Mission Statement

What we want to achieve

Mari peduli dengan penyandang disabilitas dan lepra di Indonesia.

Learn more »

Past Event

31 Januari 2011

WORLD LEPROSY DAY 2011.

Be Our Friend

join our community

langthis!
Blog

PEMIKIRAN KEMERDEKAAN DALAM KEBANGSAAN BERSAMA KAUM DISABILITAS DAN LEPRA

Ditulis: Nuah P. Tarigan

Pemikiran yang sudah kami gelontorkan beberapa waktu lalu dalam Jurnal Perempuan tentang disabilitas dan peranannya dalam dunia politik akan semakin menguat menjelang PEMILU 2019 yang akan datang. Ketimpangan masih banyak terjadi dimana-mana, ketidak-tahuan dan bahkan ketidak pedulian sesama anak bangsa terhadap disabilitas masih saja terus terjadi dimana-mana, baik di lingkungan sekitar rumah maupun dunia kampus bahkan di media massa dan media sosial di Indonesia. Mereka masih terus dipinggirkan didalam setiap arena kehidupan, dimulai dari rumah sakit sampai sekolah dan pemerintah, diperlukan kekuatan politik disabilitas untuk masuk lebih dalam lagi! Membangun sinergi kebersamaan dalam memerangi stigma bagi Lepra dan Kusta dan Diskriminasi bagi Disabilitas dan Lepra yang masih besar di Indonesia.

Diperlukan kerja sama yang kuat dan berkelanjutan dari kaum disabilitas itu sendiri, tidak boleh diam dan hanya menunggu, harus membuat inisiatif yang tinggi dalam membangun kesadaran yang tinggi dan bergerak bersama membangun aliansi dan masuk ke arena poliitik bukan jarena di kasihani namun karena memang sudah ada hak yang melekat di diri siapapun termasuk penyandang disabilitas dan orang yang mengalami kusta dimana saja di Indonesia ini. Mari berdayakan sesama kita dan bergerak maju bersama membangun negeri ini kesemua pulau dan daerah tanpa melihat suku – agama – ras dan asal !!!

 

PRESIDEN JOKO WIDODO – Kami Usul KEMENSOS dirubah saja menjadi KEMENTERIAN KEADILAN SOSIAL DAN PEMBERDAYAAN!

SELAMAT PAGI BAPAK PRESIDEN JOKO WIDODO

Kami ingin menyampaikan rasa kekesalan kami karena masalah DISABILITAS sampai saat ini belum juga tuntas tas setuntas tuntasnya Pak, GPDLI dan rekan rekan komunitas di seluruh INDONESIA menginginkan agar PP yang di minta bukan hanya bergantung pada satu PP saja pak, mohon di antisipasi Bapak, atau menurut kami di GPDLI alangkah baiknya kalau begitu merubah nama KEMENSOS menjadi KEMENTERIAN KEADILAN SOSIAL INDONESIA – sangat sesuai dengan SILA PANCASILA yang KELIMA, dan sangat mendasar sekali Bapak bagi bangsa kita yang sedang giat-giatnya membangun ini. Kami siap memberikan masukan dan diskusi untuk hal ini. Kami melihat kementerian sosial jangan menjadi bulan bulanan dengan hanya bergantung dari kementerian ini, namun seharusnya harus ada pengkoordinasian yang sangat kuat antara semua isu yang berhubungan dengan disabilitas yang kompleks tersebut – apalagi dengan dikaitkannya dengan isu KUSTA dan disabilitas yang diakibatkan penyakit menular tropis yang diabaikan beserta isu SEHAT JIWA dan lain sebagainya!

Undang-undang no. 8 tahun 2016 tentang  Penyandang  Disabilitas telah disahkan pada pertengahan April tahun lalu. Meskipun sudah satu tahun undang-undang tersebut disahkan, namun sampai saat ini belum ada tindakan serius dari pemerintah sebagai wujud komitmennya mengimplementasikan undang-undang tersebut. Bahkan, situasi dan kondisi penyandang disabilitas beberapa waktu terakhir ini justru semakin memprihatinkan dengan adanya kebijakan pemerintah yang diskriminatif, atau yang tidak berpihak kepada difabel atau disabilitas !!!

 

Siaran Pers Gerakan Masyarakat Peduli Hak Hak Penyandang Disabilitas !!! Mengecam Bully Penyandang Disabilitas (MF) Di Kampus Universitas Gunadarma

Siaran Pers

Mengecam Bully Penyandang Disabilitas (MF) Di Kampus Universitas Guna Dharma

16 Juli 2017

#stopbullying

#shameonyougunadarma

#stopperundungandisabilitas

CP Gerakan Masyarakat Peduli Hak Hak Penyandang Disabilitas

Trian Airlangga 087780328205

Jonna Damanik +62 878-8845-7889

Peristiwa kekerasan yang menimpa MF mahasiswa Universitas Gunadarma yang dilakukan beberapa temannya di Kampus kembali menyanyat rasa kemanusiaan kita. Apalagi video yang berdurasi 14 detik yang diunggah oleh seseorang di Instagram menggambarkan tidak ada satupun yang mampu mencegah penghinaan tersebut, malah menunjukkan cara pandang sosial yang merendahkan. Bahkan saat korban berusaha membela diri menjadi bahan candaan dan teriakan yang memojokkan.

Situasi ini sangat menimbulkan keprihatinan yang mendalam. UU Nomor 8 Tahun 2016 menyatakan pada pasal 42 ayat 3 bahwa Setiap Penyelenggara Pendidikan Tinggi wajib menfasilitasi pembentukan Unit Layanan Penyandang Disabilitas. Sedangkan di Pasal 145 menyatakan Setiap Orang yang menghalang-halangi dan/atau melarang Penyandang Disabilitas untuk mendapatkan hak sebagaimana dalam pasal 143 dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan denda paling banyak Rp. 200.000.000 (dua ratus juta rupiah). Pasal 143 point a menjelaskan tentang peringatan setiap orang yang menghalang-halangi Penyandang Disabilitas memperoleh hak pendidikan.

Oleh karena itu kami yang tergabung dalam Gerakan Masyarakat Peduli Hak Hak Penyandang Disabilitas menyampaikan hal hal sebagai berikut:

1.        Mengecam keras tindakan dan perilaku yang tidak manusiawi dari orang orang yang notabene sebagai mahasiswa.

2.        Mengecam segala bentuk cara pandang sosial yang mengarah pada penghinaan, merendahkan martabat kepada korban.

3.        Bagi semua Mahasiswa yang terlibat dan meramaikan perbuatan keji tersebut wajib diberikan sanksi sosial dan penyadaran tentang Hak Hak Penyandang Disabilitas.

4.        Hukuman sanksi sosial tersebut adalah 5 tahun berturut turut mengikuti kegiatan Penyandang Disabilitas, minimal 2 kali setiap bulannya.

5.        Menuntut pelaku dan para mahasiswa yang menyaksikan perbuatan keji tersebut untuk mendapatkan bimbingan dari orangtuanya masing masing dan tidak mengulangi perbuatannya lagi

6.        Pihak kampus agar segera mensosialisasikan cara berinteraksi dengan Penyandang Disabilitas dengan memperhatikan hak hak Penyandang Disabilitas sesuai UU No 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas dengan melibatkan organisasi Penyandang Disabilitas.

7.        Meminta Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi sebagai penanggung jawab keberlangsungan Pendidikan Tinggi segera melakukan evaluasi atas Pendidikan Inklusi yang tidak memperhatikan hak hak Penyandang Disabilitas di Universitas Guna Dharma dan mencegahnya agar tidak terulang kembali pada semua Universitas di Indonesia.

8.        Kejadian ini harus menjadi perhatian semua lembaga Pendidikan Tinggi tentang pentingnya mensosialisasikan hak hak Penyandang Disabilitas kepada seluruh civitas akedemikanya dengan membuka Layanan Unit Penyandang Disabilitas dan menyertakan Penyandang Disabilitas dalam setiap aksinya.

9.        Bahwa hak dan kedudukan Penyandang Disabilitas secara konstitusional mempunyai posisi yang sama baik dimata hukum, masyarakat, lingkungan pendidikan dan pemerintahan.

10.   Penyandang Disabilitas sebagai warga negara yang memiliki kebutuhan khusus, fisik, mental, intelektual, atau sensorik, akan berhadapan dengan berbagai hambatan yang dapat menghalangi partisipasi mereka secara penuh dan efektif dalam masyarakat, dengan berdasarkan pada asas kesetaraan dengan warga negara pada umumnya. Untuk itu semua pihak mempunyai kewajiban untuk melaksanakan UU No. 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas yang didalamnya mengandung 3 unsur yaitu tanggung jawab menghormati, tanggung jawab melindungi dan tanggung jawab memenuhi. Untuk itu menjadi tanggung jawab kita semua untuk memenuhi aksessibilitas baik fisik maupun non fisik.

Untuk itu beberapa perwakilan dari gerakan ini akan mengadakan Aksi Simpatik pada 17 Juli 2017 Jam 10.00 di Gedung Rektorat Universitas Gunadarma di Jalan Margonda Raya Depok dengan agenda Audiensi, membacakan pernyataan sikap bersama dan surat keprihatinan dari setiap organisasi Penyandang Disabilitas.

Semoga ada hikmah besar dari peristiwa ini, untuk lebih memperhatikan hak hak penyandang

Penyandang Disabilitas. Tentunya pengalaman ini menjadi tahapan sosialisasi terus menerus UU Penyandang Disabilitas setelah disyahkan, guna memajukan hak hak Penyandang Disabilitas, dan umumnya membangun kualitas kehidupan yang lebih baik.

Demikian pernyataan sikap ini disampaikan untuk menjadi perhatian kita semua.

Bagi yang mendukung pernyataan sikap dapat menuliskan nama organisasi/pribadi/komunitas dibawah  ini

A.      Organisasi:

1.       Rumah Autis

2.       Yayasan Balita Tunanetra

3.       Pusat Layanan Difabel (PLD) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

4.       Persatuan Tuna Netra Indonesia (Pertuni)

5.       AUDISI Indonesia (Advokasi untuk Inklusi Penyandang Disabilitas)

6.       Bandung Independent Living Center (BILiC)

7.       Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel (SIGAB)

8.       LBH Penyandang Disabilitas

9.       Sentra Advokasi Perempuan Difabel dan Anak (SAPDA)

10.   Yayasan Sehjira

11.   Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan Sulawesi Selatan (Perdik)

12.   Federasi Kesejahteraan Penyandang Cacat Tubuh Indonesia (FKPCTI)

13.   CIQAL – Yogyakarta

14.   Gerakan Untuk Kesejahteraan Tuna Rungu Indonesia – GERKATIN PROV. DKI JAKARTA

15.   Pusat Rehabilitasi YAKKUM

16.   Rumah Cerebral Palsy

17.   Sehati Sukoharjo

18.   PPDK -Klaten

19.   UCPRUK  Yogyakarta

20.   Yayasan Cinta Sahabat Sosial

21.   PPMDI (Persatuan Pengusaha Muda Penyandang Disabilitas Indonesia)

22.   PLJ (Pusat Layanan Juru Bahasa Isyarat)

23.   PPDI (Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia).

24.   PPDI Sragen

25.   HWDI Himpunan Wanita Penyandang Disabilitas – Sulawesi Selatan

26.   DPP HWDI

27.   Dria Manunggal

28.   Puspadi Bali

29.   Mimi Institute

30.   FKM BKA Aceh

31.   Pusat Studi Hukum dan Kebijakan (PSHK)

32.   Persatuan Penyandang Cacat (PERPENCA) Jember

33.   Forum Peduli Difabel Arjasa Jember 31. Forum Peduli Pendidikan Jember

32.   Rotary Club of Jakarta Sentral.

33.   SMA IMMERSION PONOROGO

34.   Akadini (Asosiasi Keluarga dengan Penyandang Disabilitas Netra Indonesia)

35.   Pusat Pemberdayaan Penyandang Disabilitas Mitra Sejahtera – Gunung Kidul Yogyakarta

36.   PPRBM – Solo

37.   Yayasan Komunitas Tuli Ciayumajakuning (E-TULI)

38.   Forum Bangun Aceh

39.   Yayasan Mitra Netra

40.   Lingkaran Sosial

41.   Serikat Jurnalis Untuk Keberagaman (Sejuk)

42.   Satuan Tugas Perlindungan Anak (Satgas PA)

43.   FKKADK Aceh Besar

44.   SLB Bahasa Hati Sangatta, Kalimantan Timur

45.   Forkasi, Depok

46.   DPD Gerkatin Jawa Barat

B.      Komunitas

1.       Jakarta Barrier Free Tourism (JBFT)

2.       Perintis Jakarta Ramah Autis (PJRA)

3.       Koalisi Pejalan Kaki

4.       Komunitas Orangtua ABK Emak Cakep Anak Keren

5.       Naura Family Edu Centre

6.       Baby Community

7.       BEAT (Barrier Free Environment and Accessible Transport for All)

8.       Komunitas Emak Setrong (Ortu ABK)

9.       Indonesia Disabled Care Community (IDCC)

10.   Forum Malang Inklusi

11.   KUAT (Komite untuk Aksesibilitas Transportasi)

12.   Gerakan Peduli Penyandang Disabilitas (Gertas)

13.   Paguyuban Inklusi Daya Mandiri Surabaya

14.   Bravo for Disabilities

15.   Komunitas M16 – Mataram

16.   Akar Tuli Malang

17.   Care For GBS

18.   Ogest Yogaswara

C.      Pribadi:

1.              Primaningrum A ( Ortu ABK & alumni STIMIK Gunadarma 1988)

2.              Niluh Sri Handayani( Ortu ABK & Alumni STIMIK Gunadarma 91)

3.              IB.Budi Utama (Ortu ABK & Alumni  STIMIK Gunadarma 91)

4.              Cucu Saidah

5.              Dwi Ariyani, Aktifis Disabilitas

6.              Dina Fahima (Solider)

7.              Dewi Tjakrawinata  (orang tua anak berkebutuhan khusus Sindroma Down)

8.              Ro’fah (Orang tua Anak Autis – PLD UIN Sunan Kalijaga)

9.              Sri Lestari Klaten

10.          Samudra

11.          Jaka Ahmad (tunanetra/Flinders University, Australia)

12.          Maria Muslimatun – Yogyakarta

13.          Irdanelly (Alumni STIE Gunadarma 96)

14.          Istiaq Mubarak

15.          Rini Rindawati (SAPDA)

16.          Rachmita (Pengajar tetap UMB, alumni UMB ’90)

17.          Sapto Suharno

18.          Yustitia Arief SH – Aktifis

19.          Harliza Diah Purnomowati

20.          Rubby Cahaya Rani

21.          Maesaroh binti Rozali

22.          David Tjahjana (GAUN)

23.          Ruth Eveline

24.          Bahrul Fuad

25.          Lies Arum Wardhani

26.          Farida Lucky Utami

27.          Ria Deviana

28.          Slamet Tohari, PSLD Unibraw Surabaya

29.          Chairunnisa

30.          Frieda Simangunsong

31.          Totok Bintoro (IndoEducForAll)

32.          Noor Azmi (Pemerhati Penyandang Disabilitas)

33.          Iin Saputri (Alumni Flinders University)

34.          Maria Un

35.          Niluh (orangtua anak Downsindrome)

36.          Totok Rawi Djati – SAPDA Jogja

37.          Primarendra – SAPDA Jogja

38.          Bambang Rudianto, S.Sos – Camat Sukorambi, Kab. Jember, Jawa Timur.

39.          Suparto – PERPENCA Jember, Jawa Timur

40.          Moh. Zaenuri Rofi’i – PERPENCA Jember

41.          Rike Puspitasari (Ortu Anak Berkebutuhan Khusus Autis)

42.          Ermasari Susanti (Ortu ABK Autis)

43.          Harliza Diah Purnomowati (Ortu ABK Autis)

44.          Adysti Issusilaningtyas (Ortu ABK Autis)

45.          Zakiyyatul Fakhiro (Ortu ABK Autis)

46.          Elly Silmi (Ortu ABK Autis)

47.          Agus Ferdinand (Ortu ABK Autis)

48.          Lovita Cendana (Ortu ABK Autis)

49.          Endang Susie (Ortu ABK Autis)

50.          Lenggang Pakuan (Ortu ABK Autis)

51.          Parameswari (Ortu ABK Autis)

52.          Jenny M Indarto (Ortu ABK Autis)

53.          Uswatun Hasanah (Ortu ABK Autis)

54.          Tika (Ortu ABK Autis)

55.          Briliantina L Hidayat (Ortu ABK Autis)

56.          Fitri Nurjana (Ortu ABK Autis)

57.          Sri Rahma (Ortu ABK Autis)

58.          Donna Angeline Utami (Ortu ABK Autis)

59.          Leni lestari (Ortu ABK Autis)

60.          Risrona Talenta Simorangkir (Ortu ABK Autis)

61.          Asnia Pane (Ortu ABK Autis)

62.          Debit Ridawati (Ortu ABK Autis)

63.          Rini Saribanon (Ortu ABK Autis)

64.          Jevi Silva (Ortu ABK Autis)

65.          Selfiana Safitri (Ortu ABK Autis)

66.          Darlia Martiningsih (Ortu ABK Autis)

67.          Nur Rany Fatimah (Ortu ABK Autis)

68.          Rani Rapshodhy (Ortu ABK Autis)

69.          Meriza Yolanda (Ortu ABK Autis)

70.          Sri Suwarti (Ortu ABK Autis)

71.          Michelle Dian Lestari (Ortu ABK Autis)

72.          Ita Lestari (Ortu ABK Autis)

73.          Herlina Nuraeni (Ortu ABK Autis)

74.          Daminatilada (Ortu ABK Autis)

75.          Kimshameka (Ortu ABK Autis)

76.          Nora Yuni Astuti (Ortu ABK Autis)

77.          Tata Syarief (Ortu ABK Autis)

78.          Ajeng Pramono (Ortu ABK Autis)

79.          Riza iskandar (Ortu ABK Autis)

80.          Budi Winarto (Ortu ABK Autis)

81.          Mathilda (Ortu ABK Autis)

82.          Ayu Yustitia (Ortu ABK Autis)

83.          Ling An (Ortu ABK Autis)

84.          Lovita Cendana (Ortu ABK Autis)

85.          Mutiara Huslaili (Ortu ABK Autis)

86.          Alifia Garani (Ortu ABK Autis)

87.          Ima Setiani (Ortu ABK Autis)

88.          Agustin Kurnia Dewi (Ortu ABK Autis)

89.          Khairunnisa F. A. (Ortu ABK Autis)

90.          Fauziyyah Salmaa (Ortu ABK Autis)

91.          Titi Nursamsyu (Ortu ABK Autis)

92.          Hafshah Aulia (Ortu ABK Autis)

93.          Nabila Sulistiani (Ortu ABK Autis)

94.          Selvita Brilyana (Ortu ABK Autis)

95.          Rizkia Sabilla (Ortu ABK Autis)

96.          Cahyati Rizky H (Ortu ABK Autis)

97.          Yayang Fadhyla A (Ortu ABK Autis)

98.          Yemima.C (Ortu ABK Autis)

99.          Wanda Fauzan (Ortu ABK Autis)

100.       M Andrew Antonio (Ortu ABK Autis)

101.       Maya DRF Wijaya (Ortu ABK Autis)

102.       Astri Permata Sari (Ortu ABK Autis)

103.       Suwito PGH (Ortu ABK Autis)

104.       Siswadi, Aktifis dan Penyandang Disabilitas

105.       Berry B Tanukusuma (aktifis Insan Pasca Stroke dan Orangtua Anak Tuna Netra)

106.       Heroe DNIKS

107.       Ari Kurniawan

108.       Hardiyo – Gunung Kidul Yogyakarta

109.       Siradjudin Fahmi (wartawan dan pemerhati permasalahan Penyandang Disabilitas)

110.       Rita Fithriyaty

111.       Dian Septi

112.       Patricia Tampubolon

113.       Ridwan Sumantri – Penyandang Disabilitas Pengguna Kursi Roda

114.       Sunarman Sukamto

115.       Heny Haryani

116.       Diana Effendi

117.       Mimi Lusli

118.       I Nengah Latra

119.       Suharto

120.       Revita Alfi (Tuna Rungu)

121.       Rina Prasarani (Tuna Netra + Orangtua MDVI/Multi Disabled Visually)

122.            Iies Arum (Ibu difabel Tuli/Komunitas Keluarga Bisindo)

123.       Udana Maajid (Tuli)

124.       Adhien Fadhli R. (Tuli)

125.       Anika Dyah E. ( Tuli )

126.       Stefanus Indra A K  ( Tuli )

127.       Hasby Biasafil (DVO Solo – Juru Bahasa Isyarat)

128.       Paulus Andik (shining tuli kota batu)

129.       Susianah (Bravo- magelang)

130.       Davie (gerkatin kepemudaan – Tuli)

131.       Fajar ( Gerkatin kab kebumen )

132.       Viani (HOH)

133.       Gian Adi Prasetio (Tuli)

134.       Lia ( Tuli n Gerkatin D.I.Yogyakarta )

135.       Fikri Muhandis (Tuli)

136.       Abraham Agustian Eldo ( Tuli & Komunitas AKTU Sidoarjo )

137.       Barrep Saputro (Tuli – Komunitas BTBekasi)

138.       Rieka Aprilia H (Tuli – Akar Tuli Malang)

139.       Anisa K.W (Tuli)

140.       Sumiati (Tuli-Gerkatin Kota Malang)

141.       Angga Nikola Fortuna ( Tuli – DPD GERKATIN JAMBI)

142.       Abdul Jabbar ( Tuli )

143.       Sarah Nur Amalia ( Komunitas Bambu Tuli Bekasi )

144.       Joan Nurhalim ( Tuli)

145.       Putri ( Hijrah Tuli Cimahi )

146.       Ade Rima Suryani (Relawan Penyandang Disabilitas Balikpapan)

147.       Iriansyah (RS. dr. R. Hardjanto)

148.       Shanti  ( tuli )

149.       Pratama Galih (warga Kota Batu)

150.       Muhammad Ibnu, Tuli Cirebon

151.       Asnawi Nurdin, Banda Aceh

152.       Nurul Asyura, Banda Aceh

153.       Eva Kasim, Penyandang Disabilitas dan Aktifis

154.       Silvia Atamimi, Relawan Penyandang Disabilitas dari Lombok

155.       Rosa Trisnawati, Relawan Penyandang Disabilitas dari Lombok

156.       Christian P

157.       Luluk Attaullah (Ortu ABK)

158.       Ilma Sovri Yanti (Inisiator MRAD)

159.       Dr. Latri Mumpuni Margono, Akedemisi

160.       Prayitno, Praktisi

161.       Dessy Mardiana (Ortu ABK, Penyandang Lupus)

162.       Annisa Karnadi (Pemerhati)

163.       Ida Sri Widodo (Ortu ABk Autis)

164.       Meytia Mutiara (Ortu ABK)

165.       Evi Risnawati (Ortu ABK)

166.       Dwi Sugiarti, Simpatisan

167.       Maria Pohan (Ortu ABK Tuna Netra)

168.       Pingkan Riztiarto, Simpatisan

169.       Junika Sugiarsih, orangtua ABK

170.       Dudi Bandung BILiC

171.       Djumono, Bandung

172.       Billy Birlan Purnama, Bandung

173.     Tri Silvanto, pekerja kemanusiaan

174.       Syamsul Bahri ( National Paralympic Indonesia Of West Sumatra )

175. Gatot Susilo (ortu ABK tuna netra)

176 Dede Supriyanto (P4TK TK PLB, Pemerhati)

177. Dr Nuah P. Tarigan (GPDLI)

178. Hermen M Hutabarat (GPDLI dan FARHAN)

[1]

Octaviany Wulansari (Tuli- Akar Tuli)

 

RENUNGAN PAGI: MARI SALING MENGHEBATKAN oleh GANI KAHURIPAN, Surabaya

*Renungan Pagi*
• Gani Kahuripan, Surabaya

*MARI SALING MENGHEBATKAN*

SIAPA yang tidak kenal nama Edmund P. Hillary (1919-2008). Pendaki legendaris dan fenomenal asal Selandia Baru itu tercatat sebagai manusia pertama mencapai atap dunia di Himalaya. Dia dicatat oleh dunia sebagai orang pertama yang menginjakkan kaki di Mount Everest, puncak gunung tertinggi di seantero jagat raya.

Sebelumnya ribuan pendaki dari seluruh dunia mencoba menaklukan Mount Everest, termasuk tim pendaki gunung terkenal kelas dunia dari Swiss, Inggris dan Amerika, tapi selalu gagal. Bahkan tercatat 206 orang pendaki kawakan tewas saat melakukan pendakian ke Himalaya.
Misalnya pendaki kawakan George Leigh-Mallory tahun 1924, gagal. Mallory mengalami kecelakaan dalam pendakian tersebut. Lalu tim pendaki elit asal Swiss yang beranggotakan pendaki kelas dunia, pada tahun 1952 juga terpaksa harus turun kembali setelah hanya mencapai puncak punggung selatan Mount Everest yang berjarak 1.000 meter di bawah puncak utama.

Tapi, Edmund Hillary sukses.
Pada 29 Mei 1953 pukul 11.30 waktu setempat, Edmund Hillary berhasil mencapai puncak Everest pada ketinggian 29,028 kaki di atas permukaan laut. Setelah menancapkan bendera kebangsaan Selandia Baru, Inggris dan Nepal, 15 menit kemudian harus segera turun karena tidak mau ambil risiko kekurangan oksigen.

Kabar keberhasilan Edmund Hillary mencapai puncak Gunung Everest itu baru disiarkan ke penjuru dunia pada tanggal 2 Juni 1953, bertepatan dengan tanggal pelantikan Ratu Elizabeth II. Setahun kemudian, Ratu Elizabeth II memberi gelar bangsawan _Sir_ kepada Edmund. Sejak itu, nama Edmund Hillary menjadi legenda dunia.

Namun tahukah Anda, ada satu orang bernama *Tenzing Norgay* (1914–1986) yang berperan sebagai sherpa (pemandu) dari Nepal yang bertugas memandu sekaligus mengangkut barang untuk membantu pendakian yang dilakukan Edmund Hillary.

Tidak banyak yang tahu bahwa pendakian tersebut sebenarnya dilakukan dengan tim yang cukup besar. Ada banyak tim yang tugasnya men-support Edmud Hillary. Pendakian itu sendiri melibatkan tidak kurang dari 200 orang.

Sebagai pemandu seharusnya Tenzing Norgay-lah yang sampai tiba terlebih dahulu di puncak gunung Mount Everest. Bukan Edmund Hillary sebagai pendaki utama.

Pada saat menjelang titik akhir pendakian, Tenzing Norgay sudah berada 20 meter menuju puncak. Sangat mudah baginya untuk segera naik ke puncak dan menjadi orang pertama yang berhasil menaklukan Mount Everest.

Namun pada posisi itu Tenzing Norgay malah bergeser ke kiri dan mempersilahkan Edmund Hillary menuju puncak. Hillary pun sampai di puncak dan tercatat menjadi orang pertama yang berhasil menaklukkan Puncak Everest.

Ketika mereka turun dari puncak Mount Everest usai sukses melakukan pendakian fenomenal itu, wartawan bertanya kepada Tenzing Norgay.
“Mengapa bukan Anda yang dicatat sebagai pendaki pertama. Bukankah sebagai pemandu Anda yang pertama sampai di puncak?”

Tenzing Norgay dengan senyum ramah bermakna sikapnya yang sangat rendah hati, menjawab:
_Betul, sayalah yang memandu Edmund Hillary. Namun ketika satu langkah menuju puncak, saya mempersilahkan Edmund Hillary untuk naik ke puncak. Mencapai puncak Everest, itu adalah impian Edmund Hillary, bukan impian saya. Saya tidak berambisi untuk itu. Impian saya adalah bagaimana membantu Edmund Hillary untuk menjadi manusia pertama yang mencapai puncak Everest. Kalau itu tercapai, itulah kebahagiaan yang dan kesuksesan saya. Silahkan Edmund Hillary yang dicatat sebagai pendaki pertama yang berhasil menaklukan puncak gunung Everest._

Begitulah Tenzing Norgay yang begitu rendah hati dengan mempersilahkan Edmund Hillary untuk naik ke puncak dan menjadikannya sebagai pendaki gunung pertama yang sukses dicatat dunia sebagai penakluk Mount Everest.
Tapi, jasa Tenzing Norgay tetap diapresiasi dan diabadikan sebagai nama bandara di Himalaya. Bandara itu dinamakan Tenzing-Hillary Airport untuk mengenang dan mengabadikan nama kedua manusia hebat itu.

Edmud Hillary sendiri juga tidak pernah lupa jasa Tenzing Norgay. “Saya tidak akan bisa sukses mencapai puncak Mount Everest tanpa Tenzing Norgay dan seluruh tim,” ujarnya.

Sahabatku,
Ada pelajaran yang baik untuk dipetik dalam kisah nyata pendakian di atas.

✅ Ternyata di balik setiap kesuksesan selalu ada orang lain yang membantu.
✅ Kesuksesan itu mustahil bisa diraih hanya dengan mengandalkan diri sendiri.
✅ Belum tentu kita yang terbaik walau kitalah yang mendapatkan penghargaan.
✅ Setiap keberhasilan seseorang hakikatnya adalah keberhasilan tim atau setidaknya pasti andil orang lain.

Sahabatku,
• Mari selalu bersikap rendah hati apapun kesuksesan yang kita raih saat ini.
• Jangan pernah bersikap sombong walaupun saat ini kita sudah sukses dan kaya karena itu juga pasti karena _support_ orang lain: orangtuamu, saudaramu, temanmu, sahabatmu, rekanmu, tim-mu sekantor dan lain-lain.
• Hargailah setiap orang yang mendukung kesuksesan Anda. Siapapun itu, meski dia hanya seorang pembantu, atau sopir Anda sekalipun. Terlebih itu keluarga Anda sendiri, ayah-ibu, isteri atau suami Anda maupun saudara-saudaramu.

Selamat pagi.
Salam damai sejahtera…

 

RUMAH SAKIT KUSTA PADAM DAN MEMBANGUN MASYARAKAT, KELUARGA DAN INDIVIDU YANG MENGALAMI KUSTA JUGA PADAM?

ENTAH KENAPA HATI KAMI SANGAT GALAU dengan istilah istilah yang seakan akan kita ini akan maju menuju fase berikutnya tanpa ada reserve. Sejak lama memang ini terjadi pada beberapa penyakit menular, khususnya kusta, sangat disayangkan jika melakukan sesuatu tanpa ada penelitian yang mendalam dan independen. Pelayanan yang masih diskriminatif dan banyak menimbulkan permasalahan yang tidak sedikit akibat karena istilah. Semoga ini bukan hanya jadi penghibur di kala lara, namun kita masih banyak sekali mengalami peristiwa yang naas pada konteks kusta di tanah air, bagi saya kenapa tidak didampingi dengan membuat MUSEUM KUSTA jika RS KUSTA dihilangkan istilahnya, kan masih terus kita ini menstigma dan mendiskriminasi kusta itu sendiri? REFLEKSI BAGI KITA SEMUA TANPA KECUALI.

 

GERKATIN PALEMBANG MERATAP !!!

GERKATIN PALEMBANG MERATAP:

GERKATIN adalah suatu gerakan masyarakat yang merupakan kepanjangan dari GERAKAN Untuk Kesejahteraan Tuna Rungu INDONESIA Palembang, tumbuh dari akar rumput dan bergerak untuk membangun kesejahteraan bersama untuk INDONESIA khususnya kota Palembang mengalami peristiwa yang naas dengan pengosongan kantor tersebut dalam waktu dekat ini, Padahal gedung ini masih terus dipakai untuk kegiatan yang sifatnya membangun pemberdayaan dan mengakomodir kebutuhan kaum tuli di Palembang. Silahkan membaca tulisan undangan dibawah ini berhubungan dengan kegiatan yang diadakan hari ini di Palembang. SALAM PEMBERDAYAAN

Assalamualaikum.

Salam Kesetaran.

Pengosongan kantor Gerakan Untuk Kesejahteran Tuna Rungu (Gerkatin) Kota Palembang yang dilakukan oleh Dinas Sosial Kota Palembang dianggap tidak mengakomodir kebutuhan kaum tuli di Kota Palembang.

Kantor Gerkatin yang terletak di LBK Jalan MP Mangkunegara ini sudah ditempati sejak tahun 2009. Setiap minggunya ada 50 orang anak tuli dan relawan yang belajar bahasa Isyarat indonesia (Bisindo) di kantor tersebut.

Maka dari itulah untuk menuntut hak kesetaran atas penyedian fasilitas bagi kaum disable kami yang tergabung dalam Gerakan Solidaritas Gerkatin (GSG) akan melakukan aksi penggalangan tanda tangan pada :

Minggu 16 Juli 2017.

Jam : 20.00 s/d Selesai

Tempat : pendestrian “Jl.Jend Sudirman.

Wassalamualaikum Wr. wb.

Kordinator GSG.

Mia Claudya

0822 8170 4232

Chandra

0878 9740 2340

 

DISABILITAS INDONESIA BANGKIT !!!

Tanggal 20 Mei 2017 yang lalu adalah hari bersejarah bagi kaum disabilitas Indonesia karena aliansi disabilitas bersatu kembali turun ke jalan untuk memberikan pembelajaran kewarganegaraan tentang apa yang dinamakan pemberdayaan disabilitas yang berkelanjutan.

Kali ini disabilitas fokus pada advokasi yang berhubungan dengan pembentukan KNDI Komisi Nasional Disabilitas Indonesia yang merupakan amanat dari UU Penyandang Disabilitas yang sudah ada, advokasi ini fokus pada Bapak Presiden Republik Indonesia: Joko Widodo, disabilitas berkesempatan untuk menyuarakan suaranya yang terbuka dan asertif tanpa pendekatan agresif yang sering dikumandangkan kelompok lain yang bahkan sering dengan memaksakan kehendak, seharusnya mereka bisa belajar dari aliansi disabilitas yang berdaya ini, semoga!. Terima kasih kami pada Pak Jokowi yang selalu mengikuti perkembangan yang berhubungan dengan disabilitas di Indonesia. Semoga terus berkelanjuta, salam pemberdayaan dari kami semua.

 

KUNJUNGAN ABI MARUTAMA (TIM GPDLI) KE AMERIKA SERIKAT dalam rangka YSEALI – Wawancara NUAH TARIGAN dengan ABI MARUTAMA

By Dr. NUAH P TARIGAN

Salah satu program yang diwariskan dari masa pemerintahan Obama ialah Young South East Asia Leaders Initiative Professional Fellowship Program (YSEALI). Program tersebut memberikan kesempatan bagi pemuda yang menginginkan perubahan lebih baik di kawasan Asia Tenggara. YSEALI memberikan kesempatan selama 6 minggu bagi sejumlah pemuda yang terpilih untuk mempalajari nilai-nilai, kebudayaan, sejarah, politik, ekonomi hukum dan kebijakan neagara Amerika sebagai percontohan negara demokrasi yang mengakui dan melindungi seluruh hak-hak warganya.

Abi Marutama salah satu delegasi dari Indonesia yang memperoleh kesempatan untuk mempelajari isu disabilitas di Amerika. Pemerintah Amerika Serikat melalui US Department of State mendelegasikan pelaksanaan teknis untuk fellowship YSEALI ini kepada American Council on Young Political Leaders (ACYPL). ACYPL adalah organisasi non-partisan dan tidak terafiliasi dengan dua kekuatan besar partai politik di Amerika. Di bawah ACYPL program selama 6 minggu bagi 16 delegasi dari 5 negara ASEAN (Indonesia, Malaysia, Thailand, Myanmar dan Filipina) yang kesemuany memiliki minat yang berbeda-beda dan penempatan fellowship di kota yang berbeda juga.

Abi mendapatkan kesempatan untuk menentap dan melaksanakan felowship di Washington DC dengan organisasi American Association of People with Disabilities (AAPD). Dalam kesmepatan fellowship tersebut Abi berfokus pada pengetahuan seputar American with Disability Act (ADA) dan peraturan lain yang menyangkut dengan kebijakan disabilitas di Amerika Serikat. Dalam masa fellowship tersebut Abi dan peserta lainnya tidak hanya mempelajari apa yang menjadi fokus mereka masing-masing. Tetapi juga Abi dan peserta lainnya melakukan bebrbagai pertemuan penting dengan berbagai tokoh penting di Amerika serta menikmati program kebudayaan Amerika.

Abi dan para peserta lainnya bertemu mantan anggota kongres dan senat, pelobi di bidang pendidikan dan lingkungan hidup, aktivis HAM, walikota hingga orang-orang di pemerintah federal dan pihak swasta yang masing-masing memiliki peran dan kontribusi dalam memajukan negara Amerika untuk menjadi lebih baik. Umumnya setiap pertemuan diisi dengan pembicaraan mengenai penegalaman para orang-orang penting dari Amerika mengenai apa yang telah mereka lakukan. Sebagai contoh beberapa mantan anggota kongres menyampaikan pengalaman mereka saat melakukan proses legislasi ADA. Untuk orang Amerika ADA adalah salah satu undang-undang yang terpenting setelah American Civil Rights Act (ACRA). Pada awalnya ACRA belum menyertakan disabilitas sebagai bagian dari hak sipil. Setelah ADA diperkenalkan oleh National Council on Disability (NCD) pada kongres di tahun 1990 dan mantan presiden Bush Senior sangat berambisi bahwa rancangan ADA harus diselesaikan karena ADA akan melindungi hak-hak disabilitas Amerika. Barulah kemudian hak-hak disabilitas dimasukan ke dalam ACRA. Sebagai hasilnya sedikit demi sedikit perbaikan perlindungan hak-hak disabilitas Amerika semakin baik dan diskriminasi terhadap disabilitas mulai menurun.

Amerika Serikat bukanlah dengan sempurna di mana kelompok disabilitas juga masih mengalami hambatan dan diskriminasi. Namun walaupun demikian Amerika berpikir bahwa di negara dan kawasan lain, masih banyak kelompok disabilitas yang mengalami masalah jauh lebih sulit dan tidak adanya kebijakan disabilitas yang menjamin perbaikan hak-hak disabilitas di kawasan dan negara tersebut. Komitmen ini ditindaklanjuti dengan membentuk Office of International Disability Rights yang memberikan bantuan kepada negara-negara untuk meningkatkan kualitas hidup penyandang disabilitas melalui perbaikan kebijakan disabilitas di sektor publik dan swasta.

Yang menarik dari disabilitas di Amerika ialah tidak ada 1 lembaga khusus yang menangani disabilitas. ADA mewajibkan setiap lembaga federal dan negara bagian untuk taat dengan  ketentuan ADA bergantung pada sektor yang ditanganinya. Dengan demikian dalam tataran implementasi, setiap lembaga federal dan negara bagian memilki kantor urusan disabilitas yang memastikan kebijakan di negara bagian dan tingkat federal memenuhi standar yang ditetapkan ADA.

Karena setiap negara bagian memiliki konstitusi dan undang-undang masing-masing, seringkali pelaksnaan ADA tidak maksimal karena kebijakan yang berbeda di tiap negara bagian. Namun demikian, masyarakat dapat menyampaikan keluhan dengan nengajukan tuntutan ke pengadilan di tingkat lokal dan tingkat negara bagian. Beberapa negara bagian mungkin akan membantah argumentasi para penyandang disabilitas Amerika. Namun pengadilan tingkat federal dengan kekuasaan mengadili pada kasus yang berhubungan dengan hukum federral dapat saja menganggap bahwa telah terjadi pelanggaran atas hak-hak disabilitas yang dilakukan oleh pemerintah negara bagian atau lokal. Pengadilan federal dapat berdalih bahwa pemerintah federal atau lokal telah membuat kebijakan yang bertentangan dengan hukum federal dan itu merupakan pelanggaran prinsip hukum dan kebijakan di mana pemerintah lokal atau federal tidak dapat membuat aturan bertentangan dengan hukum dan kebijakan pemerintah federal.

Hal yang menarik lainnya ialah penyelenggaran pemilu di AS tidak bersifat nasional. Dengan demikian setiap negara bagian memiliki kewenangan dan peraturan masing-masing terkait pemilu. Namun demikian setiap proses dan logistik pemilu harus memenuhi syarat aksesbilitas yang ditetapkan oleh Help America Vote Act. Amerika memiliki mesin elektronik pemilu yang ramah disabilitas. Mesin tersebut dapat digunakan bagi mereka yang mengalami disabilitas pendengaran dan penglihatan. Sedangkan untuk disabilitas fisik, tempat pemungutan suara selalu dipastikan akses bagi mereka.

Keunggulan dari disabilitas Amerika ialah mereka memiliki teknologi yang dapat menunjang kehidupan mereka. Mulai dari Google Glass yang dapat memberikan petunjuk jalan bagi orang dengan disabilitas penglihatan dan pendengaran, Local Motors dan IBM yang membuat Smart Watson Bus di mana bus dapat berkendara sendiri tanpa pengemudi dan bus tersebut sangat ramah disabilitas hingga fasilitas relay phone yang menghubungkan orang dengan disabilitas pendengaran dengan orang tanpa disabilitas melalui sambungan telepon.

Amerika bukanlah negara yang sempurna. Disakriminasi berdasarkan status ekonomi, sosial, jenis kelamin, etnis, agama dan disabilitas masih terjadi. Tetapi Amerika tetap berjuang mempertahankan hal-hal yang baik seperti nilai-nilai demokrasi dan toleransi dan tetap berusaha memperbaiki hal-hal yang masih menjadi masalah bagi Amerika sendiri. Sebagai negara yang menjunjung demokrasi, Amerika tidak hanya mencoba memperbaiki apa yang ada di negaranya, tetapi juga memperbaiki dunia. Melalui bantuan luar negeri dan dukungan diplomasi, Amerika ingin dunia ini lebih baik termasuk bagi penyandang disabilitas di mana pun mereka berada.

 

The 3rd AICHR Regional Dialogue on Mainstreaming of The Rights of Persons with Disabilities in the ASEAN Community (A Reflection from Ms LILY PURBA – ACWC and Advisor for GPDLI)

Session 1 General framework on access to justice for person with disabilities (PWD), relevance of SDG 16. Hari Kurniawan from LBH East Java talked about access to Justice of PWD in Indonesia.

There is still big stigma and misunderstanding on PWD. Such as stigma of police, prosecitor, judges, beside the physical barrier and gaps: disqualifying PWD for legal proffesional (lawyers, prosecutors, judges, paralegal) , lack of support for victim of PWD including for the intelectual disability in court cases (interpreter with sign language, and law knowlege). Ms. Aiko Akiyama, focal point on dissability of UN ESCAP mentioned about reviewing of access of PWD to justice, any barriers and regulatory exclussion, Integrated justice system. Thai representative of Ministry of justice, explained about justice fund, commitment to implement SDG 16 at the national and international level and address the barriers experienced by PWD, including access to technology.

Regional action plan of action should consider the research on legal system for PWD, legal assistance, educate the community on the right of PWD and University also training for all law enforcer in legal process.

Session 3, meeting discussed about the disability as entrepreneurs, the disability person should not been treated as target of charity, they are the rights holder. So the people with disability (PWD) can be entrepreneur if they have capacity, accessibility and sustainability. Access to Bank and financial institution (bank account, loan, mortgage and other form of financial credit) and enterpreneur should be the enhanced. PWD is deprived from the property because they are blind. The basic principles of PWD as enterpreneur is equal enjoyment of rights.
This meeting also shared the experiences and challenges of business, social enterprises such as Thailand, having coffee and bakery shop run by PWD.

Under ASEAN Community, PWD on entrepreneurs issue is on 3 pillars, ASEAN Economic Community should involve on this (transportation, banking etc)

 

SAYA INDONESIA SAYA PANCASILA ! #PekanPancasila – GPDLI Mendukung

GPDLI Mendukung #PekanPancasila sebagai bagian dari PERINGATAN HARI LAHIRNYA PANCASILA 1 Juni 2017 yad – YA KEANEKARAGAMAN ANAK BANGSA DAN KITA sudah tergambar sejak bertahun-tahun yang lalu, baik dari suku agama ras dan asal muasal. Termasuk dalam hal ini yang berhubungan dengan keanekaragaman situasi di anak bangsa termasuk disabilitas.

Disabilitas adalah salah satu jenis keragaman yang harus dihormati bukan dipinggirkan, semuanya harus bergerak dan bekerja sama dalam membangun bangsa termasuk komunitas disabilitas di Indonesia. Terima kasih kami kepada Presiden Joko Widodo yang telah bekerja keras membangun bangsa termasuk disabilitas sejak beliau di Solo dan Jakarta dan Indonesia. Terima kasih kami kepada seluruh kepala daerah yang peduli termasuk Bapak Ahok dan Bapak Djarot dan Bupati, Walikota dan Gubernur-gubernur di beberapa propinsi di Indonesia.

Perlu gerakan yang besar dalam membangun masyarakat apalagi yang berhubungan dengan UU No 8 Tahun 2016 yang sudah ada. Semoga.