Pernyataan Sikap mengenai Stigma dan Diskriminasi Terhadap Orang Yang Terdampak Kusta dan Orang Yang Pernah Mengalami Kusta

Sesuai dengan diskusi yang dilaksanakan beberapa hari ini maka GPDLI.dan FARHAN, Ragam Institute dan Alpha-i mengeluarkan Surat Pernyataan Sikap mengenai Stigma dan Diskriminasi Terhadap Orang Yang Terdampak Kusta dan Orang Yang Pernah Mengalami Kusta seperti yang tertulis dalam statement berikut dibawah ini

Salam Kami
Hermen Hutabarat
Melly Setyawati
Nuah P Tarigan
Yossa Nainggolan

PERNYATAAN SIKAP

FARHAN, RAGAM INSTITUTE, GPDLI, ALPHA-I

Hentikan Stigma dan Diskriminasi Terhadap Orang Yang Terdampak Kusta

Indonesia sebagai negara demokrasi yang sedang membangun, menurut WHO menjadi satu dari tiga negara yang memiliki pola penemuan baru kusta yang tinggi setiap tahunnya sekitar 15. 000 selama 10 tahun terakhir, setelah India (150.000), dan Brazil (40,000). Dan Indonesia menjadi negara dengan jumlah kusta terbesar di Asia Tenggara dengan jumlah  rata rata bertambah sekitar 1000 orang lebih setiap bulannya. Mereka tersebar di sekitar pantai, pegunungan, bahkan kota kota besar.

Bagi mereka yang sudah dianggap pulih dari kusta atau yang disebut Orang Yang Terdampak Kusta (OYTK) beserta keluarganya sampai saat ini masih mengalami stigma dan diskriminasi di hampir semua bidang: pendidikan, pekerjaan, ekonomi, hunian/tempat tinggal, administrasi kependudukan, politik, dan masih banyak lagi. Khusus bidang sipil dan politik, di beberapa daerah  OYTK masih dianggap tidak eksis, dengan indikasi mereka tidak tercantum dalam daftar pemilih PEMILU 2019 terutama bagi OYTK tidak memiliki kartu identitas (KTP).

Memperingati Hari Kusta Internasional (World Leprosy Day) 2019 yang jatuh pada 27 Januari dengan agenda Zero Leprosy, dan sejalan dengan Konvensi Internasional Hak-Hak Penyandang Disabilitas/CRPD, Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB)/SDGs 2030, dan  amanat Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, FARHAN, RAGAM INSTITUTE, GPDLI, ALPHA-I, menyatakan sikap:

1.      Mengutuk keras segala bentuk stigma dan diskriminasi terhadap OYTK disemua sektor, dan menganggap segala stigma dan diskriminasi merupakan upaya menghambat pembangunan yang inklusif;

2.      Mendukung  pemerintah (pusat dan daerah) untuk menyusun dan mengimplementaikan program-program terkait desiminasi dan sosialisasi mengenai kusta dan dampaknya dengan baik dan benar dan melibatkan OYTK;

3.      Mendukung pemerintah (pusat dan daerah) memaksimalkan program-program peningkatan kapasitas bagi OYTK agar OYTK dapat hidup secara mandiri dan berkontribusi bagi masyarakat.

4.      Mendorong KPU melakukan pengecekan data pemilih PEMILU 2019 di wilayah-wilayah dimana OYTK tinggal atau di kampung kusta di seluruh Indonesia. Diharapkan hasil pengecekan  menghantarkan pemenuhan hak pilih untuk semua OYTK di PEMILU 2019;

5.      Mendesak para kandidat presiden PEMILU 2019 untuk memberikan perhatian penuh terhadap agenda global ‘Zero Leprosydi beberapa tahun ke depan, dan jika terpilih memprioritaskannya sebagai agenda kebijakan nasional.

Kami sebagai bagian dari masyarakat sipil Indonesia memandang bahwa upaya penghapusan stigma dan diskriminasi terhadap OYTK masih belum maksimal. Dibutuhkan kerjasama dari seluruh elemen masyarakat untuk menghentikan segala bentuk stigma dan diskriminasi terhadap OYTK.  Untuk info lebih lanjut silahkan kontak narahubung: Sdr. Nuah P. Tarigan di 08159045699 atau Sdr. Yossa Nainggolan 087781224382.

Jakarta, 30 Januari 2019

  1. Hermen Hutabarat (FARHAN)
  2. Melly Setyawati (RAGAM INSTITUTE)
  3. Nuah P. Tarigan (GPDLI)
  4. Yossa Nainggolan (ALPHA-I)

 

Comments

No comments so far.

  • Leave a Reply
     
    Your gravatar
    Your Name
     
     
     


    9 − = one