MARILAH BERSATU DAN PRAKTEK KAN HIDUP YANG INKLUSIF

Masalah DISABILITAS atau dulu disebut cacat dan lain lain sudah lama ada dikehidupan bangsa ini, entah sudah beribu-ribu manusia dan berjuta-juta manusia INDONESIA mengalami STIGMA dan DISKRIMINASI dimana-mana di NUSANTARA ini, baik di pantai-pantai; di gunung-gunung; di pedalaman yang jauh tak terjangkau dan di tanah kering atau subur. Kami melihat PERPRES YANG BERHUBUNGAN dengan KOMISI NASIONAL DISABILITAS di INDONESIA ini sudah satu keberhasilan POKJA dan seluruh penyandang disabilitas di Nusantara, selanjutnya adalah bagaimana untuk mengembangkan dan menyempurnakannya. Tidak adapun sesuatu yang sempurna di bangsa kita ini, sejak dahulu sampai sekarang sampai kita meninggalkan dunia yang fana ini. Mari kita semua bertransformasi, baik pemerintah maupun masyarakat umum dan penyandang disabilitas. Marilah semua kita makin PEDULI, bukan saja pada penyandang disabilitas yang kita selalu temui sehari-hari atau disekitar, akan tetapi semua penyandang disabilitas yang nun jauh dari JAKARTA dan PULAU JAWA ini, yang selama ini tidak terjangkau oleh kita para aktivis, akademisi, pemberi sumbangan, fasilitator, mediator, pemerhati dan lain sebagainya.

NUSANTARA ini begitu luas, dan begitu kompleks, diperlukan KND yang sanggup mengkoordinasi seluruh daerah yang ada di Indonesia tercinta. Marilah kita bersifat seperti “IBU” sejati, bahwa diperlukan cepat IBUNDA yang menjangkau mereka. Lembaga kita tidak sanggup mencapai mereka, CRPD dan KOMISI inilah yang sanggup “mengunjunginya” ;berapa propinsi lembaga kita akan bisa menjangkau mereka, seperti misalnya KUSTA sampai berapa banyak GPDLI, FARHAN, PERMATA dan lain lain akan dapat menggapainya? PADAHAL ADA SEKITAR 20.000 ORANG YANG MENGALAMI KUSTA ditemukan setiap TAHUN. Sebagai lembaga yang ada dibawah koordinasi akan sangat berdampak jika segera KND ini muncul. Kata mereka yang ada di pemerintahan NEGARA HARUS HADIR.

Kami di GPDLI ingin kiranya segera menyatukan langkah untuk bergerak bersama, jangan habiskan enerji dan waktu untuk bersilang pendapat, suatu sintesa akan menimbulkan anti-tesa dan itu tidak akan selesai, akan seperti DRAMA KOREA yang tak pernah habis untuk dipertengkarkan, dan lama lama kita semua jadi BONSAI dan penyandang disabilitas yang nun jauh disana hanya bingung tujuh keliling melihat kita yang lucu dan naif. SUDAHLAH sudahilah polemik ini, sudah dua tahun lewat kita berargumentasi. JADILAH BANGSA YANG BERGOTONG ROYONG YANG PEDULI.

GPDLI

Sumber: https://www.timesindonesia.co.id/read/news/277209/kisah-milka-saba-ibu-tangguh-di-tts-mengasuh-lima-anak-disabilitas

 

(comments disabled)