan gratis, namun masalah STIGMA DAN DISKRIMINASI MASIH SAJA TERJADI DIMANA MANA ! SEMUA AKSES SEAKAN dihambat dimana-mana – TERIMA KASIH kami pada Perjuangan disabilitas di Tanah Air kita seperti PPDI, HWDI dan global ada ADF dan JAVED ABIDI almarhum, kami siap meneruskan perjuanganmu kawan. NAMASTEE

SALAM PEMBERDAYAAN dari INDONESIA

GPDLI since its inception was established to be a VOICE for DISABILITY including the leprosy disability that is so prevalent around the world, the world is recording the occurrence of leprosy endemic where, the medicine is relatively easy to obtain and free, but the STIGMA AND DISCRIMINATION problem is STILL HAPPENING WHERE! ALL ACCESSIBILITY feels like it will be intercepted everywhere – THANK YOU to the Disability Struggle in our country such as PPDI, HWDI and globally there is ADF and JAVED ABIDI deceased, we are ready to continue your friend’s struggle. NAMASTEE

SALAM EMPOWERMENT OF INDONESIA

 

TERIMA KASIH untuk Alm JAVED ABIDI yang diakhir hidupnya FOKUS pada DISABILITAS KUSTA – REST AND PEACE

From SHEEBA ABIDI :

Day 2 of Nothing about us without us.
My brother Javed Abidi was determined to the point of eccentricity when it came to one’s right to self determination! In the last six to eight months or so I heard him talk so much about leprosy as a marginalized disability, it keeps ringing in my ears even now when he’s gone! He explained to me how there is a discrimination within the disability sector vis a vis people affected by leprosy and how important it is to bring people with leprosy (and other lesser known/less represented disabilities) to the forefront of the mainstream disability movement. At a recent event he went out of his way to make sure that people affected by leprosy participated in the event and not others on their behalf..
——————————-
Picture courtesy NCPEDP

Leaders from the movement of people affected by leprosy with Javed Abidi, Honorary Director of NCPEDP and Convenor, National Disability Network. NDN and DPI have taken up the cause of ensuring that rights of people affected by leprosy find convergence within the disability rights movement. (From left to right: Uday Thakar, V. Narasappa, Javed Abidi, Venugopal, and Dr. P.K. Gopal