Blog

RENUNGAN PAGI: MARI SALING MENGHEBATKAN oleh GANI KAHURIPAN, Surabaya

*Renungan Pagi*
• Gani Kahuripan, Surabaya

*MARI SALING MENGHEBATKAN*

SIAPA yang tidak kenal nama Edmund P. Hillary (1919-2008). Pendaki legendaris dan fenomenal asal Selandia Baru itu tercatat sebagai manusia pertama mencapai atap dunia di Himalaya. Dia dicatat oleh dunia sebagai orang pertama yang menginjakkan kaki di Mount Everest, puncak gunung tertinggi di seantero jagat raya.

Sebelumnya ribuan pendaki dari seluruh dunia mencoba menaklukan Mount Everest, termasuk tim pendaki gunung terkenal kelas dunia dari Swiss, Inggris dan Amerika, tapi selalu gagal. Bahkan tercatat 206 orang pendaki kawakan tewas saat melakukan pendakian ke Himalaya.
Misalnya pendaki kawakan George Leigh-Mallory tahun 1924, gagal. Mallory mengalami kecelakaan dalam pendakian tersebut. Lalu tim pendaki elit asal Swiss yang beranggotakan pendaki kelas dunia, pada tahun 1952 juga terpaksa harus turun kembali setelah hanya mencapai puncak punggung selatan Mount Everest yang berjarak 1.000 meter di bawah puncak utama.

Tapi, Edmund Hillary sukses.
Pada 29 Mei 1953 pukul 11.30 waktu setempat, Edmund Hillary berhasil mencapai puncak Everest pada ketinggian 29,028 kaki di atas permukaan laut. Setelah menancapkan bendera kebangsaan Selandia Baru, Inggris dan Nepal, 15 menit kemudian harus segera turun karena tidak mau ambil risiko kekurangan oksigen.

Kabar keberhasilan Edmund Hillary mencapai puncak Gunung Everest itu baru disiarkan ke penjuru dunia pada tanggal 2 Juni 1953, bertepatan dengan tanggal pelantikan Ratu Elizabeth II. Setahun kemudian, Ratu Elizabeth II memberi gelar bangsawan _Sir_ kepada Edmund. Sejak itu, nama Edmund Hillary menjadi legenda dunia.

Namun tahukah Anda, ada satu orang bernama *Tenzing Norgay* (1914–1986) yang berperan sebagai sherpa (pemandu) dari Nepal yang bertugas memandu sekaligus mengangkut barang untuk membantu pendakian yang dilakukan Edmund Hillary.

Tidak banyak yang tahu bahwa pendakian tersebut sebenarnya dilakukan dengan tim yang cukup besar. Ada banyak tim yang tugasnya men-support Edmud Hillary. Pendakian itu sendiri melibatkan tidak kurang dari 200 orang.

Sebagai pemandu seharusnya Tenzing Norgay-lah yang sampai tiba terlebih dahulu di puncak gunung Mount Everest. Bukan Edmund Hillary sebagai pendaki utama.

Pada saat menjelang titik akhir pendakian, Tenzing Norgay sudah berada 20 meter menuju puncak. Sangat mudah baginya untuk segera naik ke puncak dan menjadi orang pertama yang berhasil menaklukan Mount Everest.

Namun pada posisi itu Tenzing Norgay malah bergeser ke kiri dan mempersilahkan Edmund Hillary menuju puncak. Hillary pun sampai di puncak dan tercatat menjadi orang pertama yang berhasil menaklukkan Puncak Everest.

Ketika mereka turun dari puncak Mount Everest usai sukses melakukan pendakian fenomenal itu, wartawan bertanya kepada Tenzing Norgay.
“Mengapa bukan Anda yang dicatat sebagai pendaki pertama. Bukankah sebagai pemandu Anda yang pertama sampai di puncak?”

Tenzing Norgay dengan senyum ramah bermakna sikapnya yang sangat rendah hati, menjawab:
_Betul, sayalah yang memandu Edmund Hillary. Namun ketika satu langkah menuju puncak, saya mempersilahkan Edmund Hillary untuk naik ke puncak. Mencapai puncak Everest, itu adalah impian Edmund Hillary, bukan impian saya. Saya tidak berambisi untuk itu. Impian saya adalah bagaimana membantu Edmund Hillary untuk menjadi manusia pertama yang mencapai puncak Everest. Kalau itu tercapai, itulah kebahagiaan yang dan kesuksesan saya. Silahkan Edmund Hillary yang dicatat sebagai pendaki pertama yang berhasil menaklukan puncak gunung Everest._

Begitulah Tenzing Norgay yang begitu rendah hati dengan mempersilahkan Edmund Hillary untuk naik ke puncak dan menjadikannya sebagai pendaki gunung pertama yang sukses dicatat dunia sebagai penakluk Mount Everest.
Tapi, jasa Tenzing Norgay tetap diapresiasi dan diabadikan sebagai nama bandara di Himalaya. Bandara itu dinamakan Tenzing-Hillary Airport untuk mengenang dan mengabadikan nama kedua manusia hebat itu.

Edmud Hillary sendiri juga tidak pernah lupa jasa Tenzing Norgay. “Saya tidak akan bisa sukses mencapai puncak Mount Everest tanpa Tenzing Norgay dan seluruh tim,” ujarnya.

Sahabatku,
Ada pelajaran yang baik untuk dipetik dalam kisah nyata pendakian di atas.

✅ Ternyata di balik setiap kesuksesan selalu ada orang lain yang membantu.
✅ Kesuksesan itu mustahil bisa diraih hanya dengan mengandalkan diri sendiri.
✅ Belum tentu kita yang terbaik walau kitalah yang mendapatkan penghargaan.
✅ Setiap keberhasilan seseorang hakikatnya adalah keberhasilan tim atau setidaknya pasti andil orang lain.

Sahabatku,
• Mari selalu bersikap rendah hati apapun kesuksesan yang kita raih saat ini.
• Jangan pernah bersikap sombong walaupun saat ini kita sudah sukses dan kaya karena itu juga pasti karena _support_ orang lain: orangtuamu, saudaramu, temanmu, sahabatmu, rekanmu, tim-mu sekantor dan lain-lain.
• Hargailah setiap orang yang mendukung kesuksesan Anda. Siapapun itu, meski dia hanya seorang pembantu, atau sopir Anda sekalipun. Terlebih itu keluarga Anda sendiri, ayah-ibu, isteri atau suami Anda maupun saudara-saudaramu.

Selamat pagi.
Salam damai sejahtera…

 

RUMAH SAKIT KUSTA PADAM DAN MEMBANGUN MASYARAKAT, KELUARGA DAN INDIVIDU YANG MENGALAMI KUSTA JUGA PADAM?

ENTAH KENAPA HATI KAMI SANGAT GALAU dengan istilah istilah yang seakan akan kita ini akan maju menuju fase berikutnya tanpa ada reserve. Sejak lama memang ini terjadi pada beberapa penyakit menular, khususnya kusta, sangat disayangkan jika melakukan sesuatu tanpa ada penelitian yang mendalam dan independen. Pelayanan yang masih diskriminatif dan banyak menimbulkan permasalahan yang tidak sedikit akibat karena istilah. Semoga ini bukan hanya jadi penghibur di kala lara, namun kita masih banyak sekali mengalami peristiwa yang naas pada konteks kusta di tanah air, bagi saya kenapa tidak didampingi dengan membuat MUSEUM KUSTA jika RS KUSTA dihilangkan istilahnya, kan masih terus kita ini menstigma dan mendiskriminasi kusta itu sendiri? REFLEKSI BAGI KITA SEMUA TANPA KECUALI.

 

GERKATIN PALEMBANG MERATAP !!!

GERKATIN PALEMBANG MERATAP:

GERKATIN adalah suatu gerakan masyarakat yang merupakan kepanjangan dari GERAKAN Untuk Kesejahteraan Tuna Rungu INDONESIA Palembang, tumbuh dari akar rumput dan bergerak untuk membangun kesejahteraan bersama untuk INDONESIA khususnya kota Palembang mengalami peristiwa yang naas dengan pengosongan kantor tersebut dalam waktu dekat ini, Padahal gedung ini masih terus dipakai untuk kegiatan yang sifatnya membangun pemberdayaan dan mengakomodir kebutuhan kaum tuli di Palembang. Silahkan membaca tulisan undangan dibawah ini berhubungan dengan kegiatan yang diadakan hari ini di Palembang. SALAM PEMBERDAYAAN

Assalamualaikum.

Salam Kesetaran.

Pengosongan kantor Gerakan Untuk Kesejahteran Tuna Rungu (Gerkatin) Kota Palembang yang dilakukan oleh Dinas Sosial Kota Palembang dianggap tidak mengakomodir kebutuhan kaum tuli di Kota Palembang.

Kantor Gerkatin yang terletak di LBK Jalan MP Mangkunegara ini sudah ditempati sejak tahun 2009. Setiap minggunya ada 50 orang anak tuli dan relawan yang belajar bahasa Isyarat indonesia (Bisindo) di kantor tersebut.

Maka dari itulah untuk menuntut hak kesetaran atas penyedian fasilitas bagi kaum disable kami yang tergabung dalam Gerakan Solidaritas Gerkatin (GSG) akan melakukan aksi penggalangan tanda tangan pada :

Minggu 16 Juli 2017.

Jam : 20.00 s/d Selesai

Tempat : pendestrian “Jl.Jend Sudirman.

Wassalamualaikum Wr. wb.

Kordinator GSG.

Mia Claudya

0822 8170 4232

Chandra

0878 9740 2340

 

DISABILITAS INDONESIA BANGKIT !!!

Tanggal 20 Mei 2017 yang lalu adalah hari bersejarah bagi kaum disabilitas Indonesia karena aliansi disabilitas bersatu kembali turun ke jalan untuk memberikan pembelajaran kewarganegaraan tentang apa yang dinamakan pemberdayaan disabilitas yang berkelanjutan.

Kali ini disabilitas fokus pada advokasi yang berhubungan dengan pembentukan KNDI Komisi Nasional Disabilitas Indonesia yang merupakan amanat dari UU Penyandang Disabilitas yang sudah ada, advokasi ini fokus pada Bapak Presiden Republik Indonesia: Joko Widodo, disabilitas berkesempatan untuk menyuarakan suaranya yang terbuka dan asertif tanpa pendekatan agresif yang sering dikumandangkan kelompok lain yang bahkan sering dengan memaksakan kehendak, seharusnya mereka bisa belajar dari aliansi disabilitas yang berdaya ini, semoga!. Terima kasih kami pada Pak Jokowi yang selalu mengikuti perkembangan yang berhubungan dengan disabilitas di Indonesia. Semoga terus berkelanjuta, salam pemberdayaan dari kami semua.

 

KUNJUNGAN ABI MARUTAMA (TIM GPDLI) KE AMERIKA SERIKAT dalam rangka YSEALI – Wawancara NUAH TARIGAN dengan ABI MARUTAMA

By Dr. NUAH P TARIGAN

Salah satu program yang diwariskan dari masa pemerintahan Obama ialah Young South East Asia Leaders Initiative Professional Fellowship Program (YSEALI). Program tersebut memberikan kesempatan bagi pemuda yang menginginkan perubahan lebih baik di kawasan Asia Tenggara. YSEALI memberikan kesempatan selama 6 minggu bagi sejumlah pemuda yang terpilih untuk mempalajari nilai-nilai, kebudayaan, sejarah, politik, ekonomi hukum dan kebijakan neagara Amerika sebagai percontohan negara demokrasi yang mengakui dan melindungi seluruh hak-hak warganya.

Abi Marutama salah satu delegasi dari Indonesia yang memperoleh kesempatan untuk mempelajari isu disabilitas di Amerika. Pemerintah Amerika Serikat melalui US Department of State mendelegasikan pelaksanaan teknis untuk fellowship YSEALI ini kepada American Council on Young Political Leaders (ACYPL). ACYPL adalah organisasi non-partisan dan tidak terafiliasi dengan dua kekuatan besar partai politik di Amerika. Di bawah ACYPL program selama 6 minggu bagi 16 delegasi dari 5 negara ASEAN (Indonesia, Malaysia, Thailand, Myanmar dan Filipina) yang kesemuany memiliki minat yang berbeda-beda dan penempatan fellowship di kota yang berbeda juga.

Abi mendapatkan kesempatan untuk menentap dan melaksanakan felowship di Washington DC dengan organisasi American Association of People with Disabilities (AAPD). Dalam kesmepatan fellowship tersebut Abi berfokus pada pengetahuan seputar American with Disability Act (ADA) dan peraturan lain yang menyangkut dengan kebijakan disabilitas di Amerika Serikat. Dalam masa fellowship tersebut Abi dan peserta lainnya tidak hanya mempelajari apa yang menjadi fokus mereka masing-masing. Tetapi juga Abi dan peserta lainnya melakukan bebrbagai pertemuan penting dengan berbagai tokoh penting di Amerika serta menikmati program kebudayaan Amerika.

Abi dan para peserta lainnya bertemu mantan anggota kongres dan senat, pelobi di bidang pendidikan dan lingkungan hidup, aktivis HAM, walikota hingga orang-orang di pemerintah federal dan pihak swasta yang masing-masing memiliki peran dan kontribusi dalam memajukan negara Amerika untuk menjadi lebih baik. Umumnya setiap pertemuan diisi dengan pembicaraan mengenai penegalaman para orang-orang penting dari Amerika mengenai apa yang telah mereka lakukan. Sebagai contoh beberapa mantan anggota kongres menyampaikan pengalaman mereka saat melakukan proses legislasi ADA. Untuk orang Amerika ADA adalah salah satu undang-undang yang terpenting setelah American Civil Rights Act (ACRA). Pada awalnya ACRA belum menyertakan disabilitas sebagai bagian dari hak sipil. Setelah ADA diperkenalkan oleh National Council on Disability (NCD) pada kongres di tahun 1990 dan mantan presiden Bush Senior sangat berambisi bahwa rancangan ADA harus diselesaikan karena ADA akan melindungi hak-hak disabilitas Amerika. Barulah kemudian hak-hak disabilitas dimasukan ke dalam ACRA. Sebagai hasilnya sedikit demi sedikit perbaikan perlindungan hak-hak disabilitas Amerika semakin baik dan diskriminasi terhadap disabilitas mulai menurun.

Amerika Serikat bukanlah dengan sempurna di mana kelompok disabilitas juga masih mengalami hambatan dan diskriminasi. Namun walaupun demikian Amerika berpikir bahwa di negara dan kawasan lain, masih banyak kelompok disabilitas yang mengalami masalah jauh lebih sulit dan tidak adanya kebijakan disabilitas yang menjamin perbaikan hak-hak disabilitas di kawasan dan negara tersebut. Komitmen ini ditindaklanjuti dengan membentuk Office of International Disability Rights yang memberikan bantuan kepada negara-negara untuk meningkatkan kualitas hidup penyandang disabilitas melalui perbaikan kebijakan disabilitas di sektor publik dan swasta.

Yang menarik dari disabilitas di Amerika ialah tidak ada 1 lembaga khusus yang menangani disabilitas. ADA mewajibkan setiap lembaga federal dan negara bagian untuk taat dengan  ketentuan ADA bergantung pada sektor yang ditanganinya. Dengan demikian dalam tataran implementasi, setiap lembaga federal dan negara bagian memilki kantor urusan disabilitas yang memastikan kebijakan di negara bagian dan tingkat federal memenuhi standar yang ditetapkan ADA.

Karena setiap negara bagian memiliki konstitusi dan undang-undang masing-masing, seringkali pelaksnaan ADA tidak maksimal karena kebijakan yang berbeda di tiap negara bagian. Namun demikian, masyarakat dapat menyampaikan keluhan dengan nengajukan tuntutan ke pengadilan di tingkat lokal dan tingkat negara bagian. Beberapa negara bagian mungkin akan membantah argumentasi para penyandang disabilitas Amerika. Namun pengadilan tingkat federal dengan kekuasaan mengadili pada kasus yang berhubungan dengan hukum federral dapat saja menganggap bahwa telah terjadi pelanggaran atas hak-hak disabilitas yang dilakukan oleh pemerintah negara bagian atau lokal. Pengadilan federal dapat berdalih bahwa pemerintah federal atau lokal telah membuat kebijakan yang bertentangan dengan hukum federal dan itu merupakan pelanggaran prinsip hukum dan kebijakan di mana pemerintah lokal atau federal tidak dapat membuat aturan bertentangan dengan hukum dan kebijakan pemerintah federal.

Hal yang menarik lainnya ialah penyelenggaran pemilu di AS tidak bersifat nasional. Dengan demikian setiap negara bagian memiliki kewenangan dan peraturan masing-masing terkait pemilu. Namun demikian setiap proses dan logistik pemilu harus memenuhi syarat aksesbilitas yang ditetapkan oleh Help America Vote Act. Amerika memiliki mesin elektronik pemilu yang ramah disabilitas. Mesin tersebut dapat digunakan bagi mereka yang mengalami disabilitas pendengaran dan penglihatan. Sedangkan untuk disabilitas fisik, tempat pemungutan suara selalu dipastikan akses bagi mereka.

Keunggulan dari disabilitas Amerika ialah mereka memiliki teknologi yang dapat menunjang kehidupan mereka. Mulai dari Google Glass yang dapat memberikan petunjuk jalan bagi orang dengan disabilitas penglihatan dan pendengaran, Local Motors dan IBM yang membuat Smart Watson Bus di mana bus dapat berkendara sendiri tanpa pengemudi dan bus tersebut sangat ramah disabilitas hingga fasilitas relay phone yang menghubungkan orang dengan disabilitas pendengaran dengan orang tanpa disabilitas melalui sambungan telepon.

Amerika bukanlah negara yang sempurna. Disakriminasi berdasarkan status ekonomi, sosial, jenis kelamin, etnis, agama dan disabilitas masih terjadi. Tetapi Amerika tetap berjuang mempertahankan hal-hal yang baik seperti nilai-nilai demokrasi dan toleransi dan tetap berusaha memperbaiki hal-hal yang masih menjadi masalah bagi Amerika sendiri. Sebagai negara yang menjunjung demokrasi, Amerika tidak hanya mencoba memperbaiki apa yang ada di negaranya, tetapi juga memperbaiki dunia. Melalui bantuan luar negeri dan dukungan diplomasi, Amerika ingin dunia ini lebih baik termasuk bagi penyandang disabilitas di mana pun mereka berada.

 

The 3rd AICHR Regional Dialogue on Mainstreaming of The Rights of Persons with Disabilities in the ASEAN Community (A Reflection from Ms LILY PURBA – ACWC and Advisor for GPDLI)

Session 1 General framework on access to justice for person with disabilities (PWD), relevance of SDG 16. Hari Kurniawan from LBH East Java talked about access to Justice of PWD in Indonesia.

There is still big stigma and misunderstanding on PWD. Such as stigma of police, prosecitor, judges, beside the physical barrier and gaps: disqualifying PWD for legal proffesional (lawyers, prosecutors, judges, paralegal) , lack of support for victim of PWD including for the intelectual disability in court cases (interpreter with sign language, and law knowlege). Ms. Aiko Akiyama, focal point on dissability of UN ESCAP mentioned about reviewing of access of PWD to justice, any barriers and regulatory exclussion, Integrated justice system. Thai representative of Ministry of justice, explained about justice fund, commitment to implement SDG 16 at the national and international level and address the barriers experienced by PWD, including access to technology.

Regional action plan of action should consider the research on legal system for PWD, legal assistance, educate the community on the right of PWD and University also training for all law enforcer in legal process.

Session 3, meeting discussed about the disability as entrepreneurs, the disability person should not been treated as target of charity, they are the rights holder. So the people with disability (PWD) can be entrepreneur if they have capacity, accessibility and sustainability. Access to Bank and financial institution (bank account, loan, mortgage and other form of financial credit) and enterpreneur should be the enhanced. PWD is deprived from the property because they are blind. The basic principles of PWD as enterpreneur is equal enjoyment of rights.
This meeting also shared the experiences and challenges of business, social enterprises such as Thailand, having coffee and bakery shop run by PWD.

Under ASEAN Community, PWD on entrepreneurs issue is on 3 pillars, ASEAN Economic Community should involve on this (transportation, banking etc)

 

SAYA INDONESIA SAYA PANCASILA ! #PekanPancasila – GPDLI Mendukung

GPDLI Mendukung #PekanPancasila sebagai bagian dari PERINGATAN HARI LAHIRNYA PANCASILA 1 Juni 2017 yad – YA KEANEKARAGAMAN ANAK BANGSA DAN KITA sudah tergambar sejak bertahun-tahun yang lalu, baik dari suku agama ras dan asal muasal. Termasuk dalam hal ini yang berhubungan dengan keanekaragaman situasi di anak bangsa termasuk disabilitas.

Disabilitas adalah salah satu jenis keragaman yang harus dihormati bukan dipinggirkan, semuanya harus bergerak dan bekerja sama dalam membangun bangsa termasuk komunitas disabilitas di Indonesia. Terima kasih kami kepada Presiden Joko Widodo yang telah bekerja keras membangun bangsa termasuk disabilitas sejak beliau di Solo dan Jakarta dan Indonesia. Terima kasih kami kepada seluruh kepala daerah yang peduli termasuk Bapak Ahok dan Bapak Djarot dan Bupati, Walikota dan Gubernur-gubernur di beberapa propinsi di Indonesia.

Perlu gerakan yang besar dalam membangun masyarakat apalagi yang berhubungan dengan UU No 8 Tahun 2016 yang sudah ada. Semoga.

 

DISABILITAS BERGERAK UNTUK KOMISI NASIONAL DISABILITAS INDONESIA (KNDI)

Gerakan Peduli Disabilitas dan Lepra Indonesia (GPDLI) tetap mendukung usaha-usaha yang dilakukan oleh kaum disabilitas Indonesia untuk perjuangan dalam pendirian KNDI. Sejak awal GPDLI turut bekerja sama untuk RUU DISABILITAS dan saat ini sudah mencapai titik berikutnya menuju pemberdayaan yang lebih luas lagi dalam konteks Nasional.

KNDI adalah AMANAT UU No 8 Tahun 2016, dan GPDLI siap mengawal kapan saja, salam pemberdayaan.

 

VIDEO EDUKASI PENYAKIT KUSTA DI INDONESIA – Produksi 29 Januari 2015

VIDEO INI DIPERSEMBAHKAN OLEH SALAH SATU VOLUNTEER KAMI SEJAK BEBERAPA TAHUN LALU – yang bernama YONATHAN WIDODO, sangat bagus sekali, bahkan memperoleh apresiasi dan penghargaan tinggi dari rekan rekan di NLR dan TIM. Semoga ini dapat menjadi masukan yang baik bagi semua, silahkan anda langsung buka di link berikut:

https://www.youtube.com/watch?v=sk2Wlea9VHU

Dipublikasikan tanggal 29 Jan 2015

Video Edukasi Penyakit Kusta di Indonesia
by movio-screen.net
Jakarta 2014

Produser ARIEF WICAKSANA
Sutradara YONATHAN WIDODO
Illustrator NANDA HG
Art Director PRASAJADI
Animator RIDA MOCHAMMAD
Narator REZKI JATIANING
Sound Designer RAMA KRISNA
Music by BEYONDTHEVEIL

Didukung oleh Citra, Wakil, Anto, Yudha, Omen, Waqil MOVIO

dan GPDLI (www.pedulidisabilitas.org)

 

UNTUK APA MERAYAKAN WORLD LEPROSY DAY JIKA HIDUP KAMI YANG MENGALAMI KUSTA MASIH TERUS DI STIGMA DAN DI DISKRIMINASI !!

WHAT TO CELEBRATE in WORLD LEPROSY DAY, IF OUR LIVES THAT HAVE LEPROSY STILL CONTINUES IN STIGMA AND DISCRIMINATION !!

Memperingati Hari Kusta Dunia yang ke 60 ini ceritanya untuk menghilangkan stigma dan diskriminasi kusta atau lepra atau hansen di seluruh dunia yang luas ini! termasuk INDONESIA sejak zaman Soeharto dan semoga tidak sampai sekarang, orang, keluarga dan komunitas kusta masih terus tidak dianggap, bahkan di rumah sakit yang dulu bernama rumah sakit kusta! Namanya aja yang berubah akan tetapi stigma dan diskriminasi makin membesar, kusta bukan penyakit yang diakibatkan oleh karena rakyat yang menerimanya melakukan hal yang tidak berkenan dalam kehidupannya, akan tetapi lebih banyak disebabkan karena kehidupan dan tempat tinggal mereka termasuk sanitasi dan penggunaan air yang sangat tidak hygiene dan layak untuk dipakai sehari-hari, walaupun tidak akan mencapai lebih dari 3-5% penduduk dunia namun akan sangat berarti dalam membangun masyarakat sejahtera kedepan!

Orang yang mengalami kusta dan keluarga beserta komunitasnya tidak memerlukan banyak jargon-jargon dan iklan yang aduhai serta keren, mereka hanya memerlukan suatu kesempatan untuk menunjukkan karya mereka dan tidak melihat fisik mereka atau apapun yang dari mereka sebagai suatu batasan! perlakukan kami selayaknya manusia, demikian yang selalu saya dapatkan dari rekan-rekanku yang luar biasa itu, ayo mari berlomba-lomba melakukan kebaikan secara menyeluruh menciptakan kebersamaan diantara kita sebagai anak bangsa! MARILAH KITA MELAKUKANNYA DENGAN NYATA BUKAN HANYA JARGON DAN KATA-KATA!

SALAM GPDLI

SALAM PEMBERDAYAAN YANG HOLISTIK


World Leprosy Day commemorates the 60th – this story is to eliminate the stigma and discrimination of kusta or leprosy or Hansen in this whole wide world! including INDONESIA since the Soeharto era and hopefully not until now, people, families and communities leprosy continues to be considered, even in the hospital formerly known as leprosy hospital! Its name has changed but stigma and discrimination continues to expand, leprosy is not a disease caused by because the people who receive them do things that are not pleasing in his life, but more due lives and where they live, including sanitation and water use very hygiene and feasible for everyday wear, while it will reach more than 3-5% of the world population but will be invaluable in building a prosperous society in the future!

People who are affected by leprosy and their family and the community does not need a lot of jargon and a fantastic advertisement and cool, they just need a chance to show their work and do not see their physical or any of them as a boundary! we should treat human beings, so that always I get from my colleagues that remarkable, come on let’s race to do good as a whole to promote unity among us as a nation! LET US DO IT WITH REAL AND NOT JUST WORDS jargon!

SALAM GPDLI

GREETING THE HOLISTIC EMPOWERMENT