Blog

INDONESIA INKLUSI

Betapa menyedihkan bahwa masih banyak manusia Indonesia yang belum menyadari bahwa disekitar mereka ada banyak rekan rekan atau anak anak kita yang mengalami disabilitas dimana-mana. Mereka sangat menderita karena kesempatan untuk menjadi pekerja dimana-mana juga masih sangat terbatas dan tidak menerima mereka sebagai sumber manusia yang berkwalitas sesuai dengan kemampuan masing-masing.
Setelah UU No 8 Tahun 2016 disahkan dan dijalankan, serta CRPD sudah diterima negara-negara sejak 2011 oleh PBB di New York, tetapi masih saja paradigma berfikir manusia INDONESIA, bahwa disabilitas adalah manusia yang perlu dikasihani. Padahal didalam UU itu jelas bahwa itu bukan lagi berbasis “charity” tetapi sudah berubah menjadi “human rights based” yang berarti disabilitas itu memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan warga negara lainnya. Bangkitlah kaum disabilitas, bangkitlah menjadi manusia pembelajar dan bersemangat menuju masa depan yang cerah bagi semua kita, yang tidak selalu identik hanya dengan hitungan material yang fana saja. Warna yang berbeda dari  semua disabilitas sangat berdinamika, tidak ada yang benar-banar identik satu dengan yang lainnya, semua memiliki corak dan nuansa yan beraneka-ragam. Alangkah bagusnya jika bersatu dan bersimfoni dengan baik dan keren. Kerja yang berkolaborasi akan menjadi sesuatu yang indah, betapa menyedihkan bahwa masih banyak manusia disabilitas Indonesia banyak yang kurang kompak, dapat berupa pertarungan diantara disabilitas tuli, bisu, buta, daksa, mental dan intelektual dan yang lain saling bekerja sendiri dan kadang menutup diri. Harapan saya sebagai yang mengalami disabilitas agar kiranya bersatu, berbeda pendapat tidak mengapa, berkompetisi juga tidak perlu dihindari. Organisasi yang bersatu bersatu padu menuju INDONESIA INKLUSI.

 

PRESIDEN DAN WAPRES BARU BESERTA PARA MENTERI YANG BARU – SELAMAT BERTUGAS

SELAMAT DAN SUKSES UNTUK BAPAK JOKO WIDODO DAN BAPAK AMIN

Bp Ir H Joko Widodo @jokowi
Bp Prof K H Ma’ruf Amin @kyai_marufamin
Sebagai Presiden & Wakil Presiden RI

 

NusantaRun Chapter 7: #StudentAthletesWithDisabilities

Tahun ini merupakan tahun ketujuh penyelenggaraan fundraising event NusantaRun dengan mengangkat tema #RevealingPotentials. Tema tersebut terinspirasi dari filosofi nama kabupaten yang akan menjadi finish line NusantaRun Chapter 7, yaitu Ponorogo. Filosofi nama Panarogo (Ponorogo) sendiri terbentuk dari dua kata, yaitu ‘pana’ (melihat) dan ‘raga’ (badan/diri). Jika digabungkan, Ponorogo bermakna melihat diri sendiri/mawas diri. NusantaRun percaya bahwa setiap orang memiliki potensi yang perlu diungkap dan diberdayakan. Potensi tersebut hendaknya dimaksimalkan agar memberikan manfaat tidak hanya untuk diri sendiri tetapi juga dirasakan oleh banyak orang. Untuk itu, pada akhirnya muncul satu pertanyaan, “Apa potensi yang saya miliki sehingga bisa memberikan manfaat?”

NusantaRun tidak hanya fundraising event melainkan juga festival kontribusi. Siapapun dapat berkontribusi untuk memajukan pendidikan Indonesia, baik itu pelari, relawan, maupun pihak-pihak lainnya yang berkontribusi dengan cara dan bentuk yang berbeda-beda.

NusantaRun Chapter 7 akan dilaksanakan pada 6 hingga 8 Desember 2019 dengan start line di Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta dan finish line di Ponorogo, Jawa Timur. Sebanyak 155 pelari telah terpilih untuk menjadi fundraiser NusantaRun Chapter 7. Selain berlari ultramarathon dengan jarak 133 kilometer untuk kategori full course dan 71 kilometer untuk kategori half course, mereka juga akan menggalang dana untuk program #StudentAthletesWithDisabilities, kerja sama antara NusantaRun dengan Perkumpulan Ohana yang nantinya akan dilaksanakan di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Perkumpulan Ohana merupakan organisasi yang berada di Daerah Istimewa Yogyakarta dan bergerak di bidang advokasi dan pemenuhan hak penyandang disabilitas. Perkumpulan Ohana memiliki dedikasi untuk memaksimalkan penanganan terhadap isu-isu hak asasi penyandang disabilitas, seperti pengadaan akses layanan alat bantu mobilitas adaptif kursi roda, pengembangan sumber daya penyandang disabilitas, serta pemenuhan hak-hak disabilitas dan advokasi kebijakan dari penyandang disabilitas melalui pelatihan dan lokakarya.

NusantaRun dan Perkumpulan Ohana akan bergerak bersama untuk memberdayakan penyandang disabilitas (terpilih) yang berprestasi secara akademik melalui student athlete sebagai wujud pencapaian gerakan inklusi di Indonesia. Melalui program tersebut, diharapkan akan memaksimalkan potensi penyandang disabilitas meraih prestasi dan mampu bersaing dalam kompetisi olahraga yang menggunakan kursi roda, mulai dari tingkat kabupaten hingga internasional.

Untuk mewujudkan mimpi mulia dari program ini, Perkumpulan Ohana akan bekerja sama dengan beberapa pihak yang memiliki perhatian terhadap penyandang disabilitas, seperti Global Mobility USA, lembaga pendidikan lokal, organisasi penyandang disabilitas lokal, profesional di bidang olahraga dan kesehatan, profesional dalam bidang mobility device, Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga, serta pihak-pihak lainnya.

Setiap orang tidak hanya memiliki potensi, tetapi juga memiliki kesempatan yang sama dalam meraih cita-cita, tidak terkecuali para penyandang disabilitas. Semua manusia berhak untuk melakukan yang terbaik karena di situlah kemampuan untuk menginspirasi dan terinspirasi hadir menghiasi kehidupan. Tanpa potensi yang diberdayakan, tidak akan ada inspirasi yang memotivasi.

Kehadiran dan prestasi para penyandang disabilitas merupakan sumber semangat dan energi positif bagi bangsa dan masyarakat. Kehadiran mereka telah memperluas perspektif kita tentang mimpi dan pencapaian. Kehadiran mereka merupakan pengingat bagi sesama untuk selalu menghargai proses dan selalu berusaha tanpa rasa pantang menyerah, apapun pekerjaan kita. Oleh karena itu, pantaslah mereka kita sebut #BeyondAChampion.

Mari kita dukung #StudentAthletesWithDisabilities untuk #RevealingPotentials mereka menjadi siswa berprestasi dan atlet terbaik bangsa!

Donasi langsung melalui link kitabisa.com/awangnr7 atau kitabisa.com/campaign/nusantarun

#NusantaRun #RevealingPotentials SALAM GPDLI www.pedulidisabilitas.org #gpdli

 

PERTEMUAN YANG MENGHARUKAN

by  ALEXANDRA

Pertama saya bertemu Beliau, 
Adalah saat kampanye di Rumah Aspirasi 01.
 
Lalu, 
Kedua kalinya adalah di Sentul, 
Saat acara Visi Misi, 
Yang merupakan Pidato Nawa Cita jilid II, 
Dari kepemimpinan Bapak Jokowi. 
 
Dan kemarin, 
Saat pelantikan Bapak Jokowi Amin, 
Adalah pertemuan saya yg ketiga… 
 
Pertama yg saya lakukan saat bertemu Beliau, 
Adalah mencium tangan kemudian memeluk Beliau… 
 
Saya bertanya kepada nya, 
“Sehat,  Bapak??  …”
 
“Alhamdulillah,  Neng… “
 
Saya pandangi Beliau dg mata berkaca2,
Saya hanya bisa bilang :
 
“Bapak… 
Perjuangan kita gak sia2 …
Pak Jokowi Amin dilantik hari ini, 
Matur suwun utk perjuangannya yaaa… 
 
Semoga kita dipertemukan kembali di lain waktu, 
Sehat2 ya,  Pak… “
 
Beliau mengusap ujung matanya yg basah,  Sebelum mengusap bahu saya… 
 
Saya tau, 
Cinta Beliau pada pak Jokowi Amin sangat besar… 
 
Seperti perjuangan Beliau berangkat dari Bekasi,
Utk selalu menghadiri setiap acara Bapak Jokowi Amin… 🙏🙏🙏

Gambar mungkin berisi: 5 orang, orang berdiri dan luar ruangan

 

GPDLI MENDUKUNG PENUH #JEDAUNTUKIKLIM atau #CLIMATESTRIKE

#JEDAUNTUKIKLIM

Jeda Untuk Iklim

Ayo Beraksi, Untuk Ibu Pertiwi   www.pedulidisabilitas.org

GERAKAN PEDULI DISABILITAS DAN LEPRA INDONESIA – GPDLI Mendukung penuh acara #JEDAUNTUKIKLIM, karena kami melihat bahwa masalah IKLIM akan banyak menimbulkan dampak negatif terhadap berbagai penyakit dan situasi sosial ekonomi dunia termasuk negera kita REPUBLIK INDONESIA yang kita cintai ini, berbagai penyakit dan situasi akan dapat terjadi dengan cepat dan berlipat kali ganda. Seperti salah satunya adalah KUSTA yang saat ini saja kita sudah menduduki untuk penemuan baru kusta NO 3 DI DUNIA setelah INDIA dan BRAZIL. Selanjutnya adalah dampak itu berakibat tidak langsung terjadinya DISABILITAS yang disebabkan BENCANA yang terjadi, seperti BANJIR dan bencana alam lainnya, termasuk karena mempengaruhi timbulnya penyakit menular dan tidak menular dan lain lain yang mengakibatkan DISABILITAS.

APAKAH KITA SEMUA HARUS MENUNGGU SAMPAI ITU TERJADI PADA KITA SEMUA?

APAKAH KITA TIDAK DAPAT BERUSAHA LEBIH BAIK UNTUK MENCEGAH ITU SEMUA?

DIMANAKAH HATI NURANI KITA SEBAGAI ANAK ANAK BANGSA YANG BESAR INI?

MARILAH KITA BER #JEDAUNTUKIKLIM.

MARILAH KITA MEMPERBAIKI DUNIA INI, INDONESIA KITA, KELUARGA KITA DAN DIRI KITA!!!  GPDLI –NUAH P. TARIGAN, HERMEN M HUTABARAT, ALI SAIDI, DAN TEAM GPDLI

 

#JEDAUNTUKIKLIM – IBU PERTIWI SEDANG BERSEDIH HATI

Gambar mungkin berisi: teks

 

#JEDAUNTUKIKLIM JAKARTA DAN INDONESIA

 

GLOBAL PARTNERSHIP FOR ZERO LEPROSY – Menjelang LEPROSY CONGRESS di MANILA September 2019

About the Partnership

The Global Partnership for Zero Leprosy is a coalition of people committed to ending leprosy, also known as Hansen’s disease. The partnership includes the Novartis Foundation, the World Health Organization (WHO, as an observer), the International Federation of Anti-Leprosy Associations (ILEP), the Sasakawa Memorial Health Foundation and the  International Association for Integration, Dignity and Economic Advancement (IDEA). It also includes the national leprosy programmes of Brazil and Ethiopia, the International Leprosy Association, scientific organizations and the academic community. The secretariat for the partnership is located at the Task Force for Global Health.

FURTHER INFO; https://zeroleprosy.org/about-the-partnership/

Operational Excellence Working Group

Chair: Bart Vander Plaetse, FAIRMED
Coordinator: Christine Fenenga, Global Partnership for Zero Leprosy

All members of the working group are listed below.

The objective of the Operational Excellence Working Group is to foster the development, use, scale-up, monitoring, and evaluation of best practices and promising innovations in national leprosy control programmes. The working group is organized in sub-groups, focusing on five key areas:

  1. Identification/PEP: Identification of people at risk of leprosy & prevention of leprosy in this risk population/ How can Post-Exposure Prophylaxis (PEP) best be implemented in a country?
  2. Early Detection and Prompt Treatment: Sustaining early detection and prompt treatment of leprosy disease and measures when reaching zero leprosy
  3. Disability: Effective prevention and treatment of disability during and after antimicrobial treatment
  4. Stigma: Effective reduction of stigma and discrimination
  5. Infrastructure/operational capacity: Cross-cutting issues, such as human resources (HR), health finance, monitoring and evaluation (M&E) & surveillance, policy

Under the guidance of a facilitator and chair, each sub-group will:

  • Develop an inventory of best practices and innovation, which will be organized into a set of free online tools for countries.
  • Support country peer-to peer assessments to identify opportunities, challenges and needs in implementing tools towards zero leprosy.
  • Provide technical advice as needed when questions are raised about implementation of the online tools.

Group 4B Subtheme Stigma, discrimination & exclusion – English speaking

Chair: Taye Letta, National Leprosy Program, Ethiopia
Facilitator: Sunday Udo, The Leprosy Mission Nigeria

  • Nancy Sabuero, Philippine Association for Integration, Dignity ang Economic Advancement / IDEA-Philippines Inc.
  • Wim van Brakel, NLR
  • Thushani Dabrera, Ministry of Health, Sri Lanka
  • Nuah Perdamenta Tarigan, (GPDLI) Gerakan Peduli Disabilitas dan Lepra Indonsesia (GPDLI)
  • Pankaj Patel, Individual
  • Mohan Arikonda, The Leprosy Mission
  • Joseph Selvaraj, Grace Foundation
  • Sonali Nayak, PramilaEkAsha
  • P.K. Gopal, IDEA
  • Sunil Kumar, PramilaEkAsha
  • Pratap Rai Manglani, NLR India
  • Solomon Raju Moturu, The Leprosy Mission Trust India
  • Mohan Arikonda, The Leprosy Mission
  • Franscisco Onde, Coalition of Leprosy Advocate of the Philippines CLAP
  • Mahsin Hamuda, UNDP
  • Silatham Sermrittirong, Raj Pracha Samasai Institute
  • Nikita Sarah, The Leprosy Mission Trust India
  • Taranth Sigdel, Progress Self Help Group
  • Heleen Broekkamp, NLR

https://www.youtube.com/watch?v=ZI2rfjRUN7g&feature=youtu.be&fbclid=IwAR1L48zJGJhaXWbt-FUdoLcn65vXrfBtAmJ97Yqimeq3pptSD2v4JOtPpBo

Gambar mungkin berisi: 10 orang, orang berdiri

 

DISABILITAS BISA TERJADI PADA SIAPA SAJA DAN KAPAN SAJA!

Disabilitas itu jangan dihina dan jangan di bully, karena bisa tejadi pada siapa saja dan kapan saja, pengalaman menunjukkan bahwa disabilitas itu bukan saja terjadi pada sejak dini atau kanak-kanak, tetapi dapat terjadi sewaktu remaja dan dewasa, jika itu terjadi pada angkatan senior yang berumur 60 tahun keatas mungkin lumrah bagi anda, tetapi jangan lupa disabilitas dapat terjadi sejak muda remaja, bisa diakibatkan oleh penyakit atau kecelakaan. Marilah kita bersama-sama saling memberdayakan sesama, jika ada rekan atau sahabat atau handai tolan kita,  keluarga, bangunlah semangatnya, agar mereka memiliki semangat hidup. JANGAN DISINGKIRKAN ATAU DILEPASKAN DARI SEMUA KEGIATANNYA. Libatkan terus mereka, anggap itu adalah anda sendiri, berempatilah dengan mereka, bukan hanya sekedar simpati dan sok kasihan pada mereka yang sedang mengalami disabilitas, sekali lagi REFLEKSIKAN DENGAN DIRI ANDA, BAGAIMANA KALAU ANDA MENGALAMI DISABILITAS!!!

Gambar mungkin berisi: 8 orang, termasuk Latra Puspadi Bali, orang tersenyum, orang berdiri, mobil, keramaian, pohon dan luar ruangan

 

KUSTA dan DISABILITAS

Sengaja yang saya tulis pertama sekali KUSTA daripada DISABILITAS, kenapa? karena saya melihat bahwa isu kusta lama kelamaan makin terkikis dari kehidupan sosial kemasyarakatan kita, kusta bahkan bukan hanya manusianya dikucilkan akan tetapi juga KATA: KUSTA atau LEPRA itu sendiri. KUSTA memang lebih kecil scopenya dari disabilitas yang sangat luas. Kusta sering dianggap sebagai pemberi masalah dalam isu-isu yang pembangunan yang tidak memperhatikan masalah kemanusiaan misalnya parawisata yang hanya mementingkan pengembangan fisik daerahnya, bukan manusianya. KUSTA masih dianggap pengganggu “investasi” beberapa kelompok masyarakat. Semoga ini tidak memberikan efek negatif kedepannya, karena pemda yang mungkin tidak memberi perhatian pada stigma yang muncul di masyarakat seperti stigma kusta akan menggiring ke masalah ke masa depan. Kemungkinan menimbulkan rasa tidak suka dan “prejudice” pada mereka yang kusta sehingga mereka menjadi orang dan komunitas yang termarjinalisasi atau terpinggirkan dan ujung-ujungnya mereka tidak dapat bekerja atau akhirnya terbuang dari masyarakatnya, sangat menyedihkan !!! Semoga kita dapat berTRANSFORMASI…