Membangun Akses Informasi bagi Masyarakat Kusta di Sumatera bagian Selatan khususnya Palembang dan Jambi

Gerakan Peduli Disabilitas dan Lepra Indonesia (GPDLI) kembali mengadakan pelatihan CPRD pasal 21 tentang kebebasan berekspresi, berpendapat dan akses informasi (15-17 Nov). Kali ini dilakukan di Palembang tepatnya di Graha Sriwijaya Hotel,  dengan sasaran masyarakat yang pernah mengalami kusta dari wilayah Palembang dan Jambi. Sebelumnya pelatihan serupa dilakukan di Malang,  Maret lalu.
“Pelatihan ini bertujuan untuk membuka wawasan atau brainstorming tentang penyandang disabilitas, tantangan
yang dihadapi, paradigma yang berkembang selama ini dalam pemberdayaan,” papar Fasilitator GPDLI Hermen Mangaradas Hutabarat.
Output dari pelatihan ini adalah peserta mampu menyusun rencana tindak lanjut untuk implementasi CRPD pasal 21 serta mampu melakukan proses transfer pengetahuan kepada aktor kunci tentang CRPD dan khususnya pasal yang difokuskan, jelas Hermen.
“Ada tiga hal pokok yang penting terlebih dahulu penting untuk dibangun  dalam komunitas kusta di Palembang dan Jambi,” ungkap fasilitator Farhan Indonesia, Kertaning Tyas.
Pertama adalah pengetahuan keorganisasian. Awamnya hal ini menyebabkan mereka yang selama ini tinggal di kampung kusta Sungai Kundur menganggap bahwa setiap hal harus melalui persetujuan RT/RW dan Rumah Sakit.
Persoalan ada pada pengetahuan masyarakat bukan pada aturan yang mengikat. Sehingga membongkarnya cukup dengan melalui sharing pengetahuan dan pendampingan berkelanjutan.
Yang kedua adalah pengetahuan komunikasi. Khususnya trend penggunaan internet.  Dari 9 peserta hanya 2 orang masing-masing laki-laki dan perempuan yang mengenal internet, itupun dengan penggunaan sebatas medsos untuk main-main saja. 4 perempuan tidak memiliki handphone dan 3 laki-laki memiliki handphone lawas non akses internet.
Penguasaan internet sangat penting mengingat trend komunikasi saat ini. Juga internet merupakan sarana komunikasi paling akses bagi penyandang disabilitas saat ini. Untuk itu akan dilakukan pembinaan terhadap alumni pelatihan CPRD dan keluarganya agar segala informasi berkaitan dengan progress pelatihan bisa segera dikomunikasikan.
Ketiga adalah kesadaran inklusif atau sikap terbuka terhadap semua pihak. Selain disebabkan masih adanya diskriminasi lingkungan juga self stigma atau pandangan negatif OYPMK terhadap dirinya sendiri.
Aksi terhadap kebutuhan kesadaran inklusif ini dibangun melalui pengorganisasian masyarakat. Pada sesi terakhir peserta dari masing-masing daerah membentuk organisasi.  Peserta dari Palembang membentuk Forum Komunikasi Lepra Sungai Kundur. Sedangkan peserta dari Jambi membentuk Forum Komunikasi Disabilitas dan Lepra Tanjung Jabung Timur.
“Dari berorganisasi ini nantinya akan menjadi akses pengetahuan dan informasi bagi OYPMK,” ujar peserta dari Jambi, Kasma.  Selama ini akses masyarakat kusta di Jambi khususnya di kabupaten Tanjung Jabung Timur terhadap layanan kesehatan cukup baik. Namun untuk kebebasan ekspresi dan akses informasi serta pemahaman hak-hak penyandang disabilitas masih belum, ungkapnya.
“Kami optimis dengan pertemuan ini,” ungkap peserta dari kampung kusta Sungai Kundur, Rudi. Karena dalam pertemuan kali ini ada rencana tindak lanjut yang jelas.  Juga akses komunikasi yang mudah,  pasca pelatihan ini kami tetap bisa kontak langsung dengan fasilitator dari GPDLI dan Farhan Indonesia sehingga ada harapan yang lebih besar untuk kegiatan berkelanjutan. (Ken)
Dilaporkan oleh:
Hermen Mangaradas Hutabarat (GPDLI)
Dorhan Marbun (GPDLI)
Kertaning Tyas (Farhan Indonesia)
 

Comments

No comments so far.

  • Leave a Reply
     
    Your gravatar
    Your Name
     
     
     


    8 + seven =