Categories
from author

SELAMAT kepada ANGKIE YUDISTIA atas PELUNCURAN BUKUNYA YANG BERJUDUL: PEREMPUAN TUNA RUNGU TANPA BATAS


Selamat atas peluncuran buku ini, GPDLI yang diwakili oleh Nuah Tarigan turut menghadirinya pada tanggal 20 Desember yang lalu di Ciputraworld Kuningan Jakarta, SELAMAT YA ANGKIE dan SALAM PEDULI DISABILITAS SE INDONESIA DAN DUNIA

Saya harapkan akan banyak muncul “Angkie-Angkie” yang baru dimasa yang akan datang ini, salam kami.

GPDLI

Categories
from author

CERITA TENTANG ANAK PEREMPUAN YANG MENGALAMI KUSTA (REFLEKSI AKHIR TAHUN 2011) by Nuah Tarigan G Sahing on Sunday, 18 December 2011 at 15:20

Kisah ini bukan kisah fiksi namun merupakan kisah nyata dari seorang anak perempuan yang mengalami kusta dalam hidupnya, kehidupan yang begitu tragis terjadi dalam hidup anak perempuan yang masih muda belia ini, tanpa dinyana hidupnya mengalami perubahan yang sangat besar, dari seorang anak yang ceria menjadi orang yang harus bergantung dengan orang lain, mengandalkan bantuan dalam arti yang penuh, karena ketidak-berdayaan dia secara psikologis. Mengalami rasa minder yang sangat luar biasa, rasanya dia ingin keluar dari semuanya ini.
Namun beruntung dia memiliki banyak rekan yang membantu, salah satunya rekan yang membawanya kesebuah pusat rehabilitasi yang dikoordinasi oleh sebuah lembaga keagamaan yang sangat inklusif, dengan cinta dan kasih sayang yang diberikan kepadanya, dia mampu melewati masa-masa sulit dalam hidupnya, kemampuannya dalam membuat cerita pendek, dan memainkan alat musik dan bernyanyi bahkan menulis lagu membantu anak perempuan yang berbahagia ini memahami hidupnya dan memahami manusia secara keseluruhan.
Komunikasi yang kami jalankan dengan sang anak perempuan ini membuat saya banyak belajar akan arti kehidupan yang singkat ini, dia sekarang sudah merasa cukup waktunya untuk keluar dari tempat tersebut dan mulai memulai hidup baru, dengan keyakinan yang sangat besar dia merasa bahwa dia mampu, dengan keterbatasan yang dimilikinya dia sangat yakin dapat melakukan yang berarti kedepan, bahkan contoh-contoh tulisannya dan semua yang ada padanya meyakinkan dirinya dan orang lain supaya dia diberikan kepercayaan segera untuk memulai hidup baru diluar rehabilitasi yang sangat memanjakan ini.
Saudaraku yang tercinta, akhir tahun 2011 akan berakhir, semoga refleksi yang ringkas ini dapat memberikan makna kepada anda sekalian bahwa MANUSIA INDONESIA itu harus berubah dari hanya memikirkan diri sendiri menjadi MANUSIA INDONESIA yang mulai memperhatikan masyarakatnya termasuk masyarakat terpinggirkan dan marjinal seperti yang kami bagikan diatas, mari bergabung bersama dalam GERAKAN masyarakat yang mengINDONESIA ini, dalam GERAKAN yang dinamakan GERAKAN PEDULI DISABILITAS dan LEPRA INDONESIA (GPDLI) www.pedulidisabilitas.org. GERAKAN ini bukan hanya sekedar YAYASAN atau GERAKAN namun perpaduan antara GERAKAN SOSIAL BARU yang menjembatani masyarakat marjinal dengan kelompok MENENGAH, dan masyarakat umum INDONESIA bahkan seluruh dunia.

Categories
from author

RUMAH BELAJAR Ibu SRIYATMO di Komplek SITANALA, Tangerang, BANTEN at 6 December 2011

MARI PEDULI DISABILITAS dan Program "EDUCATION FOR ALL"

Bapak Yatmo dan Ibu Sriyatmo yang ceria melihat anak-anak yang belajar dirumahnya.
Tersentuh dengan banyaknya anak-anak yang masih kecil meminta-minta di jalan-jalan bersama orang-tuanya, Ibu Sriyatmo akhirnya memiliki keinginan untuk membentuk RUMAH BELAJAR di kampung Kusta SITANALA Tangerang Banten, dirumahnya yang mungil berukuran 13,5 x 12 m2 Bapak dan Ibu Yatmo menampung anak-anak yang belajar disana sejak beberapa tahun yang lalu, hampir setiap hari rumahnya diramaikan dengan anak-anak yang belajar setelah pulang sekolah, dan memiliki semangat belajar untuk masa depan mereka. Yayasan Dutasia melalui fasilitatornya Bapak Candra berusaha bersama-sama membangun masa depan anak-anak tersebut, khususnya dalam bidang pendidikan.
Gerakan Peduli Disabilitas dan Lepra Indonesia (GPDLI) yang dikomandani oleh Bapak Herman Hutabarat dilapangan juga sangat giat berkolaborasi dalam membangun secara keseluruhan kemajuan masyarakat disekitar kampung Kusta Sitanala.
Dengan semakin banyaknya anak-anak yang hadir, membuat ruangan disekitar rumah Ibu Sri (teras depan ukuran sekitar 8×2 m ) sudah tidak mungkin dipakai lagi secara efektif, sehingga sedang dirancang saat ini ruangan disamping bangunan yang berukuran 6×12 untuk tempat yang lebih besar, namun terhalang biaya besar, jika anda tertarik untuk membantu pembangunan RUMAH BELAJAR yang nantinya dipakai untuk belajar bersama, Taman Bacaan dan Bengkel Seni serta tempat mengembangkan kelompok komunitas Kusta, silahkan kontak kami di 085716779704 atau diemail gpdli@hotmail.com, atau di nuahptarigan1@gmail.com.
SALAM PEMBERDAYAAN.
Herman M. Hutabarat
Nuah P. Tarigan

Categories
from author

SELAMAT NATAL 25,26 Desember 2011 untuk yg merayakannya DAN SELAMBAT MENYAMBUT TAHUN BARU 1 JANUARI 2012

UKIRAN ALAM DI BALI - MENYAMBUT FAJAR 2012Tahun ini untuk kesekian-kalinya kita berNATAL ria, namun apakah natal tahun ini akan berlalu seperti natal-natal sebelumnya? atau hanya merupakan suatu tradisi yang latah kita lakukan setiap waktu, jadikan natal tahun ini menjadi natal yang lebih berkwalitas dari tahun-tahun yang lalu, NATAL yang peduli dengan INDONESIA, peduli dengan NATION CHARACTER BUILDING kedepan bangsa ini, transformasi paradigma PEMIMPIN PELAYAN atau SERVANT LEADERSHIP hendaknya menjadi VISI dalam melayani bangsa besar ini, TIADA ARTINYA JABATAN kita yang tinggi, atau segalanya yang kita punya ini tanpa berarti bagi manusia lainnya, dan sesama bahkan alam raya, karena semuanya didunia ini adalah MILIKNYA dan KEPUNYAANNYA, kita bukan menjadi PEMILIKNYA namun PENGELOLANYA, selamat bertransformasi menjadi lebih baik dari hari-hari sebelumnya dan semakin bermakna dalam HIDUP kita yang singkat ini, seperti PASIR ditepi pantai dan seperti DAUN yang akan jatuh lalu menjadi TANAH kembali. SELAMAT BERNATAL dan selamat hari IBU kepada kaum ibu seluruh jagad.
AMEN
DIDALAM KASIH DAN PENYERTAANNYA.
GOD loves all of us and this world.

Nuah P. Tarigan

Categories
from author

WORLD LEPROSY DAY 2012 – COMING SOON – in the end of JANUARY 2012

PLEASE PARTICIPATE on this discussion- DO YOU WANT TO PARTICIPATE IN THIS IMPORTANT DAY?

AS A VOLUNTEER ?

AS A DONATUR?

AS A SUPPORTER?

Bapak/ Ibu yang kami hormati dan kami kasihi, Hari Kusta Dunia yang akan kami selenggarakan bersama adalah merupakan sarana untuk lebih memperkenalkan masalah kusta yang masih ada di Indonesia, khususnya dalam membangun komunitas-komunitas yang terabaikan di Indonesia termasuk kusta dan disabilitas dan ini selaras dengan semangat kita semua membantu MDGs 2015 serta merespon dari CRPD atau UU DISABILITAS yang sudah ditanda-tangani DPR bulan Oktober yang lalu dan mewujudkan kwalitas kehidupan masyarakat kita dimanapun kita berada serta mewujudkan masyarakat Indonesia yang memiliki nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945. Khusususnya rekan-rekan yang mengalami kusta memperoleh stigma dan diskriminasi yang sungguh mengakar didalam masyarakat kita, sehingga diperlukan suatu usaha pendekatan yang sinerjis dan menyatu, Visi dan Program kami dapat dibaca terlampir bersama-sama dengan surat kami ini atau di website kami di www.pedulidisabilitas.org .

Demikian surat kami ini kami kirimkan, terima kasih sekali lagi kami ucapkan atas segala perhatiannya.

Hormat kami,

Ir. Nuah P. Tarigan, MA., Dr (Cand.)

Categories
from author

KISAH BAPAK KETUA GERAKAN PEDULI DISABILITAS DAN LEPRA INDONESIA (GPDLI) : Bpk. HERMEN M. HUTABARAT.

(Sesuai dengan TULISAN TANGAN langsung Bapak Hermen Hutabarat)

Saat-saat masa bahagia dan masa yang penuh dengan kegembiraan serta kesenangan, tiba-tiba harus berganti dengan waktu yang membuat saya menjadi anak yang penuh dengan kesedihan dan kedukaan mendalam, sewaktu duduk dibangku SD Katholik kelas empat, setiap kali saat istirahat sekolah saya harus berobat ke RSCM Jakarta. Dan pada saat klimaksnya saya harus diopname di RS DGI (Sekarang PGI) Cikini, saat itu saya bersekolah di SMP VIII Pegangsaan, di RS CIKINI saya diopname selama satu tahun l tahun kurang lebihnya. Tapi apa yang saya dapatkan dari semua itu, hanya kekecewaan dan keputus-asaan yang saya dapatkan, karena team dokter tidak pernah memberitahukan mengenai penyakit  yang saya derita.  Sepulang dari RS DGI CIKINI saya bukan menjadi lebih baik bahkan menjadi lumpuh total.

Makan, tidur, mandi, buang air besarpun harus ditempat tidur, Ibu yang terkasih serta saudara saya bergantian harus member suntikan satu hari 5 kali. Itu semua tidak membawa hasil, tetapi membuat saya semakin menderita hingga suatu hari tepatnya pada tahun 1974 bulan Februari seingat saya pada waktu itulah saya diangkut ke Pusat Rehabilitasi di TANGERANG yang bernama Rumah Sakit Kusta SITANALA (saat itu), tidak terbayang oleh saya bagaimana masa depan saya, karena pada saat itulah saya di VONIS menderita penyakit yang sangat mengerikan bahkan ditakuti yaitu KUSTA.

Mulai saat itu keputusasaan serta kekecawaan tiada henti-hentinya dialami oleh saya, bahkan seminggu diopname Ibu yang terkasih dipanggil oleh TUHAN YANG MAHA KUASA. Sungguh tragis sekali bahkan saya merasakan lengkaplah dan sempurna sudah penderitaan saya kali ini. Tidak hanya itu Iman saya pun mulai goncang, hingga suatu saat yang tidak dapat dipikirkan dengan akal sehat, TUHAN YME mengirimkan hambaNYA untuk mengembalikan iman dan kepercayaan saya.

Hingga suatu hari saya harus hidup mandiri dengan keberadaan saya dengan tubuh yang cacat, tetapi harus bisa menghidupi diri sendiri. Walau harus menjalaninya dengan penuh tantangan, selain harus tetap pada jalan ataupun TUJUAN HIDUP yang senantiasa menanti dimasa yang akan datang, yaitu kehidupan yang layak dan membaik pada masa depan yang penuh dengan harapan bersama Tuhan Yang Kuasa.

Tangerang, 23 Agustus 2011

HERMEN MANGARADAS HUTABARAT

Lahir : 18 MARET 1955

SD St IGNATIUS Jakarta – 1969

SMP VIII – Pegangsaan Jakarta.

KETERANGAN GAMBAR ATAS: Ketua GPDLI – Bapak Hermen M. Hurtabarat ditengah-tengah, sebelah Kiri Bapak Rektor BINUS University dan Ketua Umum GPDLI – Nuah P. Tarigan – pada waktu acara WORLD LEPROSY DAY 2011 bersama-sama dengan YAYASAN KICK ANDY/ METRO TV.

Categories
from author

NUMBER OF PATIENTS WITH LEPROSY STILL HIGH – UGM – Submitted by Marwati on Fri, 04/08/2011

The number of people with leprosy in Indonesia is still quite high regardless treatment efforts that have been conducted for these patients. According to Head of Tropical Disease Center (TDC), University of Airlangga (Unair) Section of Leprosy Disease, Prof. Dr. dr. Indropo Agusni, Sp.KK (K), during the last ten years, the number of lepers in Indonesia did not experience a decline.

Currently, there are approximately seventeen thousand new leprosy patients in this country. “Although they have been treated, but the number of patients still increased. This has happened for at least the last ten years,” said Indropo in the Indonesian-Dutch Tropical Dermatology Meeting 2011, which was held at the Melia Purosani Hotel on Thursday (7/4).

Indropo added leprosy in Indonesia is an iceberg phenomenon. Treatment and handling are not given to patients in the grassroot level, which are more numerous because they do not show clinical symptoms. The aforementioned clinical symptom is the emergence of specks the size of a coin and numbness. He mentioned several areas in Indonesia with high number of leprosy sufferers, such as East Java, Papua, South Sulawesi, and Maluku. For the number of lepers, Indonesia was ranked third in the world after India and Brazil. “Indonesia is second after India and Brazil related to the number of leprosy patients,” he said.

Leprosy disease can affect anyone from children to adults. If treated early, leprosy can be cured completely and does not cause disability. Treatment of this disease takes about 6-12 months with various types of drugs or multiple drugs therapy. The cause of leprosy is bacteria and it can be transmitted through the air, soil, bedbugs, and armadillo. Early detection and adequate testing facilities in various communities is an effective step to control the spread of leprosy. “In addition, when you are infected due to close contact with patients, it’s better to be treated immediately if you experience the aforementioned clinical symptoms,” said Indropo.

Committee Chairman of the Faculty of Medicine, Prof. Dr. dr. Hardyanto Soebono, Sp.KK (K), mentioned in the seminar that furthermore a workshop will run Netherlands from 7 to 9 April involving approximately 18 skin experts from Indonesia and 18 experts from the Meanwhile, the number of participants reached more than 250 people.

Tropical dermatology is the science of medicine devoted to learning skin diseases that exist and derived from the tropic areas. The disease is now found not only in tropical countries, but also in developed countries because of globalization and population mobility. Most of the tropical skin disease is an infectious disease while others are allergic diseases because of the influence of climate and environment.

SOURCE : http://www.ugm.ac.id/en/?q=news/number-patients-with-leprosy-still-high

Categories
from author

SURAT YANG KAMI TULIS TENTANG SITUASI STIGMA DAN DISKRIMINASI TERHADAP REKAN YANG MENGALAMI KUSTA DI MAKASSAR TAHUN 2007

PRESS RELEASE

Bersama dengan ini kami ingin menyampaikan tentang pelecehan terhadap penderita kusta yang sudah sembuh di Makassar, berita yang sudah diterbitkan tanggal 20 November 2007 di harian KOMPAS pada halaman 24 sudut kiri bawah yang berjudul: DISKRIMINASI – BEKAS PENDERITA KUSTA PROTES TINDAKAN HOTEL dan dalam berita di www.detik.com yang berjudul : GARA GARA TAMU JIJIK, PENDERITA KUSTA DIUSIR DARI HOTEL.

http://www.detiknews.com/indexfr.php?url=http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/11/tgl/19/time/160000/idnews/854524/idkanal/10

Kami sangat menyayangkan akan peristiwa ini, sungguh diluar dugaan kami, dan benar benar suatu tindakan diluar batas kemanusiaan, karena telah terjadi suatu tindakan pelecehan terhadap sesama ciptaan Tuhan Yang Maha Esa dan Agung.

Tapi walaupun demikian dengan sangat berbesar hati kami akan mencoba memberi pengertian tentang masalah kusta ini kepada setiap pembaca agar kiranya apa yang dialami oleh orang kusta di Makassar tidak terjadi lagi didalam masyarakat kita di Indonesia, kami sangat mengharapkan peran serta tokoh masyarakat, tokoh agama dan seluruh elemen masyarakat dalam memberikan penyadaran tentang betapa pentingnya kita saling menghargai antara sesama ciptaan Tuhan, khususnya kepada penderita kusta.

Kami menyadari bahwa masih banyak masyarakat Indonesia yang belum tahu tentang seluk beluk penyakit kusta, juga pengobatan dan penyembuhannya secara total, apa yang mereka alami saat ini bukanlah keinginan dan kemauan mereka, karena terjadi diluar dari kekuasaan rekan-rekan kita tersebut. Mari kita sama sama membantu agar yang pernah menderita kusta dan yang sedang sakit kusta dapat juga sembuh secara mental dan kepribadiaan mereka, apabila mereka terhilang dalam masyarakat kita tentu merupakan suatu kerugian besar sebagai bagian dari masyarakat Indonesia.

Semoga Global Appeal 2007 yang disampaikan oleh Yohei Sasakawa  yang merupakanWHO Goodwill Ambassador for the Elimination of Leprosy Chairman, The NipponFoundation dibawah ini dapat membawa inspirasi bagi kita semua.

Kami dengan senang hati akan memberikan masukan kepada Bapak dan Ibu yang masih belum mengetahui tentang Kusta ini secara langsung, anda dapat menghubungi kami di kantor YAYASAN TRANSFORMASI LEPRA INDONESIA (YTLI) seperti dibawah ini via email kami di nuah.tarigan@tlmindonesia.com

Hormat dan Salam Kami,

Ir Nuah P. Tarigan, MA

Direktur Eksekutif

YAYASAN TRANSFORMASI LEPRA INDONESIA (YTLI)

Sebagai PENDIRI YTLI dan GPDLI

SEKARANG KETUA UMUM GPDLI

Bisa dihubungi ke email add: nuahptarigan1@gmail.com atau gpdli@hotmail.com


Categories
from author

GLOBAL APPEAL 2007 (Sekedar Mengingatkan)

GLOBAL APPEAL 2007
To End Stigma and Discrimination against People Affected by Leprosy
BAHASA INDONESIA:
HIMBAUAN UNTUK DUNIA 2007
Untuk Mengakhiri Stigma dan Diskriminasi terhadap Penderita Kusta.
“Every person is born free and equal in dignity and human rights.”*
BAHASA INDONESIA:
”Manusia dilahirkan merdeka dan memiliki martabat dan hak-hak yang sama.”*
Many people think that leprosy no longer exists. But it does – and also the stigma and discrimination it causes.
BAHASA INDONESIA:
Banyak orang yang berpikir bahwa kusta sudah musnah. Tetapi kenyataannya masih ada – juga stigma dan diskriminasi yang disebabkan oleh karenanya.
Discrimination against people affected by leprosy is one of the oldest and most pervasive examples of social injustice in the history of the human race.
BAHASA INDONESIA:
Diskriminasi terhadap penderita kusta adalah salah satu contoh tertua dan terluas yang mempengaruhi semua hal ketidakadilan sosial didalam sejarah umat manusia.
Even today, millions of men, women and children continue to suffer social, economic and legal discrimination, simply because they or a family member have had leprosy.
BAHASA INDONESIA:
Bahkan sampai sekarang, jutaan pria, wanita dan anak-anak mengalami penderitaan sosial, ekonomi dan diskriminasi hukum, hanya disebabkan mereka atau salah satu anggota keluarga mereka terjangkit kusta
Leprosy is curable disease. Yet misguided notions about leprosy persist, with devastating consequences for those thus stigmatized.
BAHASA INDONESIA:
Kusta adalah penyakit yang dapat disembuhkan. Sampai sekarang pengertian yang salah tentang kusta masih terus bertahan, menimbulkan akibat-akibat merusak karena  stigma yang ditimbulkan.
Denying the inherent human rights of anyone on the basis of disease is indefensible. Discrimination can never be justified.
BAHASA INDONESIA:
Menolak hak-hak yang sudah menjadi sifatnya dari setiap manusia berdasarkan penyakit yang dideritanya adalah suatu tindakan yang tidak perlu dipertahankan.
Diskriminasi tidak akan pernah dibenarkan.
Silence on this issue is not acceptable.
BAHASA INDONESIA:
Mendiamkan masalah ini adalah suatu hal yang tidak dapat diterima.
We urge you to join us in the fight to end this social injustice.
BAHASA INDONESIA:
Kami mendorong anda agar dapat bergabung bersama-sama berjuang mengakhiri ketidakadilan sosial ini.
Together, let us create a society in which every individual is free and equal in dignity and human rights.
BAHASA INDONESIA:
Bersama sama, kita menciptakan suatu masyarakat dimana setiap pribadi memiliki kemerdekaan dan mempunyai martabat dan hak-hak yang sama.
January 29, 2007
BAHASA INDONESIA:
29 Januari 2007
Global Appeal 2007 is an initiative of Yohei Sasakawa, WHO Goodwill Ambassador for the Elimination of Leprosy, endorsed and co-signed by leaders of People Affected by Leprosy around the world.
BAHASA INDONESIA:
Himbauan Untuk Dunia 2007 adalah inisiatif dari Yohei Sasakawa, Goodwill Ambassador WHO untuk Eliminasi Kusta, disahkan dan di tanda-tangani bersama-sama para pemimpin Penderita Kusta dari seluruh dunia.
Yohei Sasakawa
WHO Goodwill Ambassador for the Elimination of Leprosy
Chairman, The Nippon Foundation
BAHASA INDONESIA:
Yohei Sasakawa
Goodwill Ambassador WHO untuk Eliminasi Kusta
Pimpinan, The Nippon Foundation.
*From the First Article of the Universal Declaration of Human Rights (1948)
BAHASA INDONESIA:
*Dari Pasal Pertama Pernyataan Umum tentang Hak-hak Asasi Manusia (1948)
Contact The Nippon Foundation (http://www.nippon-foundation.or.jp or fax 81362295602) for more information.
BAHASA INDONESIA:
Anda dapat menghubungi The Nippon Foundation (http://www.nippon-foundation.or.jp
DITERJEMAHKAN oleh NUAH P TARIGAN
TRANSLATED by NUAH TARIGAN in 2007/ 2008
Categories
from author

Korupsi Kesehatan Indonesia Rp 128 Miliar (2008) Bagaimana Di Tahun 2011?

JAKARTA, JUMAT – Sektor kesehatan di Indonesia sangat rentan korupsi. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya korupsi yang terjadi di sektor ini. Dari hasil pemantauan Indonesia Corruption Watch/ICW tahun 2006-2008, ada 54 kasus korupsi yang sedang diusut oleh Kejaksaan, KPK dan kepolisian.

“Dari 54 kasus itu, 49 kasus di antaranya menyebabkan kerugian negara mencapai Rp 128 miliar,” kata peneliti Divisi Monitoring Pelayanan Publik (MPP) ICW, Febri Hendri saat mengungkap hasil penelitian ICW mengenai Korupsi Kesehatan di Indonesia di Jakarta, Jumat (21/11).

Febri Hendri mengatakan, masalah di sektor kesehatan antara lain mulai dari sulitnya akses layanan kesehatan, buruknya layanan kesehatan, hingga masih adanya malpraktik. Hal ini disebabkan karena korupsi kesehatan yang menyebabkan inefisiensi dan pemborosan sehingga biaya kesehatan semakin meningkat.

“Masih banyak area rawan korupsi di sektor kesehatan yang belum tersentuh oleh upaya pemberantasan korupsi. Yang kami permasalahkan, kasus korupsi di level mene ngah ke bawah yang di daerah sudah mulai ditindak, namun regulator di level atas atau nasional belum tersentuh sama sekali, padahal potensi korupsinya cukup besar, kata Febri Hendri.

Rawan korupsi

Mengapa sektor kesehatan rawan korupsi, peneliti Divisi MP P ICW Ratna Kusumaningsih memaparkan bahwa korupsi terjadi karena adanya ketidakpastian informasi di seputar permintaan layanan kesehatan (siapa saja yang sakit, kapan dan bagaimana pengobatan yang tepat).

Juga karena besarnya dana dalam sektor kesehatan. Anggaran kesehatan pemerintah di tahun 2007 sebesar Rp 16 triliun, besarnya omset obat tahun 2007 yakni Rp 29 triliun.

Banyaknya aktor yang terlibat serta hubungan antar aktor yang kompleks juga menjadikan sektor kesehatan ini rawan korupsi, kata Ratna Kusumaningsih.

Ratna menyatakan, pelaku yang berpotensi melakukan korupsi kesehatan adalah regulator: pusat (Depkes, DPR, DPD, BPOM dan Badan Pengawas lainnya), daerah (Dinkes Provinsi/Kabupaten/Kota, DPRD Provinsi/Kabupaten/Kota), pembayar (organisasi a suransi sosial, perusahaan asuransi milik pemerintah dan swasta), penyedia layanan (RSUD/RSJD/RSUP/RS Swasta dan Puskesmas), supplier (pemasok obat dan alat kesehatan milik pemerintah dan swasta serta kontraktor, juga pasien/masyarakat.

Dari penelitian kasus 2006-2008, kasus korupsi yang dilakukan oleh penyedia layanan ada 34 kasus, regulator lokal 27 kasus, kontraktor 9 kasus, supplier 3 kasus. Untuk level menengah ke atas belum ada yang ditangkap, kata Ratna Kusumaningsih.

Modus korupsi antara lain de ngan melakukan penggelembungan dana yang merugikan negara hingga Rp 102, 9 miliar, manipulasi data obat Rp 9 miliar, penggelapan data Rp 6,4 miliar, penyelewengan dana Rp 6,2 miliar, obat fiktif Rp 1,9 miliar, alat kesehatan fiktif Rp 699 juta, penyalahgu naan wewenang Rp 399 juta, penyuapan Rp 294 juta.

Waskat

Sementara itu, menurut Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari, untuk menghindari korupsi di Departemen Kesehatan sejak 2007-2008 dilakukan pengawasan melekat. BPK diminta memeriksa semua tender-tender di Depkes setiap tahunnya.

Yang menyedihkan itu di daerah-daerah. Kepala Dinas Kesehatan kan di bawah kekuasaan Gubernur, Bupati/Walikota. Kalau Kepala Dinas Kesehatan dapat dana dekonsentrasi untuk pembelian alat dari pusat, mereka terjepit oleh kepentingan Pemda. Kalau tidak nurut, dia bisa dipecat oleh Pemda. Sistem seperti ini yang rawan korupsi, kata Menkes.

Kepala Dinas Kesehatan menjadi tidak berdaya, padahal yang bermasalah Pemda-nya, terutama saat pilkada terkait pencarian dana pilkada. Tapi tidak semua kepala daerah seperti itu. Sekarang a da 34 Kepala Dinas Kesehatan yang sekarang diperiksa kejaksaan. Kasihan mereka. Sistem seperti ini tidak adil. Jadi kalau seperti ini, kita belum siap desentralisasi kesehatan, kata Menkes. (LOK) KOMPAS – Jumat, 21 Nopember 2008