Blog

SUDAHKAH KOTA DAN DESA KITA INKLUSIF?

 

AKSESIBILITAS DI ASEAN

Tulisan kami ini kami sampaikan berhubungan dengan pertemuan yang berhubungan dengan aksesibilitas di Kuala Lumpur Malaysia, banyak sekali masukan yang kami dapatkan disini. Tidak saja yang berhubungan dengan aksesibilitas fisikal tetapi juga yang berhubungan dengan non fisikal. Beberapa negara ASEAN sudah bergerak maju bahkan lebih maju dari beberapa negara di Amerika Utara, Eropa dan Australia. Setara dengan Jepang dan Korea tetapi beberapa negara di ASEAN masih juga bertarung dengan ketidak pedulian masyarakatnya dan pemerintah. ASEAN ENABLING MASTER PLAN yang kami ikuti dibulan Desember 2018 di BANGKOK Thailand sebenarnya membantu kita mengarusutamakan masalah disabilitas di negara-negara ASEAN. Saya senang bahwa negara ASIA juga sudah peduli dengan isu disabilitas. Semoga dimasa depan kita terus bertransformasi menjadi negara yang peduli kepada semua orang termasuk perempuan, anak termasuk lanjut usia dan disabilitas. Jika para ARSITEK dan perencana lainnya dapat peduli akan sangat membantu, silahkan bergabung dengan kami via email Bapak Nuah Tarigan di nuahptarigan1@gmail.com

 

WORLD LEPROSY DAY 2020 hilangkan stigma dan diskriminasi.

Menjelang hari kusta dunia besok 26 Januari 2020 kusta atau lepra atau morbus hansen masih merupakan momok bagi sebagian masyarakat yang belum tahu, atau pura pura tahu atau belum mengerti tentang kusta itu. Didaerah yang “low endemic” justru banyak masyarakat kusta atau individu yang sangat mengalami stigma, bila dibandingkan yang “high endemic” itu menurut penelitian kami beberapa waktu yang lalu. Memang belum diteliti diseluruh Indonesia yang sangat luas. Tapi dari sana kita mengerti bahwa peminggiran yang dilakukan oleh sekelompok masyarakat terhadap kusta membuat mereka tidak memiliki akses terhadap informasi dan Hidup mandiri dan keterlibatan dalam masyarakat (pasal 9 dan pasal 19 CRPD). Kusta sudah termasuk didalam konteks disabilitas, GPDLI turut berjuang agar kusta masuk didalam UU Penyandang Disabilitas No 8 Tahun 2016. Perjuangan itu bahkan sudah dicanangkan sejak tahun 2000an. HARI KUSTA DUNIA sudah mulai diwacanakan supaya mengikut sertakan masyarakat yang mengalami kusta sejak 2000an dan akhirnya terwujud sejak 2006 sampai sekarang. GPDLI mengharapkan masalah kusta apalagi masalah disabilitas harus selalu di ARUS UTAMA kan. JANGAN ADA LAGI STIGMA DAN DISKRIMINASI TERHADAP KUSTA. Baru beberapa hari yang lalu kami mendengarkan seorang rekan yang mengalami kusta DIKELUARKAN dari tempat beliau bekerja, dan mereka disia-siakan dan dihina dengan TIDAK MAU BERSALAMAN dan yang mengeluarkannya berbicara dengan rekan kami dengan memakai MASKER, emangnya kusta sama dengan EBOLA dan CORONA? baca dulu isu tentang kusta via googling, percuma memiliki SMARTPHONE YANG MAHAL tapi tidak punya pikiran yang baik dan positif, percayanya cuma sama HOAX dan berita bohong serta Mitos. MENYEDIHKAN.

WALAUPUN DEMIKIAN GPDLI tetap MENGUCAPKAN SELAMAT HARI KUSTA DUNIA Minggu terakhir setiap bulan JANUARI, yang kali in tepat ditanggal 26 JANUARI 2020. MARI KITA HILANGKAN SECARA BERSAMA STIGMA DAN DISKRIMINASI TERHADAP KUSTA=LEPRA=MORBUS HANSEN

 

Buku Panduan Evaluasi AKSESIBILITAS

Gambar mungkin berisi: satu orang atau lebih

Buku ini sudah terbit tahun lalu, dan sudah dibaca oleh beberapa orang yang berpengaruh di bidang PROPERTY, KONSTRUKSI, KONSEPTOR BANGUNAN seperti ARSITEKTUR, dan juga para aktivis dan masyarakat umum, termasuk PUPR, dan banyak yang lain. Sampai saat ini tanggapannya positif, semoga kedepan semakin banyak lagi pemimpin yang semakin sadar DISABILITAS di profesinya masing-masing. Saya sebagai Arsitek, Aktivis, Akademisi dan saat ini mengalami disabilitas sangat mengharapkan anda semua dapat memberi masukan dan dapat mengirimkannya ke email : perkumpulanGPDLI@gmail.com atau WA: 08159045699. SALAM KAMI

 

INDONESIA DIAWAL 2020

Indonesia, JAKARTA kemaren SORE menjelang 1 JANUARI 2020
 

Ini 4 Faktor Penyumbang Disabilitas.

https://sketsindonews.com/faktor-penyumbang-disabilitas/

Kecelakaan Lalulintas Termasuk 23 September 2017 – by Admin

Jakarta, sketsindonews – Perwakilan Gerakan Peduli Disabilitas dan Lepra Indonesia (GPDLI), Abi Marutama mengatakan disabilitas merupakan gabungan kondisi Fisik dan Lingkungan. Hal tersebut mengacu pada hasil dari data World Healt Organization (WHO).

“Disabilitas itu hambatan dalam berpartisipasi, jika ada efek dari lingkungan maka maksud dari WHO tersebut jadi benar,” kata Abi dalam Diskusi Publik yang digelar Forum Jakarta Baru, di Jarinegara, Jakarta Timur, Jumat (22/9).

Dia menjelaskan hambatan dari lingkungan fisik itu ketika seorang pengguna kursi roda tidak akan masuk ke suatu bangunan jika bangunan tersebut tidak di dukung infrastruktur yang mendukung untuk kodisi. “Tidak ada bidang miring atau tidak ada lift,” jelasya dalam Diskusi yang mengangkat tema ‘Infrastruktur Jakarta Ramah Disabilitas’.

Sementara dalam lingkungan firtual hambatan disabilitas muncul ketika merebaknya internet. “Design internet belum mengakomodasi kondisi disabilitas, maka penyandang disabilitas tidak bisa mengakses,” terangnya.

“Seperti di Jepang, jika ada hal yang tidak mendukung untuk disabilitas, maka pemilik program dapat di gugat,” tambahnya.

Faktor Disabilitas.

Abi mengungkapkan bahwa menurut data WHO, sekitar 15% masyarakat di dunia menyandang disabilitas, dan terutama di negara berkembang. “Penyebab utama karena kemiskinan,” ungkapnya.

Menurutnya, sesuai data WHO ada empat (4) faktor utama penyebab disabilitas yakni Penyakir Tidak Menular (PTM) yang disebabkan Pola hidup dan pola makan tidak baik, serta polusi. “Bahkan di BPJS sendiri penyumbang terbesar dari PTM,” paparnya.

Selanjutnya yakni dari Penyakit Menular, lalu Faktor kecelakaan Lalu Lintas. “Faktor kecelakaan lalulintas juga menjadi penyumbang terbanyak,” ujarnya.

Terakhir adalah Penuaan Secara Alami, karena menurutnya sadar atau tidak sadar seluruh manusia itu berpotensi menyandang disabilitas. “Kita akan menyandang disabilitaa ketika kita semakin tua, karena kecenderungan fungsi-fungsi tubuh kita semakin berkurang,” tandasnya.

(Eky)

 

MENJELANG TAHUN 2020

Banyak yang sudah terjadi pada tahun 2019 ini, begitu banyaknya dinamika yang terjadi selama tahun POLITIK ini, banyak yang memperkirakan negara kita akan kolaps, akan tetapi negara REPUBLIK INDONESIA masih berdiri tegak dan semakin kuat, GERAKAN DISABILITAS pun semakin menggema diseluruh negeri, walaupun belum menyeluruh tapi gerakan ini sudah makin dikenal di seantero negeri. KUSTA sementara masih menunggu sentuhan yang kuat untuk maju semakin meluas mengikuti isu disabilitas. Gaungnya sudah terasa menggema, tinggal rekan rekan yang mengalami kusta – mau tidak bekerja sama? GERAKANnya harus sePOPULIS mungkin, dan jangan ada yang merasa lebih SUPERIOR dari yang lain. FARHAN maju terus, GPDLI siap mendukung begitu juga dengan yang lain. GERAKAN ini bukan gerakan sosial lama yang hanya mengutamakan HAK saja, tetapi ini adalah GERAKAN SOSIAL BARU yang membangun HAK DAN KEWAJIBAN, mari kita songsong FAJAR 2020 SEMINGGU LAGI DENGAN PENUH RASA CINTA DAN SEMANGAT MEMBARA. SUKSES UNTUK KITA SEMUA.

Gambar mungkin berisi: 2 orang, termasuk Nuah Tarigan G Sahing, orang tersenyum, orang duduk dan luar ruangan
 

Message from the Special Rapporteur

Dari: Alice Cruz, Quito, Equator
Teman-teman,
Mandat saya bekerja keras selama 2019. Saya ingin mengucapkan terima kasih khusus kepada tim saya atas keahlian dan komitmennya! Di antara beberapa hasil positif dan menggembirakan, saya menyoroti yang berikut:
Kami memastikan pengarusutamaan penyakit Hansen ke dalam SEMUA mekanisme HAM PBB. Dengan kerja sama dari organisasi masyarakat sipil utama dan Misi Permanen ke Jenewa dari negara-negara mitra, penyakit Hansen dimasukkan dalam karya Tinjauan Berkala Universal, Badan Perjanjian, dan Prosedur Khusus. Rachna dan Faustino berbicara, dengan penuh keberanian, atas nama orang-orang yang terkena dampak di Palais des Nations, Jenewa, selama sesi ke empat puluh satu dari Dewan Hak Asasi Manusia.
Kunjungan resmi ke Brasil telah menghasilkan hasil yang sangat positif. Sebagai contoh, setelah kunjungan saya, Kantor Pembela Umum Federal dan Regional, serta kantor Kejaksaan Umum mengambil tindakan yang lebih kuat dalam kemitraan erat dengan gerakan orang-orang yang terkena dampak nasional Brasil – MORHAN. Ini adalah langkah penting menuju pengakuan, keadilan dan penegakan hak.
Kami telah bermitra dengan Mekanisme Hak Asasi Manusia Internasional dan Regional serta organisasi kesehatan masyarakat, badan-badan PBB dan Kemitraan Global untuk Kusta Nol yang berbeda untuk mempromosikan pendekatan hak asasi manusia terhadap penyakit Hansen. Kami telah berhasil memberikan suara kepada orang-orang yang terkena dampak dan anggota keluarga mereka, dengan dukungan dari para pemangku kepentingan dan organisasi utama, pada laporan tematik 2019 saya kepada Dewan Hak Asasi Manusia, yang diinformasikan oleh lebih dari 600 kontribusi dari seluruh dunia.
Akhirnya, saya mendapat kehormatan dan hak istimewa untuk menjadi saksi dan peserta kemunculan suara global orang-orang yang terkena dampak, yang tercermin pada pernyataan mereka yang dipresentasikan pada Konferensi Kusta Internasional di Manila, sebagai hasil dari Forum Global Organisasi Rakyat tentang penyakit Hansen, disponsori oleh Sasakawa Health Foundation. Harapan terbaik saya untuk dunia yang bebas dari diskriminasi terkait penyakit Hansen terletak pada organisasi orang-orang yang terkena dampak dan perwakilan mereka!
Kami mengakhiri tahun ini dengan rasa terima kasih dan harapan. Dan kami mempersiapkan awal tahun baru dengan kesaksian dari orang-orang yang terkena dampak dan yang terkena dampak individu. Lihat daftar keinginan mereka untuk tahun 2020 di awal tahun di media sosial saya!
Alice Cruz
Facebook dari Pelapor Khusus: https://www.facebook.com/srleprosy/

Gambar mungkin berisi: 29 orang, orang tersenyum

ENGLISH

Dear friends,

My mandate worked hard during 2019. I wish to specially thank my team for the expertise and commitment! Among several positive and encouraging outcomes, I highlight the following ones:

We ensured the mainstreaming of Hansen’s disease into ALL the UN human rights mechanisms. With cooperation from key civil society organizations and the Permanent Missions to Geneva of partner countries, Hansen’s disease was included in the work of the Universal Periodic Review, Treaty Bodies and Special Procedures. Rachna and Faustino spoke, with great courage, on behalf of persons affected at Palais des Nations, Geneva, during the forty-first session of the Human Rights Council.

The official visit to Brazil is already producing very positive outcomes. As an example, after my visit, both the Federal and Regional Public Defenders’ Offices, as well as the Public Attorney’s offices adopted a more robust action in close partnership with the Brazilian national movement of persons affected – MORHAN. This is an important step towards recognition, justice and rights’ enforcement.

We’ve partnered with different International and Regional Human Rights Mechanisms and public health organizations, UN agencies and the Global Partnership for Zero Leprosy in order to promote a human rights approach to Hansen’s disease. We’ve succeeded in giving voice to persons affected and their family members, with the support of key stakeholders and organizations, on my 2019 thematic report to the Human Rights Council, which was informed by more than 600 contributions from all over the world.

Finally, I had the honour and privilege to be both a witness and a participant of the emergence of a global voice of persons affected, which was reflected on their statement presented at the International Leprosy Conference in Manila, as a result of the Global Forum of the People’s Organizations on Hansen’s disease, sponsored by Sasakawa Health Foundation. My best hope for a world free of Hansen’s disease related discrimination lies in the organizations of persons affected and their representatives!

We end the year with gratitude and hope. And we prepare the beginning of the new year with testimonies from persons affected and impacted individuals. Check their wish list for 2020 at the beginning of the year on my social media!

Alice Cruz

Facebook of the Special Rapporteur: https://www.facebook.com/srleprosy/

Tweeter of the Special Rapporteur: https://twitter.com/srleprosy

Instagram of the Special Rapporteur: https://www.instagram.com/specialrapporteurleprosy/?hl=pt 

Website: www.ohchr.org/EN/Issues/Leprosy/Pages/LeprosyIndex.aspx

Email: srleprosy@ohchr.org


 

Pertemuan NGO/ CSO/ DPO Kusta dan Disabilitas

Gambar mungkin berisi: 13 orang, termasuk Alex Ander Tarigan dan Paulus Manek, orang tersenyum, orang duduk, tabel dan dalam ruangan

PERTEMUAN DENGAN SHAREHOLDERS KUSTA TELAH DISELENGGARAKAN di Jakarta baru baru ini, NLR sebagai perpanjangan tangan dari NLR yang di Belanda menghimpun kami untuk hadir, termasuk GPDLI, FARHAN, FKDC, MIMI INSTITUTE, Permata, dll semoga apa yang dibicarakan dalam pertemuan ini bukan hanya menjadi MACAN KERTAS. Yang dibicarakan pada pertemuan ini adalah antara lain khususnya pada sesi diskusi. adalah: beberapa informasi seperti :1. data kusta terkini (update di wilayah); 2. kebijakan terkait kusta di wilayah; 3. kasus yang ditangani (berdasarkan apa kasus yang dialami, dimana kasus tersebut terjadi, kapan kasus tersebut terjadi, mengapa kasus tersebut terjadi, siapa saja yang terlibat dalam kasus tersebut, bagaimana kasus tersebut terjadi); 4. praktik baik yang telah dilakukan dalam pemberdayaan di wilayah. SEMOGA BERLANJUT DAN DAPAT KITA FOLLOW UP BERSAMA. MENUJU INDONESIA ZERO LEPROSY. BUKAN MANUSIA YG MENGALAMI KUSTA DI HABISIN, TETAPI STIGMA DAN DISKRIMINASINYA DI NOL KAN!!!

 

#Diffablepreneur Dukung Kewirausahaan Penyandang Disabilitas

ByMuhammad Perkasa Al Hafiz  source: https://marketeers.com/diffablepreneur-dukung-kewirausahaan-penyandang-disabilitas/

Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) menyebutkan, sekitar 10% atau 24 juta dari total penduduk Indonesia adalah penyandang disabilitas. Berdasarkan data Kementerian Ketenagakerjaan, per Agustus 2017 penduduk usia kerja disabilitas nasional berjumlah 21.930.529 orang. Dari jumlah itu, yang termasuk angkatan kerja sebanyak 11.224.673 orang atau 51,8%.

Sementara itu, angkatan kerja disabilitas yang bekerja sebanyak 10.810.451 orang atau sebesar 96,31%. Sedangkan penganggur terbuka dari penyandang disabilitas sebanyak 414.222 orang atau 3,69%. Data Kementerian Ketenagakerjaan juga menyebutkan, baru sebanyak 2.851 penyandang disabilitas yang berhasil ditempatkan di sektor formal.

Menilik data di atas, sebagian besar penyandang disabilitas bekerja di sektor informal. Pemerintah saat ini sudah mulai melakukan sejumlah upaya guna memfasilitasi agar penyandang disabilitas bisa lebih terserap lagi di sektor formal.

Pemerintah juga sudah mengeluarkan Undang Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang penyandang disabilitas, yang menyebutkan bahwa Negara menjamin kelangsungan hidup setiap warga negara, termasuk para penyandang disabilitas. Undang- undang juga menjamin hak pekerjaan, kewirausahaan dan koperasi untuk penyandag disabilitas. Namun demikian upaya tersebut juga harus didorong seluruh lapisan masyarakat termasuk dari dunia usaha.

Indonesia Global Compact Network (IGCN) yang ditopang oleh beberapa perusahaan, mengadakan sebuah seminar dan workshop bertema #Diffablepreneur guna mengasah kemampuan wirausaha para penyandang disabilitas. Jika data menunjukan bahwa para penyandang disabilitas lebih banyak bekerja di sektor informal, maka penyetaraan kemampuan kewirausahaan akan sangat penting.

“Penting untuk memberikan pemahaman akan kewirausahaan untuk para penyandang disabilitas dari sisi capacity building dan networking. Tentu, tujuannya untuk meningkatkan taraf kehidupan ekonomi mereka. Kegiatan ini juga kami jadikan sebagai percontohan. Ke depannya, mungkin bisa dikembangkan dari sisi pengembangan Inkubator dan akses finansialnya,” jelas Vice President (VP) Women’s Empowerment & Small and Medium Enterprise (SME) Development IGCN Hendra Warsita.

Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi wadah untuk mengembangkan kapasitas para ibu, keluarga dan yayasan dari para disabilitas dalam usia produktif (15-40 tahun). Akan ada sejumlah sesi yang akan membahas secara mendalam mengenai kewirausahaan dan potensi berbisnis bagi para disabilitas.

Program ini pun mampu menarik perhatian Martha Tilaar Group (MTG). Pasalnya, sebagian besar tenaga kerja di unit-unit usaha yang berada di bawah payung MTG adalah kaum ibu dan perempuan. Tak hanya itu, sejak awal berdiri MTG juga merangkul dan membuka kesempatan kerja pada penyandang disabilitas. Salah satu contoh nyata dari penyandang disabilitas yang berhasil berprestasi di MTG adalah Silvia Fitri Sundari yang sudah berkerja sebagai terapis di Martha Tilaar Salon Day Spa selama 26 tahun.

Perusahaan pun berkomitmen dan berupaya untuk memberi kesempatan yang sama, serta kesetaraan bagi kaum ibu, perempuan, dan penyandang disabilitas untuk bekerja dan berkarya, serta menjadi individu-indvidu yang maju dan berdaya. Kegiatan ini sendiri didukung sejumlah anggota IGCN di antaranya, Martha Tilaar Group, APP Sinarmas Group, MarkPlus, Inc., Sintesa Group, Datascrip, PT Supra Boga Lestari Tbk., Indonesia Marketing Association (IMA), dan Gerakan Peduli Disabilitas dan Lepra Indonesia (GPDLI).

IGCN merupakan jaringan lokal dari UN Global Compact, bertujuan untuk mengutamakan Sepuluh Prinsip UN Global Compact dibidang hak asasi manusia, ketenagakerjaan, lingkungan hidup, dan anti korupsi melalui pelatihan, fasilitasi, dialog dan aksi kolaboratif untuk perusahaan dalam upayanya menjalankan bisnis yang bertanggungjawab. IGCN mendorong perusahaan, lembaga swadaya masyarakat, dan akademia untuk bekerjasama dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) di Indonesia.

Editor: Eko Adiwaluyo